LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT
Nama : Khayatu Khoiri Tanggal : 26 Maret 2015
NIM : 05121407020 Asisten : 1. Aji Artanto
Kelas : Palembang 2. Anita Sari
Judul : Perbanyakan Jamur Entomopatogen Pada 3. Lilian Riskie
Media Padat GYA 4. Linda Sari
5. Rezalina Indra P
6. Windy Lumban G
7. Andri Purniawan
8. Pebrianta Tarigan
Nilai :
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam ekosistem pertanian terdapat kelompok makhluk hidup yang tergolong predator, parasitoid, dan patogen. Ketiga kelompok makhluk hidup yang disebut musuh alami tersebut mampu mengendalikan populasi hama. Tanpa bekerjanya musuh alami, hama akan memperbanyak diri dengan cepat sehingga dapat merusak tanaman. Predator merupakan kelompok musuh alami yang sepanjang hidupnya akan memakan mangsanya.
Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan cara menggunakan pestisida nabati dan dapat pula menggunakan musuh alami dari hama. Musuh alami hama dapat berupa parasitoid maupun mikroorganisme lainnya. Penggunaan musuh alami memang tidak seefektif apabila menggunakan pestisida kimia , tetapi kelebihan dari menggunakan musuh alami adalah lebih ramah lingkungan dan lebih ekonomis karena dapat mengurangi biaya produksi pertanian, yaitu dari biaya pengendalian hama pada tanaman budidaya.
Musuh alami dari hama yang dapat digunakan adalah jamur .Jamur yang dapat mengendalikan serangga biasa disebut dengan jamur entomopatogen.Beberapa jenis jamur dapat dimanfaatkan sebagai agen pengendali hama. Karena sebagian jamur memiliki kemampuan untuk mengganggu fungsi fisiologis serangga. Bahkan dapat bersifat mematikan bagi serangga hama. Jamur entomopatogen menyerang serangga yang masih hidup, kemudian ia akan mengganggu fungsi fisiologis serangga. Setelah jamur membuat serangga mati, jamur masih dapat hidup bahkan setelah serangga berubah menjadi bangkai.
Salah satu alternatif pengendalian yang dapat digunakan adalah dengan pathogen serangga, khususnya jamur entomopatogen Beauveria bassiana. Efektivitas Beauveria bassiana sebagai pengendali sejumlah serangga hama sudah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian. Pemanfaatan Beauveria bassiana dalam pengendalian hama tungau di Indonesia masih sangat terbatas karena lebih mengandalkan pestisida kimia, terutama untuk hama tungau yang menyerang tanaman hias di rumah kaca. Sebaliknya untuk serangan tungau pada tanaman yang ada di lapang seperti, tomat, cabe, terong, dan lain-lain lebih sering diabaikan atau tidak dikendalikan karena dianggap hanya merusak daun yang tidak mempengaruhi hasil. Kerusakan akibat serangan hama tungau dapat lebih parah, sebab hama tersebut dapat menularkan penyakit virus daun karena beberapa spesies tertentu tungau juga berperan sebagai vektor virus.
B. Tujuan
Tujuan dalam praktikum ini adalah untuk peremajaan dan perbanyakan biakan mumi jamur entomopatogen di media padat
II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul jamur entomopatogen pada media padat dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2015 pukul 10:00 WIB dilaboratorium Insect Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini ialah LAF, Alkohol, Erlenmeyer, Cawan petri, Pinset, Isolasi, Bunsen, 250 ml Aquades, 1,3gr Tepung tenebrio, 5 gr Agar, 2,5 gr gula, 1 gr yeast, isolate mumi jamur entomopatogen, Alumunium foil, Amoxcilin, Plastik, dan karet.
C. Cara Kerja
1. masukan bahan-bahan kedalam Erlenmeyer lalu tutup dengan alumunium foil tutup lagi dengan plastic, dan karet.
2. cawan petri dan Erlenmeyer berisi bahan diautoclave
3. setelah diautoclave bahan dituang ke cawan petri tunggu hingga media mengeras baru isolasi
4. reisolasi jamur entomopatogen ke media baru.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil yang didapatkan setelah dilakukan pengamatan ialah sebagai berikut :
Foto Keterangan
jamur didalam cawan petri telah berkembang biak, jamur memiliki warna putih dan berhifa.
perbanyakan jamur tidak berhasil yang dicirikan dengan adanya kontaminasi dan warna yang berbeda, kontaminasi tersebut diakibatkan karena tidak steril saat proses perbanyakan jamur.
B. Pembahasan
Pada praktikum perbanyakan jamur entomopatogen pada media padat ini didapatkan jamur Beauveria bassiana, yang dicirikan dengan memiliki warna putih, berhifa serta bergrombol tebal. jamur Beauveria bassiana merupakan jamur mikroskopik dengan tubuh berbentuk benang-benang halus (hifa). Jamur ini tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, oleh karena itu dia bersifat parasit terhadap serangga inangnya. Jamur ini umumnya ditemukan pada serangga yang hidup di dalam tanah, tetapi juga mampu menyerang serangga pada tanaman atau pohon.
Perbanyakan jamur entomopatogen dilakukan dengan cara masukan bahan-bahan yang telah direkomendasikan kedalam Erlenmeyer lalu tutup dengan alumunium foil tutup lagi dengan plastic, dan dikaretin, kemudian cawan petri dan Erlenmeyer yang berisi bahan diautoclave. Setelah diautoclave bahan dituang ke cawan petri tunggu hingga media mengeras baru isolasi dan yang terakhir reisolasi jamur entomopatogen ke media baru.
Setelah reisolasi dilakukan maka tunggu hingga jamur muncul, apabila kemunculan jamur memiliki warna yang berbeda seperti praktikum yang telah dilakukan maka pada saat reisolasi kemungkinan terjadi kontaminasi sehingga jamur Beauveria bassiana tidak seteril, kontaminasi dapat diakibatkan oleh bakteri, jamur yang tidak dikehendaki dan lain-lain, sehingga hasilnya tidak sempurna.
Pada praktikum perbanyakan jamur entomopatogen di media padat kali ini telah terjadi kesalahan pada saat proses re-isolasi. Hal tersebut dapat diketahui dengan tumbuhnya bakteri di media padat GYA yang di inkubasikan. Kesalahan ini dapat terjadi karena beberapa sebab diantaranya yaitu saat re-isolasi terlalu lama proses pembukaan media GYA, saat isolasi terlalu jauh dari api bunsen, ataupun terlalu besar permukaan cawan yang dibuka saat re-isolasi berlangsung.
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dalam praktikum adalah sebagai berikut:
1. jamur entomopatogen yang tumbuh pada media GYA adalah jenis dari Beauveria bassiana
2. jamur Beauveria bassiana dicirikan dengan hifanya yang berwarna putih,
3. pada saat re-isolasi telah terjadi kontaminasi
4. kontaminasi dapat terjadi karena saat re-isolasi terlalu lebar proses pembukaan media GYA, saat isolasi terlalu jauh dari api bunsen, ataupun terlalu besar permukaan cawan yang dibuka saat re-isolasi berlangsung.
5. Beauveria bassiana merupakan jamur mikroskopik dengan tubuh berbentuk benang-benang halus.
B. Saran
Pada proses isolasi maupun re-isolasi mikroba jamur entomopatogen haruslah steril dari kontaminan mikroba lainnya supaya perbanyakan jamur yang dilakukan berhasil. Untuk itu saat proses isolasi dan re-isolasi tersebut haruslah benar dan diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan yang mengakibatkan terjadinya kontaminasi mikroba yang tidak diharapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar