Rabu, 11 November 2015

PRAKTIKUM ILMU GULMA KOMPETISI

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM ILMU GULMA
KOMPETISI














Khayatu Khoiri
05121407020












PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN 
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kompetisi berasal dari kata competere yang berarti mencari atau mengejar sesuatu yang secara bersamaan dibutuhkan oleh lebih dari satu pencari. Persaingan (kompetisi) pada tanaman menerangkan kejadian yang menjurus pada hambatan pertumbuhan tanaman yang timbul dari asosiasi lebih dari satu tanaman dan tumbuhan lain. Persaingan terjadi bila kedua individu mempunyai kebutuhan sarana pertumbuhan yang sama sedangkan lingkungan tidak menyediakan kebutuhan tersebut dalam jumlah yang cukup. Persaingan ini akan berakibat negatif atau menghambat pertumbuhan individu-individu yang terlibat.
Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumberdaya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing, sedangkan Molles (2002) kompetisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik.


B. Tujuan
Adapun tujuan dalam praktikum Ilmu Gulma tentang Kompetisi ini ialah Untuk mengetahui penurunan hasil karena kompetisi dan Untuk mengetahui penguasaan sarana tumbuh relatif.





II. TINJAUAN PUSTAKA
Gulma adalah suatu tumbuhan lain yang tumbuh pada lahan tanaman budidaya, tumbuhan yang tumbuh disekitar tanaman pokok (tanaman yang sengaja ditanam) atau semua tumbuhan yang tumbuh pada tempat (area) yang tidak diinginkan oleh sipenanam sehingga kehadirannya dapat merugikan tanaman lain yang ada di dekat  atau disekitar tanaman pokok tersebut.  Pendapat para ahli gulma yang lain  ada yang mengatakan  bahwa gulma disebut juga sebagai tumbuhan pengganggu  atau tumbuhan yang belum diketahui manfaatnya, tidak diinginkan dan menimbulkan kerugian (Herianto. 2013).
Kompetisi adalah persaingan untuk memperebutkan sesuatu. Ada jenis kompetisi yang intrasfesipik dan interspesifik. Kompetisi intraspesifik atau yang sesama jenis adalah interaksi negative yang terjadi pada tumbuh-tumbuhan dengan jenis yang sama. Kompetisi interspesifik atau antar jenis merupakan interaksi negative yang terjadi pada tumbuh-tumbuhan yang berbeda jenis (Ahmad. 2013).
Kompetisi dapat terjadi jika salah satu dari dua atau lebih lebih organisme yang hidupnya bersama-sama membutuhkan faktor lingkungan yang sangat terbatas persediaannya dan tidak mencukupi untuk kebutuhan bersama. Dalam keadaan seperti ini, kedua organisme akan saling berinteraksi. Dengan membatasi definisi hanya terhadap persaingan ada beberapa faktor lingkungan yang berada dalam keadaan terbatas jumlahnya, maka kompetisi dapat dibedakan dengan gangguan yang termasuk didalamnya alelopati kecuali pada beberapa keadaan seperti yng dijumpai pada jenis umbi-umbian, kompetisi ruang yang sebenarnya tidak ditemui melainkan kompetisi akan sesuatu yang terdapat didalam ruang seperti hara, air, cahaya, CO2, dan O2 (Tim. 2014).
Dalam berkompetisi untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya, ada beberapa spesies gulma yang mampu menurunkan kemampuan daya kompetisinya dari tumbuhan lain dengan cara melepaskan alelopat. Alelopat merupakan senyawa kimia yang dikeluarkan oleh tumbuhan yang dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan di sekitarnya. Alelopat dapat menghambat perbanyakan dan pembelahan sel, penyerapan hara dan mineral, laju fotosintesis, sintesis protein serta dapat memperpanjang daya tahan hidup biji – bijian gulma di dalam tanah. Seresah gulma yang memiliki senyawa alelopat dapat mempengaruhi perkecambahan biji tumbuhan yang ada di sekitarnya. Hal ini terjadi karena senyawa alelopat menyebabkan terjadinya penurunan permeabilitas membran biji sehingga imbibisi air dan udara mengalami hambatan. Besarnya pengaruh alelopat yang diberikan tergantung pada jenis jaringan atau organ tumbuhan karena senyawa alelopat yang dihasilkan tidak tersebar secara merata dalam tubuh tumbuhan (Siska. 2012).
Menurut Kuntohartono (1987), Kehadiran gulma pada lahan pertanian  atau pada lahan perkebunan dapat menimbulkan berbagai masalah. Secara umum masalah-masalah yang ditimbulkan  gulma pada lahan tanaman budidaya ataupun tanaman pokok adalah sebagai berikut.
1. Terjadinya kompetisi atau persaingan dengan tanaman pokok (tanaman budidaya)   dalam hal:  penyerapan zat makanan atau unsur-unsur hara di dalam tanah,  penangkapan cahaya, penyerapan air dan ruang tempat tumbuh.
 2. Sebagian besar tumbuhan gulma  dapat mengeluarkan zat atau cairan yang bersifat  toksin (racun), berupa senyawa kimia yang dapat mengganggu dan menghambat pertumbuhan tanaman lain disekitarnya. Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah allelopati.
3. Sebagai tempat hidup atau inang, maupun tempat berlindung hewan-hewan kecil, insekta dan hama sehingga memungkinkan hewan-hewan tersebut dapat berkembang biak dengan baik. Akibatnya hama tersebut akan menyerang dan memakan tanaman pokok ataupun tanaman budidaya.
4. Mempersulit pekerjaan diwaktu panen maupun pada saat pemupukan.
5. Dapat menurunkan kualitas produksi (hasil) dari tanaman budidaya, misalnya dengan tercampurnya  biji-biji dari gulma yang kecil dengan biji tanaman budidaya.




III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Adapun waktu pelaksanaan praktikum Ilmu Gulma tentang kompetisi ini di lakukan pada tanggal 25 September 2014 Sampai dengan selesai bertempat di lahan budidaya pertanian fakultas Pertanian universitas Sriwijaya

B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ilmu gulma tentang kompetisi diantaranya ialah Cangkul, Polibag, Pupuk kotoran hewan, alat tulis.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ilmu gulma tentang kompetisi ialah polibeq, benih kacang hijau dan jagung.


C. Metode / Cara Kerja
Metode :
Untuk mendapatkan penurunan hasil kacang hijau digunakan metode aditif yaitu dengan menambahkan kerapatan gulma (jagung) yang berbeda yaitu 0, 2, 4, 8, dan 16 individu setiap pot. Untuk mendapatkan data daya kompetisi kacang hijau dengan gulma (Jagung) digunakan metode dinamik yang dikembangkan oleh Baumer and De wit, yaitu dengan menanam kacang hijau dan gulma (jagung) secara monokultur (Tidak campuran).
Cara kerja
1. Siapkan polibag ukuran 10 kg sebanyak 120 buah
2. Siapkan media tanam berupa top soil dan pupuk kotoran hewan.
3. Pembuatan media, yaitu mencampur top soil dengan pukotwan secara
merata dengan perbandingan volume 4:1
4. Mengisi polibag dengan media tanam sampai 3/4 bagian.
5. Menanam secara campuran antara jagung dengan kacang hijau yaitu :
Kc. Hijau 2 4 8 16
Jagung 14 12 8 0 sebanyak 48 unit
perlakuan (pot)
6. Menanam secara monokultur tanaman jagung dengan populasi setiap pot
14, 12, dan 8 sebanyak 36 unit perlakuan (pot).
7. Menanam secara monokultur tanaman Kc. hijau dengan populasi setiap
pot 2, 4, dan 8 sebanyak 36 unit perlakuan (pot).
8. Dipelihara!( jangan sampai kekeringan, jangan sampai ada tumbuhan
selain yang ditanaman (jagung + Kc. Hijau), jangan sampai rusak/mati
karena fisik, hama/penyakit atau penyebab yang lain, yang tidak tumbuh
disulam tiga (3) setelah tanam).























IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Perlakuan : polikultur jagung dan kacang hijau = 8 : 8
No Jagung
Tinggi tanaman jagung
Jumlah daun Kacang hijau
Tinggi tanaman Kacang hijau
Jumlah daun
1 30 6 25 6
2 24 5 23 6
3 35 6 25 6
4 36 6 17 4
5 25 6 18 5
6 30 5 20 7
7 27 5 26 6
8 28 5 30 6



Perlakuan monokultur jagung  = 14
No Tinggi tanaman Jumlah daun
1 34 6
2 32 5
3 24 4
4 23 5
5 20 4
6 25 5
7 25 5
8 22 6
9 23 6
10 18 5
11 20 5
12 23 5
13 19 6
14 21 5






Perlakuan monokultur jagung = 8
No Tinggi tanaman Jumlah daun
1 23 5
2 25 6
3 28 6
4 27 5
5 23 5
6 25 5
7 20 4
8 22 5









Monokultur kacang hijau = 8
No Tinggi tanaman Jumlah daun
1 25 4
2 25 4
3 27 5
4 27 5
5 24 5
6 22 4
7 21 4
8 15 4







Hasil pengamatan berat kering dan berat basah setiap polibeq
Polibeq Berat basah Berat kerig
1 17.560 g 10,476 g
2 75,570 g 44,761 g
3 60,467 g 37,675 g
4 17,559 g 9,976 g
Ket :
Polibeq 1 = Perlakuan polikultur jagung dan kacang hijau = 8 : 8
Polibeq 2 = Perlakuan monokultur jagung  = 14
Polibeq 3 = Perlakuan monokultur jagung = 8
Polibeq 4 = Monokultur kacang hijau = 8

Diagram perbandingan berat basah dan berat kering antar polibeq




B. Pembahasan
Dari hasi pengamaan terhadap pertumbuhan jagung dan kacang hijau dari keduanya yang lebih kuat untuk berkompetisi ialah tanaman jagung di bandingkan dengan tanaman kacang hijau hal itu karena tanaman jagung memiliki akar serabut yangmampu menyerap unsure hara dibandingkan dengan akar kacang hiaju. Kemampuan tanaman jagung untuk bersaing dengan komonditas tanaman lainyapu cukup banyak.
Jagung merupakan tanaman hortikultura yang mana tanaman ini mampu menghasilkan karboohidrat Kompetisi yang terjadi antara tanaman jagung dan kacang hijau. Kompetisi tersebut dapat berbentuk perebutan sumber daya yang terbatas (resource competition) atau saling menyakiti antar indifidu yang sejenis dengan kekuatan fisik (interference competition). Kompetisi yang terjadi antara individu sejenis disebut sebagai kompetisi intraspesifik sedangakan interaksi antara individuyang tidak sejenis disebut interaksi interspesifik.
Persaingan tumbuhan dalam suatu spesies mampu di liat pada jarak antar tumbuhan. di mana sebenarnya persaingan yang paling keras terjadi antara tumbuhan yang sama spesiesnya, sehingga tegakan besar dari sepesies tunggal sangat jarang di temukan di alam. Persaingan antar tumbuhan yang sejenis ini mempengaruhi pertumbuhannya karena pada umumnya bersifat merugikan
Kompetisi antara tanaman tersebut terjadi karena faktor tumbuh yang terbatas. Faktor yang dikompetisikan antara lain hara, cahaya, CO2, cahaya dan ruang tumbuh. Besarnya daya kompetisi tumbuhan kompetitor tergantung pada beberapa faktor  antara lain jumlah individu dan berat tanaman kompetitor, siklus hidup tanaman kompetitor, periode tanaman, dan jenis tanaman. Oleh karena itu dalam praktikum ini kita akan mengetahui faktor penentu apa saja yang berpengaruh terhadap tanaman jagung dan kacang hijau yang di amati serta interaksi yang terjadi diantara keduanya.
Kecepatan perkecambahan biji tumbuhan dan pertumbuhan anakan (seedling) merupakan suatu faktor yang menentukan kemampuan spesies tumbuhan tertentu untuk menghadapi dan menaggulangi persaingan yang terjadi. Apabila suatu tanaman berkecambah terlebih dahulu di banding suatu tanaman yang lain maka tanaman yang tumbuh lebih dahulu dapat menyebar lebih luas sehingga mampu memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara tanah lebih banyak di bandingkan dengan yang lain.
Dalam artian yang luas persaingan ditunjukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Persaingan ini dapat terjadi antara indifidu yang sejenis ataupun antara indifidu yang berbeda jenis. Persaingan yang terjadi antara individu yang sejenis disebut dengan persaingan intraspesifik sedangkan persaingan yang terjadi antara individu yang berbeda jenisnya disebut sebagai persaingan interspesifik.
Persaingan yang terjadi antara organisme-organisme tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan hidupnya, dalam hal ini bersifat merugikan. Setiap organisme yang berinteraksi akan di rugikan jika sumber daya alam menjadi terbatas jumlahnya. Yang jadi penyebab terjadinya persaingan antara lain makanan atau zat hara, sinar matahari, dan lain – lain. Faktor-fator intraspesifik merupakan mekanisme interaksi dari dalam individu organisme yang turut mengendalikan kelimpahan populasi. Pada hakikatnya mekanisme intraspesifik yang di maksud merupakan perubahan biologi yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Sedangkan dari perbandingan data berat basah dan berat kering tanaman berbeda nyata antar perlakuan, perlakuan yang memiliki nilai paling tinggi yaitu pada monokultu kacang hijau : 8 memiliki berat kering dan basah yang lebih tinggi yaitu 40 % dari jumlah keseluruhan perlakuan hal tersebut menunjukan bahwa dengan penanaman yang sedemikian maka kompetisi berjalan dengan sedikit sehingga tanaman mampu berkembang sendiri sehingga kebutuhan akan unsurhara dalam satu polibeq terpenuhi.
Pada perlakuan polikultur tanaman jagung dan kacang hijau menunjukan keadaan yang tak sebanding yang mana berat kering dan berat basah berbeda dengan perlakuan yang lainnya sehingga dalam polibeq ini terjadi persaingan antar jenis tanaman yang berbeda jenis maupun sama jenis, itulah hasil pengamatan yang telah dilakukan dalam praktikum ilmu gulma tentang kompetisi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumberdaya yang bersifat terbatas.
2. Gulma adalah suatu tumbuhan yang merugikan bagi tanaman budidaya.
3. Pada perlakuan polikultu jagung dan kacang hijau memiliki penurunan yang tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya.
4. Gulma merupakan tempat tinggal bagi inang penyakit maupun insek yang berukuran kecil.
5. Faktor yang di persaingkan antar tumbuhan ialah  hara, cahaya, CO2, cahaya dan ruang tumbuh.

B. Saran
Dalam pelaksanaan praktikum hendaknya dipersiapkan dahulu bahan dan alat yang akan digunakan dalam praktikum supaya praktikum bisa berjalan sesuai dengan prosedurnya, serta pengamatan harus dilakukan dengan ulet supaya mendapatkan hasil yang bagus.








DAFTAR PUSTAKA
Ahmad.2013. Kalibrasi. http://arekpekalongan.blogspot.com/2013/10/kalibrasi.html diakses pada tanggal 15-november-2014.
Herianto. 2013. Pengendalian Gulma.  http://b4ro3s.blogspot.com/2013/04/ pengendalian-gulma.html diakses 26-november-2014.
Siska. 2012. Kalibrasi Herbisida. http://naneuntetylicious. blogspot.com/2012/10/ kalibrasi-herbisida-kimia.htmldiakses 26-november-2014.
Kuntohartono. 1987. Pergesaran Gulma di Kebun Tebu dan Penanggulangannya. Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula. Pasuruan. 7 hal
Tim. 2014. Penuntun Praktikum Pengendalian Gulma. UNIB: Bengkulu.







LAMPIRAN
 
Tanaman jagu perlakuan monokultur tanaman kacang hijau monokultur

 
Proses penimbangan berat basah proses pengopenan tanaman

 
Proses penimbanganberat kering pengamatan awal tanamn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar