Rabu, 11 November 2015

Perbanyakan Jamur Antagonis di Media Padat (GYA)

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 9 April 2015
NIM : 05121407020  Asisten    :  1. Aji Artanto
Kelas : Palembang          2. Anita Sari
Judul : Perbanyakan Jamur Antagonis di Media          3. Lilian Riskie
 Padat (GYA)            4. Linda Sari
          5. Rezalina Indra P
          6. Windy Lumban G
          7. Andri Purniawan
          8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanaman ada yang sehat, layu hingga menjadi mati. Ini menjadi persoalan bagi petani, matinya tanaman jelas tidak akan menghasilkan, dampaknya si petani merugi. Waktu, tenaga dan fikiran yang dicurahkan untuk kegiatan bertani habis percuma ketika tanaman mati.
Bagi petani yang mau berfikir tentang masalah itu pasti akan mencari akar permasalahan kenapa tanaman layu, hingga menjadi mati. Petani kreatif selalu bertanya kepada para ahli penyakit tanaman, bahwa tanaman yang layu salah satu penyebabnya jamur yang mematikan tanaman.
Tanah merupakan habitat berbagai mikroorganisme seperti dari golongan jamur, serangga, nematoda, bakteri, dan banyak mikroorganisme lain. Jamur termasuk golongan yang cukup dominan di dalam tanah, baik perananya sebagai patogen tanaman, dekomposer, bahkan sebagai agen pengendali hayati. Jamur di dalam tanah yang berperan sebagai agen pengendali hayati dapat diisolasi agar diperoleh isolat murni. Jamur agen hayati tular tanah dikelompokkan sebagai jamur patogen serangga (entomopatogen) dan antagonis. Penentuan sampel tanah sangat penting dalam keberhasilan mendapatkan jamur pengendali hayati. Setiap jamur agen hayati memiliki kekhasan jenis, struktur, dan komposisi tanah sebagai habitatnya.
Jamur antagonis adalah kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman. Mekanisme jamur antagonis dalam menghambat patogen tanaman dapat melalui antibiosis, lisis, kompetisi, dan parasitisme. Di samping itu, jamur antagonis mampu mencegah infeksi patogen terhadap tanaman melalui aktivitas Induce Sistemic Resistance (ISR).
Eksplorasi merupakan langkah awal untuk mendapatkan antagonis yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menentukan waktu, tempat, metode, serta penanganan sampel hasil eksplorasi. Selanjutnya, jamur antagonis hasil eksplorasi perlu diuji di laboratorium (in vitro), rumah kasa (in planta), dan di lapangan (in situ). Jamur antagonis yang terpilih sebaiknya memilki sifat: dapat menghambat pertumbuhan patogen tanaman, berkecambah dan tumbuh dengan cepat, tahan atau toleran terhadap antagonis lain, persisten dalam keadaan ekstrim, dapat diproduksi secara massal, dan tidak menyebabkan gangguan terhadap tanaman.
Beberapa jamur antagonis mampu tumbuh pada bahan tanaman yang telah lapuk, bahan tanaman sakit, bahkan dapat tumbuh pada badan buah patogen tanaman tertentu. Jamur antagonis yang paling sering tumbuh pada kondisi seperti ini adalh genus trichoderma. Antagonis ini biasanya ditandai dengan tumbuhnya koloni berwarna hijau pada media tempat tumbuhnya. Koloni jamur yang diduga sebagai antagonis ini diisolasi di laboratorium dengan menanamkannya pada media Dextrose Agar (PDA) dan diinkubasikan selama 3-5 hari. Koloni yang tumbuh diidentifikasi secara makroskopis dengan mengamati tipe dan warna koloni, dan secara mikroskopis dengan mengamati struktur hifa, bentuk dan ukuran pialid dan konidia.

B. Tujuan
Praktikum bertujuan untuk mendapatkan biakan murni jamur antagonis dimedia padat GYA.

II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul Perbanyakan Jamur Antagonis dimedia padat (GYA) dilaksanakan pada tanggal 09 April 2015 pukul 10:00 WIB sampai dengan selesai, dilaboratorium Fitopatologi Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum adalah LAF, cawan petri, pinset, Bunsen, isolasi, dan baiklin, sedangkan bahan yang digunakan adalah 20 gram gula, 10 gram yearst, 1 bungkus agar, 1 liter air seteril ( Aquades).

C. Cara Kerja
1. siapkan biakan jamur antagonis
2. masukan kedalam cawan petri, setelah media padat siap lalu lakukan perbanyakan jamur antagonis.
3. perbanyakan jamur antagonis dilakukan di laminar air flow serta hidupkan Bunsen untuk menseterilisasi alat yang digunakan.
4. buka secara perlahan tutup cawan petri media padat kemudian putar-putar dibelakang Bunsen dan ambil sedikit biakan jamur antagonis dengan pinset, lalu masukan kedalam cawan petri yang berisi media padat lalu putar-putar kembali dibelakang Bunsen.
5. kemudian cawan petri diisolasi , lalu diberi label nama praktikan.




III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
GAMBAR KETERANGAN

jamur yang dibiakan adalah jamur yang bersifat antagonis
komposisi media yang digunakan adalah 20 g gula dan 10 g yeart, agar dan aquadest
perbanyakan jamur dilaksanakan dilaminar air flow
kesterilisasian adalah aspek utama dalam perbanyakan jamur antagonis ini
dari hasil yang didapatkan perbanyakan jamur tidak berhasil, karena media terkontaminasi dan di penuhi oleh air yang diakibatkan ditutup dengan plastik.







B. Pembahasan
Pada praktikum pengelolaan hayati dengan judul perbanyakan jamur antagonis dimedia padat PDA didapatkan bahwasanya perbanyakan jamur antogonis tidak berhasil hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan dari proses isolasi dan tempat penyimpanannya, yang diketahui bahwasanya setelah dilakukan pengamatan jamur ang berada di media padat tersebut dikumpulkan menjadi satu dalam sekelas, kemudian ditutup menggunakan plastic sehingga keadaan nya mengguap dan terdapat air didalam cawan petri tersebut sehingga perbanyakan jamur antagonis tidak berhasil.
Jamur antagonis merupakan kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman. Mekanisme jamur antagonis dalam menghambat patogen tanaman dapat melalui antibiosis, lisis, kompetisi, dan parasitisme. Di samping itu, jamur antagonis mampu mencegah infeksi patogen terhadap tanaman melalui aktivitas Induce Sistemic Resistance (ISR).
Eksplorasi merupakan langkah awal untuk mendapatkan antagonis yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menentukan waktu, tempat, metode, serta penanganan sampel hasil eksplorasi. Selanjutnya, jamur antagonis hasil eksplorasi perlu diuji di laboratorium. Jamur antagonis yang terpilih sebaiknya memilki sifat dapat menghambat pertumbuhan patogen tanaman, berkecambah dan tumbuh dengan cepat, tahan atau toleran terhadap antagonis lain, persisten dalam keadaan ekstrim, dapat diproduksi secara massal, dan tidak menyebabkan gangguan terhadap tanaman.
Dalam proses perbanyakan jamur antagonis dimedia padat menggunakan bahan yaitu 20 gram gula, 10 gram yearst, 1 bungkus agar, 1 liter air seteril ( Aquades), proses perbanyakan jamur antagonis dilakukan didalam Laminar air flow agar jamur yang didapatkan tidak terkontaminasi, didalam laminar air flow proses perbanyakan dibantu dengan menggunakan Bunsen yang digunakan untuk mensterilisasikan alat alat yang akan digunakan seperti cawan petri, pinset, proses pensterilisasian dilakukan dibelakang Bunsen.

IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dalam praktikum perbanyakan jamur antogonis dimedia padat adalah sebagai berikut ini :
1. Jamur antagonis merupakan kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman.
2. perbanyakan jamur dilaksanakan didalam laminar air flow.
3. kesterilisasian adalah aspek utama dalam perbanyakan jamur antagonis.
4. perbanyakan jamur antagonis dimedia padat tidak berhasil yang diakibatkan terkontaminasi
5. ciri perbanyakan jamur Antagonis yang baguas adalah berwarna coklat kehitaman.

B. Saran
Saran dalam mengikuti praktikum hendaknya dilakukan dengan teliti dan menjaga kesterilisasian alat dan bahan serta lingkungan supaya dalam proses perbanyakan jamur antagonis dimedia padat dapat berhasil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar