Rabu, 11 November 2015

Pemeliharaan Mumi Kutu Daun Cabai Aphis gossypii

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 12 Maret 2015
NIM : 05121407020  Asisten    :  1. Aji Artanto
Kelas : Palembang          2. Anita Sari
Judul : Pemeliharaan Mumi Kutu Daun Cabai          3. Lilian Riskie
 Aphis gossypii            4. Linda Sari
          5. Rezalina Indra P
          6. Windy Lumban G
          7. Andri Purniawan
          8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hiperparasitoid merupakan komponen penting yang mempengaruhi kelimpahan populasi parasitoid yang memarasit kutu daun. Tekanan hiper-parasitoid pada parasitoid kutu daun dapat mencapai lebih dari 95% (Irsan2001a).  Godfray & Muller (1998) menyatakan bahwa dalam menentukan dinamika populasi parasitoid dan inangnya harus memperhitungkan keberadaan hiperparasitoid. Keberadaan hiperparasitoid pada koloni kutudaun erat kaitannya denganperiode waktu asosiasi parasitoiddengan koloni kutudaun.
Makin lama parasitoid berasosiasi dengan koloni kutudaun akan semakin tinggi populasi hiperparasitoid yang ada di koloni kutu daun tersebut (Irsan 2001a).  Sejauh ini belum ada informasiyang menyatakan sisi positif darikeberadaan hiperparasitoid di suatuhabitat. Jika diketahui sisi positif keberadaan hiperparasitoid di suatuhabitat, maka akan muncul suatu teoriatau gagasan baru yang akan berguna untuk memanfaatkan keberadaan hiperparasitoid tersebut..
Selain menjadi hama utama, kutu daun persik juga berperan sebaggai penular (vektor) penyakit virus, terutama virus yang menggulung daun kentang atau Potato Leaf Roll Virus (PLRV) dan Potato Virus Y (PVY). Kutu daun persik berukuran kecil, hidup bergerombol dibawah permukaan daun atau pucuk. Kutu daun berkembang biak secara perkawinan biasa dan partogenesis.
Siklus hidup hama ini berlangsung dalam waktu 7-10 hari. Kutu daun persik mempunyai dua bentuk, yaitu bersayap (alatae) dan tidak bersayap (apterae). Bentuk yang bersayap berwarna hitam, sedangkan yang tidak bersayap bervariasi, yaitu merah, kuning, dan hijau. Cirri khas kutu daun persik adalah sepasang antenna yang relatif panjang (sepanjang tubuhnya), dan tonjolan (kornikel) berwarna hitam yang terdapat pada ujung abdomen. Kutu daun persik dapat menyebabkan kerugian secara langsung, dengan cara mengisap cairan tanaman. Gejala yang ditimbulkan adalah daun menjadi keriput, berwarna kekuning-kuningan, terpuntir, dan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil). Ledakan hama ini terjadi pada musim kemarau. Tanaman yang terserang akan menjadi layu atau mati.

B. Tujuan
Adapu tujuan dari praktikum ini adalah Untuk mengetahui bentuk dan jenis parasitoid mumi kutu daun Aphis gossipii














II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul pemeliharaan mumi kutu daun cabai Aphis gossypii dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2015 pukul  10:00 WIB dilaboratorium Insect Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ialah 1. mumi kutu daun, 2. tabung film, 3. kamera, 4. microscop.

C. Cara Kerja
1. masukan mumi kutu daun kedalam tabung film
2. tutup rapat dan amati kurang lebih enam hari
3. foto parasitoid yang keluar dari mumi












III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil yang didapatkan dari praktikum adalah sebagai berikut:
Hari Foto Keterangan
1 Mumi kutu daun berwarna abu-abu keemasan.
2 Bentuk mumi kutu daun kembung.
3 Mumi kutu daun semakin mengembung terlihat lebih besar dari sebelumnya.
4 Mumi kutu daun mengembung dan warna daun cabai mulai menguning.
5 Mumi kutu daun terlihat mulai berlubang dan daun cabai membusuk.
6 Imago mumi kutu daun sudah terlihat.
B. Pembahasan
Dalam praktikum pemeliharaan mumi kutu daun cabai Aphis ghossypii didapatkan bahwasanya mumi yang digunakan yaitu mumi kutu daun yang berasal dari tanaman cabai dengan menempatkan yang ada mumi kutu daun ke tabung filem untuk diadakanya pengamatan. Keberadaan parasitoid dicirikan dengan adanya mumi yang terbentuk, kemudian mumi dibawa ke laboratorium untuk dipelihara dan diidentifikasi. Parasitoid dikoleksi dengan memasukkan mumi ke dalam tabung film  transparan untuk kemudian dibiarkan sampai imagonya muncul. Mumi kutu daun yang diamati ialah mumi yang masih utuh yang belum menunjukkan adanya lubang keluar imago parasitoid maupun hiperparasitoid. Imago parasitoid dapat dibedakan dengan imago hiperparasitoid berdasarkan ukuran tubuhnya.
Tubuh imago parasitoid relatif besar dibandingkan dengan hiperparasitoid dan memiliki tergit yang jelas, sebaliknya tubuh imago hiperparasitoid ukurannya lebih kecil dari pada parasitoid dan tergetnya tidak kelihatan. Mumi dipelihara sampai muncul imago parasitoid atau hiperparasitoid. Imago parasitoid maupun hiperparasitoid yang amati kemudian diidentifikasi spesiesnya, lalu dipelihara dan dengan diberi pakan madu. Hiperparasitoid didapat dari koloni kutu daun yang sama. Jenis hiperparasitoid itu ditentukan berdasarkan bentuk mumi dan lubang keluar imago parasitoid ketika meninggalkan mumi. Lubang keluar parasitoid tepinya rata dan letaknya berada di bagian tertentu dari mumi, biasanya di sisi dorsal atau sisi lateral abdomen, sedangkan lubang keluar hiperparasitoid tepinya tidak rata dan letak lubang keluar tidak dibagian tertentu, lubang keluar dapat ditemukan di toraks, di sisi lateral abdomen atau sisi dorsal abdomen.
Mumi kutu daun yang diparasit oleh parasitoid yang tergolong famili Aphidiidae berwarna abu-abu keemasan dengan bentuk agak membulat. Mumi kutu daun yang diparasit oleh parasitoid yang tergolong famili Aphelinidae bentuknya seperti kutu daun normal tetapi warnanya berubah menjadi hitam kecuali bagian kepala, antena dan tungkai.
Pada praktikum ini didapatkan bahwasanya mumi kutu daun dapat berkembang dan tumbuh memerlukan waktu kurang lebih enam hari, setelah waktu tersebut hiperparasitoid yang muncul danberkembang tersebut akan terbang untuk mencari mangsanya, selama pengamatan mumi kutu daun berkembang dengam memanfaatkan daun tang ditempelinya dan dihisap cairan dalam daun tersebut hal ini terbukti bahwa selama pengamatan daun yang tadinya segar menjadi kuning dan akhirnya membusuk, setelah itu imago mumi kutu daun akan keluar dari mumi tersebut dan berkembang menjadi parasitoid maupun hiperparasitoid dengan demikian mumi yang didapatkan tersebut bisa dijadikan musuh alami bagi hama lain karena mumi tersebut mengeluarkan imago yang nantinya menjadi parasitoid.






















IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. hiperparasitoid merupakan komponen penting yang mempengaruhi kelimpahan populasi parasitoid yang memarasit kutu daun.
2. mumi kutu daun berwarna abu-abu keemasan.
3. mumi kutu daun yang diparasit oleh parasitoid merupakan famili Aphidiidae.
4. tubuh imago parasitoid relatif besar dibandingkan dengan hiperparasitoid.
5. mumi kutu daun berkembang kurang lebih enam hari.

B. Saran
Adapun saran dalam praktikum ini hendaknya pengamatan mumi kutu daun dilakaukan secara mandiri supaya mengetahui secara mendalam dalam melihat kecadian perubahan mumi kutu daun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar