LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
DASAR-DASAR AGRONOMI
PERBANYAKAN TANAMAN SECARA VEGETATIF
Oleh:
KHAYATU KHOIRI
05121407020
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2013
I. PENDAHULUANA. Latar Belakang
Pemahaman tentang konsep dan aspek pada Mata Diklat Dasar-Dasar Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif merupakan salah satu bagian yang penting dalam kegiatan perbanyakan tanaman secara vegetatif. Pengetahuan tentang konsep perbanyakan tanaman secara vegetatif sangat penting untuk diketahui agar dapat dipahami pengertian perbanyakan tanaman secara vegetatif dan membedakan pengelompokan dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif. Selain itu, juga perlu didukung pengetahuan tentang arti penting dari perbanyakan tanaman secara vegetatif agar dapat dipahami perlunya dilakukan perbanyakan tanaman secara vegetatif ditinjau dari aspek anatomi, fisiologi, dan genetik. Pemahaman tentang konsep perbanyakan tanaman secara vegetatif juga perlu didukung dengan pengetahuan tentang teknik-teknik yang dapat digunakan dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif.
Perbanyakan tanaman secara vegetatif juga perlu pemahaman tentang pengatahuan aspek-aspek pentingnya meliputi aspek anatomi, fisiologi, dan genetik. Aspek anatomi perbanyakan tanaman secara vegetatif berkaitan dengan pengetahuan struktur internal dari akar, batang, dan daun untuk memahami proses terbentuknya akar adventif pada stek dan cangkok dan terbentuknya penyatuan sambungan pada penyusuan, okulasi, dan sambungan. Aspek fisiologi perbanyakan tanaman secara vegetatif yang perlu diketahui adalah peranan secara fisiologis berbagai hormon tanaman dalam mempengaruhi proses pertumbuhan hasil perbanyakan tanaman. Aspek genetik perbanyakan tanaman secara vegetatif berkaitan dengan keseragaman dan keragaman secara genetik tanaman yang diperbanyak secara vegetatif. Ketiga aspek tersebut apabila dipahami dengan benar diharapkan akan menunjang keberhasilan dalam pelaksanaan perbanyakan tanaman secara vegetatif.
Perbanyakan secara vegtatif memiliki beberapa metode , antara lain :
• Penyetekan ( stek batang, daun, dan akar)
• Penyammbungan ( grafting)
• Okulasi (budding)
• Merunduk
• Kiltur jaringan
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui dan menearapkan salah satu cara perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian batang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Sebagai alternarif perbanyakan vegetatif buatan, stek lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif buatan lainnya. Cara perbanyakan dengan metode stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stres lingkungan dan adanya sifat plagiotrop tanaman yang masih bertahan (Dwidjoseputro, 1990).
Bagian tanaman yang digunakan untuk stek adalah bagian akar tanaman induk. Tanaman yang bisa diperbanyak dengan stek akar adalah tanaman sukun (Artocarpus communis Forst.), cemara (Casuarina equisetifolia), jambu buji (Psidium guajava L.), jeruk keprok (Citrus nobilis Lour.), dan kesemek (Diospyros kakiThumb.). Tanaman-tanaman tersebut dapat diperbanyak dengan stek akar karena akarnya diperkaya dengan kuntum adventif yang setiap saat dapat tumbuh. Contohnya, sebagian akar berada di atas permukaan tanah (Sumiasrih, 2005).
Penyiapan bibit stek tanaman meliputi langkah-langkah pemilihan pohon induk dan pengambilan akar tanaman. Secara terperinci kegitan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut. Untuk memperoleh yang baik dan produktif, diperlukan bibit tanaman yang baik pula. Bibit tanaman yang baik hanya dihasilkan tanaman induk yang baik. dapun syarat-syarat tanaman yang dapat digunakan sebagai pohon induk adalah sebagai berikut:
a. Umur tanaman sudah mencapai 6-10 tahun
b. Tanaman tumbuh sehat tahan terhadap serangan hama dan penyakit
c. Tanaman berbuah lebat setiap tahun dan memiliki mutu buah yang baik
d. Berasal dari varietas yang dibutuhkan
e. Tanaman ditanam pada tanah yang gembur
f. Tanaman memiliki perakaran yang sehat dan banyak, serta dipilih akar permukaan
g. Pohon sedang tidak dalam keadaan berbunga atau berbuah (Aliadi, 1990).
Hampir semua bagian tanaman dapat dipakai sebagai stek, tetapi yang sering dipakai adalah batang muda yang subur. Mudahnya stek berakar tergantung kepada spesiesnya. Ada yang mudah sekali berakar cukup dengan medium air saja. Tetapi banyak pula yang sukar berakar, bahkan tidak berakar walaupun dengan perlakuan khusus. Kesuburan dan banyaknya akar yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh asal bahan steknya yaitu bagian tanaman yang dipergunakan, keadaan tanaman yang diambil steknya, dan keadaan luar waktu pengambilan (Hasanah, 2007).
Terbentuknya akar pada stek merupakan indikasi keberhasilan dari stek. Adapun hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan pertumbuhan stek adalah faktor lingkungan dan faktor dari dalam tanaman (Huik, 2004).
Suatu percobaan dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan Zat
Pengatur Tumbuh (Rootone-F) dan media terhadap cangkokan.
Realitanya bahwa cangkokan dengan perlakuan media tanah dengan
pemberian Rootone-F menyebabkan akar lebih cepat keluar dan jumlahnya lebih
banyak, kondisi yang sama juga dapat dilihat pada media tanah + kompos dengan
Rootone-F. Kondisi sebaliknya terjadi pada kedua media tanpa Rootone-F akar
akan lebih lambat keluar dan jumlahnya sedikit. Hal ini dapat dijelaskan bahwa
Rootone-F merupakan salah satu zat pengatur tumbuh untuk induksi perakaran. (Abidin Z, 1983)
Perbanyakan dengan cara stek adalah perbanyakan tanaman dengan menumbuhkan potongan/bagian tanaman seperti akar, batang atau pucuk sehingga menjadi tanaman baru. Stek pucuk umum dilakukan untuk perbanyakan tanaman buah-buahan. Dengan kata lain setek atau potongan adalah menumbuhkan bagian atau potongan tanaman, sehingga menjadi tanaman baru (Yustina, 1994).
1. Keuntungan bibit dari setek adalah:
Tanaman buah-buahan tersebut akan mempunyai sifat yang persis sama dengan induknya, terutama dalam hal bentuk buah, ukuran, warna dan rasanya. Tanaman asal setek ini bisa ditanam pada tempat yang permukaan air tanahnya dangkal, karena tanaman asal setek tidak mempunyai akar tunggang.
Perbanyakan tanaman buah dengan setek merupakan cara perbanyakan yang praktis dan mudah dilakukan.
Setek dapat dikerjakan dengan cepat, murah, mudah dan tidak memerlukan teknik
khusus seperti pada cara cangkok dan okulasi.
2. Kerugian bibit dari setek adalah:
Perakaran dangkal dan tidak ada akar tunggang, saat terjadi angin kencang tanaman menjadi mudah roboh.
Ada beberapa perlakuan untuk mempercepat pertumbuhan akar pada setek antara lain :
1. Pengeratan (girdling) pada batang
Penimbunan karbohidrat pada cabang pohon induk yang akan dijadikan setek dapat dilakukan dengan cara pengeratan kulit kayu sekeliling cabang dibuang secara melingkar. Lebar lingkaran sekitar 2 cm. Jarak dari ujung cabang ke batas keratan kirakira 40 cm. Biarkan cabang yang sudah dikerat selama 2-4 minggu. Pada dasar keratan akan tampak benjolan atau kalus. Pada benjolan inilah terjadi penumpukan karbohidrat yang berfungsi sebagai sumber tenaga pada saat pembentukan akar dan hormon auksin yang dibuat di daun. Setelah terlihat benjolan barulah cabang bisa dipotong dari induknya. Bagian pangkal cabang sepanjang 20 cm bisa dijadikan sebagai setek.
2. Penggunaan hormon tumbuh
Hormon auksin bertindak sebagai pendorong awal proses inisiasi atau terjadinya akar. Sesungguhnya tanaman sendiri menghasilkan hormon, yaitu auksin endogen.Akan tetapi banyaknya auksin yang dihasilkan belum cukup memadai untuk mendorong pembentukan akar.Tambahan auksin dari luar diperlukan untuk memacu perakaran setek.
3. Persemaian setek
Setek yang sudah diberi perlakuan hormon penumbuh akar siap untuk disemaikan. Untuk itu kita perlu menyediakan tempat yang kondisinya sesuai. Usaha untuk menumbuhkan setek perlu dilakukan pada lingkungan yang mempunyai cahaya baur atau terpencar (diffuse light). Kelembaban udara sebaiknya tinggi, sekitar 70-90%, Suhu mendekati suhu kamar, 25-27oC. Selain itu dalam pembentukan akar setek diperlukan juga oksigen yang cukup.
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan Waktu
Adapun Praktikum Sarana Produksi ini dilaksanakan pada hari Kamis, 2013 pukul 10.00 – selesai bertempat di Ruang Kuliah Zona C , Program Studi Agroekoteknologi , Fakultas Pertanian , Universitas Sriwijaya , Palembang.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah : 1). Pisau Cutter, 2). Plastik Es Lilin dan 4). Plastik gula ukuran 1 kg.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah ; tanaman yang dapat diperbanyak secara vegetative (pada praktikum kali ini bahan yang akan dijadikan percobaan yaitu tanaman puring-puring (Codiaeum variegatum) batang atas dan batang bawah berbeda jenis). Cari tanaman yang telah memiliki minimal 3 cabang dengan panjang cabang antara 10-30 cm.
C. Cara Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang telah ditentukan
2. Pilih batang bawah yang memiliki ukuran yang sama dengan batang atas untuk dilakukan penyambungan.
3. Potong batang atas dengan panjang 5-10 cm dan sisakan 2-3 daun, dan potong batang bawah 5-10 cm dari pangkal cabang.
4. Potongan bagian ujung batang dibelah ± 1-2 cm, dan pangkal batang atas yang akan disambungkan dibuat runcing pipih.
5. Satukan antara batang bawah dengan batang atas dengan cara memasukkan batang atas disela-sela batang bawah yang telah dibelah tadi.
6. Ikat kuat dengan plastic es lilin. Jangan sampai goyang.
7. Bungkusi dengan plastic gula ukuran 1 kg untuk menjaga kelembaban.
8. Letakkan ditempat teduh.
9. amati selama 3 minggu dengan interval 1 minggu 1 kali
10. catat hasilnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Tanggal
Pengamatan
Ke-
Hidup
Mati
Deskripsi Tanaman
7 Mei
1
Iya
-
Dauan segar
14 Mei
2
Iya
-
Daun segar
16 Mei
3
iya
-
Daun segar
B. Pembahasan
perbanyakan tanaman yang lebih mudah dilakukan pada pembiakan vegetatif adalah dengan melakukan penyetekkan yaitu memotong bagian tanaman induk untuk dapat menghasilkan tanaman yang baru tetapi dalam stek tanaman yang dihasilkan sifatnya sama dengan tanaman induknya.
Tujuan dari pemotomngan miring tersebut adalah Karena agar dapat mempercepat pembentukan kalus yang dapat menutup luka setelah itu tanaman dapat membentuk akar yang dapt menyerap unsur hara yang ada didalam tanah.
Tanaman yang telah disetek tidak ada yang mati, ini dikarenakan lingkunagan yang cocok untuk menunjang tanaman tersebut hidup dengan menjaga suhu, kelembaban serta kebutuhan air bagi tanaman ( dimasukan dalam wadah yang sudah dirancang sedemikian rupa untuk menyimpan tanaman khususnya penyetekan).
Perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan tanaman yang menggunakan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti akar, batang dan daun. Beberapa cara perbanyakan vegetatif yang dipergunakan dalam praktikum acara I kali ini adalah penyambungan dan penempelan (Grafting dan Budding), mencangkok dan menyetek. Perbanyakan dengan cara ini cukup efektif dalam rangka memperoleh hasil keturunan yang lebih baik dibandingkan kedua induknya.
Faktor dari lingkungan juga perlu diatur agar berada pada kondisi optimum bagi tumbuh tanaman yaitu kondisi terbaik bagi tanaman. Selain itu, dalam penyetekan diusahakan di lakukan pada waktu pagi hari yaitu bahan dari stek tersebut dalam keadaan atau kondisi turgid.
Perbanyakan stek batang adalah perbanyakan vegetatif dengan cara memotong batang lalu ditanam pada media tanam yang sesuai dengan jenis tanamannya. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah tanaman jeruk (Citrus sp). Syarat pemilihan batang yaitu batang berumur kurang lebih satu tahun karena pada cabang yang terlalu tua sangat sulit untuk membentuk akar, sedangkan pada cabang yang terlalu muda prosos penguapannya terlalu cepat sehingga stek menjadi lemah dan mati. Pada percobaan stek batang dilakukan dua perlakuan. Perlakuan pertama yaitu sebelum stek ditanam, stek di celupkan pada air biasa. Sedangkan perlakuan yang kedua yaitu pemberian zat pengatur tumbuh (IBA). Pada percobaan stek batang kali ini presentase keberhasilan sebesar 100 % pada stek batang kontrol dan 100 % pada stek batang dengan penambahan IBA. Dari hasil percobaan, presentase keberhasilan ditunjukkan pada stek batang kontrol bukan stek dengan penambahan IBA. Karena pada stek batang dengan penambahan IBA pembuatan lubang tanam terlalu besar daripada diameter batang, sehingga larutan IBA kemungkinan tidak menempel pada batang dan menyebabkan batang tidak terangsang tumbuh akar.
Pada prinsipnya cara perbanyakan tanaman dengan stek daun sama dengan cangkok yaitu tanpa usaha untuk memperbaiki sifat sehingga diperoleh tanaman dengan sifat sama dengan induknya. Keuntungan metode ini adalah bahan yang digunakan sedikit tetapi dapat diperoleh bibit tanaman dalam jumlah banyak dan caranya tidak begitu rumit sehingga mudah dilakukan oleh siapa pun.
Grafting atau enting merupakan istilah asing yaitu menggabungkan batang bawah dan batang atas dari tanaman yang berbeda sedemikian rupa sehingga tercapai persenyawaan dan kombinasi untuk membentuk tanaman baru. Sedangkan budding adalah memindahkan sebuah mata tunas ke pangkal bawah tanaman lain yang sejenis (famili) untuk memperoleh tanaman yang mempunyai sifat gabungan antara kedua tanaman itu. Pada bagian scion dilakukan pengurangan jumlah daun untuk mengurangi penguapan. Kemudian pada bagian scion diberi sungkup plastik hingga menutupi penyambungan untuk memperkecil resiko kegagalan dan memberi lubang pada plastik agar transpirasi udara tetap berjalan. Keuntungan dalam perbanyakan tanaman dengan cara grafting yaitu diperoleh tanaman yang mempunyai akar kuat dan tahan terhadap hama serta bagian atas yang memiliki produktivitas tinggi. Sedangkan kekurangan dalam grafting yaitu sulit mencocokkan bagian batang yang besarnya sama dan sulit dalam proses penyatuan dua komponen yang berbeda. Pada sambung pucuk ini memiliki tingkat keberhasilan yang rendah. Berdasarkan tabel percobaan yang ada keberhasilan proses sambung pucuk hanya sebesar 32%. Sifat yang harus diperhatikan agar perbanyakan tanaman dengan cara sambung pucuk dapat berhasil yaitu kesesuaian besar cabang atas dan cabang bawah, kesterilan pada sambungan serta ketersediaan air yang ada untuk penyerapan akar tanaman.supaya penyambungan dapat berhasil dengan baik, cambium dari scion dan stock harus bersinggungan satu dengan yang lain.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1.Perbanyakan vegetatif yang bertujuan untuk mendapatkan hasil, yaitu kualitas dan sifat-sifat tanaman yang sama dengan induknya dapat dilakukan dengan cara stek batang, stek daun dan cangkok.
2.Dari hasil percobaan rata-rata persentase yang tinggi dalam perbanyakan vegetatif yang dilakukan adalah stek daun. Karena teknik ini paling mudah dilakukan dan tidak memerlukan keahlian khusus.
3.Persentase yang paling rendah adalah sambung pucuk (grafting) karena diperlukan kecermatan yang lebih dan keahlian dalam melakukan perbanyakan dengan cara ini.
4.Untuk mendapatkan bibit yang berkualitas yang sifatnya sama dengan induknya serta dapat memberi hasil secara cepat maka dapat dilakukan dengan cara perbanyakan secara vegetatif buatan. Namun perlu diperhatikan kondisi batang yang akan diperbanyak, perlakuan saat perbanyakan serta perlu memperhatikan kondisi lingkungan tumbuh sekitar.
B. SARAN
Berikan kembali pengetahuan kepada praktikan, apakah yang telah di dapat dalam pengamatan tersebut dan faktor-faktor apa saja yang dapat menghambat dari pengamatan tersebut, Berikan pengetahuan kepada praktikan bagaimana cara memilih puring yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Aliadi, A., et al. 1990. Kemungkinan Penangkapan Edeilweis (Anaphalis javanica (BI.) Boerl.) dengan Stek Batang. Media Konservasi Vol. 3(1) : 37 – 45.
Hasanah, F. N,. 2007. Pembentukan Akar pada Stek Batang Nilam (Pogostemon cablin Benth.) setelah direndam Iba (Indol Butyric Acid) pada Konsentrasi Berbeda. Buletin Anatomi dan Fisiologi Vol 15 (2) : 1-5.
Huik, E.M. 2004. Pengaruh Rootone – F dan Ukuran Diameter Stek terhadap Pertumbuhan dari Stek Batang Jati (Tectona Grandis L.F). Agronomy Journal Vol. 3(1) : 12-15.
Susriasi, N. Tingkat Pencemaran Tanah oleh Pestisida di Daerah Pertanian Sayuran. Makalah yang disajikan dalam seminar Nasional Pencemaran Tanah Akibat Pupuk yang diselenggarakan oleh UNDIP, di Universitas Diponegoro, Semarang: 29 Oktober 2004.
Widodo. Pencemaran air raksa (Hg) sebagai dampak pengolahan bijih emas di Sungai Ciliunggunung, Waluran, Kabupaten Sukabumi.Jurnal Geologi Vol. 131 (1-3): 475 – 487.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar