MAKALAH
PENGARUH PH MASAM DAN PENGAPURAN
PADA TANAMAN UBI KAYU DI LAHAN KERING
KELOMPOK 4
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
KATA PENGANTARPuji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “PENGARUH PH MASAM DAN PENGAPURAN PADA TANAMAN UBI KAYU DI LAHAN KERING”
Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas mata kuliah dasar dasar ilmu tanah yang bertema tentang “PH DAN PENGAPURAN”. Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki . Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Palembang, 20 April 2013
Kelompok 4
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ..................................................................................................................i
Daftar Isi ..........................................................................................................................i.i
I. Pendahuluan ..................................................................................................................1
A. Latar Belakang ............................................................................................................1
B. Tujuan ..........................................................................................................................2
II. Tin jauan Pustaka .........................................................................................................3
III. Pembahasan ................................................................................................................5
IV. Kesimpulan .................................................................................................................7
Daftar Pustaka ..................................................................................................................8
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lahan di Indonesia mempunyai spesifikasi yang beraneka ragam. Secara prinsip tanaman ubi kayu sangat mudah hidup dan beradaptasi. Akan tetapi kondisi lahan juga sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman sengon itu sendiri, khususnya pada lahan dengan pH masam atau sangat rendah. Agar pertumbuhan tanaman ubi kayu atau albasia bisa tumbuh dengan optimal maka pH tanah harus dinetralkan terlebih dahulu.
Perbaikan pH tanah bisa diakatakan menyelesaikan 50% masalah kesuburan tanah. Salah satu cara meningkatkan pH tanah dengan pengapuran menggunakan kapur pertanian (kaptan) atau dolomit.
Selain alih fungsi, lahan sawah yang selama ini sudah terlanjur dianggap sebagai tulang punggung pertanian dan penghasil pangan nasional, nampaknya sudah mulai sakit-sakitan karena jenuh oleh masukan pupuk buatan/kimia yang berlebih dalam rangka memacu pemenuhan produksi beras.
Penggunaan pupuk buatan/kimia yang ber konsentrasi tinggi dan tidak proporsional pada lahan kering berdampak pada penimpangan status hara dalam tanah. Dampak lain adalah menyusutnya kandungan bahan organik tanah karena berkurangnya penggunaan pupuk organik.
Reaksi tanah yang masam menjadi masalah di Indonesia. Kemasaman tanah dibagi atas keasaman aktif dan keasaman potensial. Kemasaman aktif disebabkan oleh ion H larutan tanah, sedangkan kemasaman potensial olehion Al dan H pada kompleks jerapan. Nilai kemasaman aktif dapat ditetapkan dengan larutan H2O dan kemasaman potensial dengan larutan 1N KCl.
Berdasarkan berbagai masalah tanah masam yang telah dikemukakan dalam bab sebelumnya, maka prinsip utama pengelolaan tanah masam adalah menaikkan pH tanah dan mengurangi kejenuhan Al yang meracun, serta meningkatkan ketersediaan hara tanaman, terutama unsur hara P sehingga sesuai dengan pertumbuhan tanaman yang optimal.
Dari berbagai hasil peneletian tentang pemanfaatan tanah masam di dunia, termasuk indonesia, dapat dinyatakan bahwa tekhnologi yang paling tepat untuk mengendalikan masalah tanah masam adalah teknologi pengapuran.
Pengapuran di nyatakan sebagai teknologi yang paling tapat dalam pemanfaatan tanah masam di dasarkan atas beberapa pertimbangan. pertama, rekasi kapur sangat cepat dalam menaikkan pH tanah dan menurunkan kelarutan Al yang meracun. Kedua, respons tanaman sangat tinggi terhadap pemberian kapur pada tanah masam. Ketiga, efek sisa kapur atau manfaat kapur dapat dinikmati selama 3 sampai 4 tahun berikutnya. Keempat, bahan kapur cukup tersedia dan relatif murah, termasuk di indonesia.
Kemasaman tanah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: bahan induk tanah yang bereaksi masam, tingkat pelapukan, curah hujan, dan intensitas pengunaan lahan. Makin tinggi tingkat pelapukan, makin tinggi curah hujan dan makin intensif penggunaan lahan pertanian, maka makin besar kemungkinan berkembangnya tanah-tanah masam.
Tercucinya kation-kation basa dari kompleks jerapan menyebabkan kation-kation H+ dan Al3+ menjadi dominan, sehingga tanah menjadi masam. Dahulu orang beranggapan bahwa keamsaman tanah semata-mata disebabkan oleh ion H+, kemudian terbukti selain ion H+ tersebut, kemasaman tanah disebabkan oleh oleh aktivitas ion Al3+. Pemberian kapur yang dilokalisir di daerah perakaran tanaman yang difungsikan sebagai pupuk Ca, dosis kapur yang diperlukan akan jauh lebih rendah daro pada yang ditunjukkan untuk merubah ph tanah seluruh lahan.
B. Tujuan
Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh pH masam dan pengapuran pada tanaman ubi kayu yang ditanam di lahan kering, dan efektifitas pengapuran terhadap serapan hara.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ didalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+. pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-, sedang pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- , maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7 (Hutasoid, 1997).
Nilai pH berkisar dari 0-14 dengan pH 7 disebut netral sedangkan pH kurang dari 7 disebut masam dan pH lebih dari 7 disebut alkalis. Walaupun dcmikian pH tanah umumnya berkisar dari 3,0-9,0. Di Indonesia unumnya tanahnya bereaksi masam dengan 4,0 – 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 sering telah dikatakan cukup netral `meskipun sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sangat masam karena banyak mengandung asam sulfat. Di daerah yang sangat kering kadang-kadang pH tanah sangat tinggi (pH lebih dari 9,0) karena banyak mengandung garam Na (Hutasoid, 1997).
Hasil pengukuran pH H2O tanah menunjukkan terdapat beda nyata antar perlakuan. Tanah yang tidak diperlakukan dengan budidaya organik menunjukkan kecenderungan pH lebih rendah. Lebih rendahnya pH pada pertanian non organik disebabkan pemakaian pupuk pabrik terutama urea yang makin lama akan memasamkan tanah. Bahan organik mempunyai daya sangga (buffer capacity) yang besar sehingga apabila tanah cukup mengandung komponen ini, maka pH tanah relatif stabil (Utami dan Handayani, 2003).
Pengapuran meningkatkan ketersediaan unsur hara fosfor, molidenium, kalsium dan magnesium untuk diserap oleh tanaman, bersamaan dengan itu konsentrasi besi, aluminum dan mangan sangat dikurangi. Ketiga, kapur menstimulasi aktivitas mikroorganisme tanah heterotrofik, sehingga mempunyai efek biologis yang besar bagi proses biokimia tanah. Proses dekomposisi dan penyediaan unsur nitrogen meningkat. Stimulasi enzimatis meningkatkan pembentukan humus yang berperan penting dalam meningkatkan kapasitas tukar kation tanah. Bakteri simbiotik akan meningkat aktivitasnya berkenaan dengan adanya kenaikan Ph.
Tanah Ultisol (Podsolik merah kuning) sangat potensial sebagai lahan untuk produksi ubi kayu, baik secara intensifasikasi maupun ekstensifikasi. Di lahan kering Ultisol dengan pH tanah di bawah 5,5 hara P, K, Ca, Mg, S banyak terfiksasi atau tidak tersedia bagi tanaman, sedangkan kadar ion Fe dan Al selalu berharkat “sangat tinggi” atau berlebihan. Kadar ion Fe dan Al dalam tanah yang sangat tinggi dapat meracun tanaman dan ion Fe yang terlalu banyak diserap tanaman dapat menghambat serapan hara-hara yang lain (Brady, 1992).
Pada tanaman ubi kayu, hara P sangat diperlukan dalam pembentukan dalam pembentukan dan perkembangan akar ( S’upardi, 1983).
Bersama hara K penting dalam proses metabolisme, berperan dalampeningkatan kandungan pati dalam umbi dan penurunan kadar HCN dalam umbi peningkatan serapan hara PK oleh tanaman sangat diperlukan untuk memperoleh hasil umbi yang optimal. Pengapuran merupakan salah satu cara untuk meningkatak ketersediaan hara P dalam tanah . Namun demikian, untuk mengubah kondisi tanah dari masam mendekati netral diperlukan lebih dari 3 ton kapur per hektar per musim tanam (Supardi,1983)
Hal tersebut terlalu sulit untuk dilaksanakan, pemberian kapur yang dilokalisir di daerah pengakaran tanaman yang difungsikan sebagai pupuk Ca , dosis kapur yang diperlukan akan jauh lebih rendah daripada yang ditujukkan untuk merubah pH tanah seluruh lahan.ion Ca yang berasal dari kapur yang diberikan didaerah pengakaran tanaman dapat mendesak Fe dari senyawa ferofosfat hingga terbentuk kalsium fosfat (Ca3PO4) yang lebih mudah tersedia bagi tanaman. Disamping itu, hara Ca juga merupakan salah satu hara tanaman yang esensial bagi tanaman ubi kayu disamping hara NPKS (Howeler,1981).
III. PEMBAHASAN
Rata-rata hasil umbi percobaan di Metro, MT 2003 mampu mencapai di atas 35 t/ha dan di Tulangbawang sekitar 30 t/ha, sedang percobaan MT 2004 hasilnya masih dibawah 20 t/ha, baik di Metro maupun di Tulangbawang (Tabel 2). Padahal potensi ubikayu pada umumnya diatas 35 t/ha bahkan ada yang dapat mencapai 60 t/ha (Nur Basuki dan Guritno, 1990).
Hasil penelitian di tanah Inseptisol masam Pati Jawa Tengah, rata-rata hasil umbi mencapai lebih dari 45 t/ha (Ispandi, 2004). Rendahnya hasil umbi percobaan MT 2004 terutama disebabkan oleh berkurangnya curah hujan selama proses pembentukan umbi. Percobaan MT 2004 yang ditanam pada bulan Februari 2004, empat - lima bulan awal pertumbuhan mendapatkan curah hujan yang cukup sehingga mampu membentuk tinggi tanaman yang tidak jauh berbeda dengan tinggi tanaman percobaan MT 2003. Selanjutnya pada bulan ke enam sampai ke delapan mengalami kekeringan yang menyebabkan stagnasi pertumbuhan dan hampir ¾ bagian daun berguguran. Proses pembesaran umbi hanya berlangsung sekitar 2 bulan menjelang panen sehingga tidak mampu menunjang tanaman untuk memproduksi umbi secara optimal. Panen dilakukan pada umur 10 bulan sehingga hal inilah yang menyebabkan hasil umbi percobaan MT 2004 sangat rendah bila dibandingkan dengan percobaan MT 2003. Percobaan yang dilaksanakan pada MT 2003 selama 6 bulan menjelang panen mendapatkan curah bujan yang cukup sehingga mampu memproduksi umbi secara optimal.
Pemberian kapur sampai dengan dosis 300 kg/ha dapat meningkatkan hasil umbi secara nyata. Hal ini terlihat, baik di lokasi Metro maupun Tulangbawang, pada MT 2003 maupun MT 2004 (Tabel 2). Pemberian kapur 300 kg/ha, di lokasi Metro, MT 2003, dapat meningkatkan hasil umbi sekitar 20%, di Tulangbawang peningkatannya sekitar 16% sedangkan pada MT 2004, di lokasi Metro, peningkatannya sekitar 16%, dan di Tulangbawang sekitar 15%. Bila dosis kapur ditingkatkan menjadi 600 kg/ha sudah tidak dapat meningkatkan hasil umbi.
Tabel 2.
MT 2003
Klon Ubi Kayu Hasil umbi (t/ha) di metro
Dosis Kapur (kg/ha) Hasil umbi t/ha di Tulangbawang
Dosis kapur (kg/ha)
0 300 600 0 300 600
UJ-5
CMM 95014-13
CMM 95042-3
CMM 96037-275
MLG-10152 31,37
34,86
30,71
30,53
36,75 39,84
48,11
38,44
31,13
40,36 38,54
42,89
37,62
35,73
42,44 24,39
25,53
28,39
24,04
30,51 26,73
30,98
33,61
35,02
28,02 24,95
28,48
29,44
31,11
25,30
Rata-rata 32,84b 39,56a 39,44a 26,59 b 30,87a 27,85ab
MT 2004
Klon Ubi Kayu Hasil umbi (t/ha) di metro
Dosis Kapur (kg/ha) Hasil umbi t/ha di Tulangbawang
Dosis kapur (kg/ha)
0 300 600 0 300 600
UJ-4
CMM 95014-13
CMM 95042-3
CMM 96037-275
BIC 137 15,87
16,30
18,30
14,47
11,70 16,63
19,77
19,27
18,90
13,83 16,30
15,73
20,47
18,43
14,50 16,13
14,77
17,87
15,37
12,70 19,53
15,80
17,73
18,37
16,63 16,57
19,76
18,13
18,37
13,17
Rata-rata 15,21b 17,68a 17,08ab 15,36b 17,61a 17,20ab
Klon Ubikayu Metro 2003 Tulangbawang 2003 Metro 2004 Tulangbawang 2004
UJ-5 /UJ-4
CMM 95014-13
CMM 95042-3
CMM 96037-275
MLG-10152/ BIC137 36,58 abc
40,95 a
35,59 bc
32,46 c
39,85 ab 25,36 ab
28,33 a
30,48 a
30,06 a
18,94 b 16,27
17,27
19,35
17,22
13,34 17,41
16,37
17,91
17,37
14,17
Keterangan: MT 2003: Metro: KK =16,6% BNT 5%: Ca = 4,71 Klon = 4,72 Int. Klon x Ca = t.n. T.bawang: KK= 14,0% BNT5%: Ca = 3,04 Klon = 7,2 Int.klon x Ca = t.n.
MT 2004: Metro: KK = 14,5% BNT 5%: Ca = 2,36 Klon = t.n. Int. Klon x Ca = t.n.
T.bawang: KK= 14,3% BNT5%: Ca = 2,23 Klon = t.n. Int. Klon x Ca = t.n.
Angka-angka yang bernotasi sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf BNT 5%.
Dari kelima klon yang digunakan dalam percobaan ini, hanya hasil percobaan MT 2003 yang menunjukkan perbedaan nyata, sedang percobaan 2004 tidak menunjukkan perbedaan nyata satu sama lain (Tabel 2). Tabel 2 menunjukkan bahwa reaksinya terhadap lingkungan tumbuh satu sama lain tidak sama. Dari percobaan MT 2003, dengan pengapuran 300 kg/ha, di Metro hasil umbi tertinggi dicapai oleh klon CMM 95014 -13 yaitu 48,11 t/ha, tetapi di Tulangbawang klon tersebut hanya mampu menghasilkan 30,98 t/ha dan hasil umbi tertinggi dicapai oleh klon CMM 96037-275 yaitu 35,02 t/ha. Dari percobban MT 2004, pengapuran 300 kg/ha, di lokasi Metro, hasil umbi tertinggi dicapai oleh klon CMM 95014-13 yaitu 19,77 t/ha, tetapi di lokasi Tulangbawang dicapai oleh klon UJ-4 yaitu 19,53t/ha (Tabel 2). Dengan demikian, dari hasil percobaan MT 2003 dan MT 3004, klon terbaik adalah CMM 95014-13 dan diikuti klon UJ-4 dan CMM 96037-275.
Panjang umbi masing-masing klon sebenarnya ada perbedaan nyata secara statistik. Namun demkian, parameter panjang umbi bukan merupakan tolok ukur tingginya kualitas umbi dan yang menentukan tingginya kualitas umbi adalah besar umbi. Umbi yang panjangnya lebih dari 40 cm sudah dikatagorikan kurang baik. Panjang umbi yang dikehendaki petani produsen atau pengguna hanya sekitar 30 cm dan maksimum tidak lebih dari 40 cm. Oleh karena itu, klon yang mampu menghasilkan umbi dengan panjang umbi lebih dari 40 cm belum tentu dianggap lebih baik daripada klon yang hanya mampu menghasilkan umbi dengan panjang sekitar 30 cm.
IV. KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pemberian kapur di tanah masam dapat meningkatkan ketersediaan hara dalam tanah seperti P, K, Mg, S dan meningkatkan ketersediaan hara P dalam tanah .
2. Kadar pati dalam umbi dari tanaman yang tanpa kapur tidak jauh beda yang diberikan kapur 300 kg/ha maupun yang diberi kapur 600 kg/ha
3 Pengapuran dengan dosis 300kg/ha mampu meningkatkan jumlah umbi pertanaman , diameter umbi dan hasil umbi daripada tanpa yang pengapuran .
4. Faktor lingkungan tumbuh lebih menentukan tinggi rendahnya jumlah umbi per tanaman dari pada sifat genetiknya
5.Ketersediaan optimal untuk hara K pada pH tanah > 6 meskipun pada pH < 6 sampai 5,5 sudah dapat tersedia tetapi konsentrasinya sangat rendah.
B. Saran
Kapur yang diberikan difungsikan nsebagai pupuk Ca dan untuk merubah kondisi lingkungan tumbuh di daerah perakaran, oleh karena itu pemberiannya dilakukan dengan cara dilokasisir didekat tanaman. Faktor lingkungantumbuh lebih menentukan tinggi rendahnya jumlah umbi pertanaman dari pada genetiknya. Pengapuran harus sesuai ph yang kurang dari 6.
DAFTAR PUSTAKA
Brady, C.N. 1992. The nature and properties of soil. Mac Millan Pub. Co, Newyork.621p.
Howeler, R.H. 1981. Mineral nutrition and fertilization of cassava.CIAT.Columbia. 50p.
Hutasoit T.G.M. 1997. Tanah Pertanian di Indonesia.Edisi khusus Majalah Editor.Jakarta.
Supandi G.1983. Sifat dan ciri tanah. Institut Pertanian Bogor. 591h.
Utami dan Handayani.2003. pH dan pengapuran. Gajah Mada University press,Yogyakarta. 443h.
LAMPIRAN
KELOMPOK 4 :
1. M. CATUR AGUNG S. (05121407007)
2. JUAN FITRA (05121407009)
3. YUDY SETIAWAN (05121407014)
4. KHAYATU KHOIRI (05121407020)
5. AMALIA PUTRI P. (05121407021)
6. HENDRIANSYAH (05121407027)
7. DIAH NURUL UTAMI (05121407030)
8. JAKOB SITUMEANG (05121407036)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar