Rabu, 11 November 2015

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM ILMU GULMA ORGAN PERBANYAKAN VEGETATIF (OPV)

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM ILMU GULMA
ORGAN PERBANYAKAN VEGETATIF (OPV)













Khayatu Khoiri
05121407020








PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2014
                                                                                                                                                 I.          PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Kehadiran gulma pada suatu pertanaman berkaitan dengan deposit biji gulma di dalam tanah. Biji gulma dapat tersimpan dan bertahan hidup selama puluhan tahun dalam kondisi dorman, dan akan berkecambah ketika kondisi lingkungan dapat mematahkan dormansi itu, yaitu jika syarat perkecambahan dapat terenuhi. Untuk perkecambahan biji gulma perlu; cahaya, air, suhu, oksigen dan kelembaban. Terangkatnya biji gulma ke lapisan atas permukaan tanah maka akan mendapatkan cahaya dan oksigen, serta tersedianya kelembaban yang sesuai untuk perkecambahan mendorong gulma untuk tumbuh dan berkembang.
Biji spesies gulma semusim (annual spesies) dapat bertahan dalam tanah selama bertahun-tahun sebagai cadangan benih hidup atau variabel seeds (Melinda at al. 1998). Biji gulma yang ditemukan di makam Mesir yang telah berumur ribuan tahun masih dapat menghasilkan kecambah yang sehat. Jumlah biji gulma yang terdapat dalam tanah mencapai ratusan juta biji (Direktorat Jendral Perkebunan 1976). Karena benih gulma dapat terakumulasi dalam tanah, maka kepadatannya terus meningkat (Kropac, 1966). Dengan pengolahan tanah secara konvensional, perkecambahan benih gulma yang terbenam tertunda, sampai terangkat ke permukaan karena pengolahan tanah.


B. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum adalah untuk mengetahui adanya simpanan biji gulma dalam tanah, dan Untuk mengetahui jenis-jenis gulma yang ada pada setiap lapisan dengan berbagai kedalaman.



                                                                                                                                    II.          TINJAUAN PUSTAKA
Pembiakan tanaman atau perbanyakan tanaman (plant propagation) adalah proses menciptakan tanaman baru dari berbagai sumber atau bagian tanaman, seperti biji, stek, umbi, dan bagian tanaman lainnya. Tujuan utama dari pembiakan tanaman adalah untuk mencapai pertambahan jumlah, memelihara sifat-sifat penting dari tanaman (Askari, 2010), dan juga untuk mempertahankan eksistensi jenisnya.
Dalam dunia pertanian, tanah mempunyai peranan sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya akar tanaman, tempat persediaan udara bagi pernapasan akar, tempat persediaan unsur-unsur makanan bagi tumbuhan, tempat persediaan air bagi tumbuh-tumbuhan dan tempat berkembangnya mikro dan makroorganisme yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Agar mampu menjalankan peran-peran tersebut, maka tanah harus memiliki kesuburan dan kesehatan yang baik.  Kata ”kesuburan dan kesehatan tanah” sering kali digunakan secara bersamaan. Pada kenyataannya ada dijumpai tanahnya subur tetapi tanaman yang tumbuh di atasnya, tumbuh tidak sehat (Husnalita, dkk. 1996).
Perbanyakan secara seksual atau generatif adalah proses perbanyakan dengan menggunakan salah satu bagian dari tanaman, yaitu biji. Biji adalah organ tanaman yang terbentuk setelah terjadinya proses fertilisasi (menyatunya/ meleburnya gamet jantan dan gamet betina). Biji dapat dianggap sebagai tanaman mini karena di dalamnya sudah terdapat bagian-bagian tanaman yang tersusun dalam massa yang kompak.
`Salah satu tujuan perbanyakan tanaman dengan menggunakan biji adalah untuk memperoleh sifat-sifat baik tanaman, seperti akar yang kuat, tahan penyakit, dll. Perbanyakan secara generatif ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan-kelebihannya diantaranya adalah :
(1) sistem perakarannya kuat
(2) masa produktif lebih lama
(3) lebih mudah diperbanyak
(4) tahan penyakit yang disebabkan oleh tanah
(5) memiliki keragaman genetik yang digunakan untuk pemuliaan tanaman.
Sedangkan kekurangan dari perbanyakan ini adalah :
(1) Waktu berbunga lebih lama
(2) Anakan berbeda dengan induknya, tidak cocok untuk perbanyakan yang membutuhkan keseragaman.
Perbanyakan tanaman dengan biji (generatif) terutama dilakukan untuk penyediaan batang bawah yang nantinya akan diokulasi atau disambung dengan batang atas dari jenis unggul. Perbanyakan dengan biji juga masih dilakukan terutama pada tanaman tertentu yang bila diperbanyak dengan cara vegetatif menjadi tidak efisien (tanaman buah tak berkayu). Keunggulan tanaman ini digunakan sebagai batang bawah adalah karena memiliki batang yang kokoh dan tahan penyakit tular tanah. Tanaman-tanaman yang sudah dikembangkan sebagai batang bawah di antaranya adalah karet, durian, jeruk, dan alpukat.
Pertumbuhan gulma dalam pertanaman hamparan tanah yang didiamkan erat dengan adanya pertumbuhan biji gulma yang terpendam dalam tanah. Biji-biji gulma ini tersimpan dan bertahan hidup sampai tenggang waktu yang relatif panjang dalam kondisidorman, dan akan segera berkecambah ketika kondisi lingkungan mematahkan dormansi itu. Terangkatnya biji gulma ke lapisan atas permukaan tanah dan tersediannya kelembaban yang sesuai untuk perkecambahan mendorong gulma untuk tumbuh dan berkembang (Fadhly,et al , 2004).
Jumlah biji gulma yang terdapat dalam tanah mencapai ratusan juta biji (Direktorat Jenderal Perkebunan 1976 dalam Fadhly, et al, 2004). Kemudian deposit biji gulma dalam tanah dapat bertahan dalam jangka waktu yang berkaitan dengan spesies atau genetik dari gulma itu sendiri. MenurutMelinda et al . (1998).
Biji spesies gulma setahun ( annual spesies) dapat bertahan dalam tanah selama bertahun-tahun sebagai cadangan benih hidup atau viable seed. Seperti yang dinyatakan oleh Kropac, 1966 dalam Fadhly, et al, 2004, Biji gulma yang ditemukan di makam Mesir yang telah berumur ribuan tahun masih dapat menghasilkan kecambah yang sehat karena benih gulma dapat terakumulasi dalam tanah, maka kepadatannya terus meningkat. Adanya pengolahan tanah konvensional, proses perkecambahan benih gulma yang terendam di dalam tanah tertunda sampai biji terangkat ke permukaan karena pengolahan tanah. Penelitian selama tujuh tahun mengindikasikan lebih sedikit benih gulma pada petak tanpa olah tanah dibanding petak yang diolah dengan bajak singkat (moldboard-plow), biji gulma terkonsentrasi pada kedalaman 5 cm dari lapisan atas tanah (Clementset al, 1996 dalam Fadhly, et al, 2004).























                                                                                                                    III.          METODOLOGI PRAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat
Adapun waktu pelaksanaan praktikum organ perbanyakan vegeatif dilaksanakan pada tanggal  November 2014, bertempat di lahan percobaan jurusan budidaya pertanian fakultas pertanian universitas Sriwijaya.

B. Alat  Dan  Bahan
Adapun Alat Alat yang digunakan berupa :Polibag, Cangkul, Penggali tanah, Buku identifikasi, Bahan - Bahan yang digunakan berupa tanah yang digali dengan berbagai kedalaman dan berbagai tempat.

Cara Kerja
1). Siapkan polibag sejumlah 27 buah, bagi menjadi 3 (kelompok A, B, dan C) masing-masing 9  buah.
2). Isi polibag dengan tanah yang digali dari tanah dengan kedalaman 0-3 cm (9 polibag), 3-6 cm (9 polibag), 6-9 cm (9 polibag), sebelum dimasukkan ke dalam polibag tanah dihaluskan terlebih dahulu.
3) Siram dan tempatkan polibag yang telah terisi tanah tersebut, dan tempatkan di tempat terbuka dan aman.
4). Pemeliharaan berupa penyiraman yang dilakukan setiap hari..








                                                                                                                       IV.          HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil
Hasil yang didapatkan dalam praktikum ilmu gulma tentang OPV pada perlakuan lapisan tanah ke 6 – 9 adalah sebagai berikut :

No
Nama Gulma
Jumlah Gulma
1
Gajah mini
Pennisetum purperium
7 gulma
2
Bayam duri
Amaranthus spinosus L
3 gulma
3
Belimbing tanah
Oxalis barrelieri L
10 gulma















B.  Pembahasan
Dalam praktikum organ perbanyakan vegetative pada tanah yang didiamkan dalam polibeq yang dalam setiap kelompoknya berbeda lapisan yaitu kelompok pertama lapisan 0-3 cm , sedangkan untuk kelompok kedua yaitu dengan perlakuan pada lapisan 3-6 cm dan untuk kelompok yang ketiga menggunakan perlakuan lapisan 6-9 cm tentu pada setiap lapisan terdapat pertumbuhan gulma yang berbeda-beda hal tersebut disebabkan karena adanya kandungan unsure hara yang berbeda pula dengan yang lainnya.
Dalam perlakuan mengunakan lapisan tanah dengan kedalaman 6-9 cm setelah dilakukan pengamatan maka didapatkan tiga jenis gulma yang menumbuhi tanah yang ada didalam polibeq, dari berbagai perlakuan didapatkan perlakuan pada lapisan dengan kedalam 6-9 ini lah yang paling sedikit ditumbuhi oleh gulma, sedangkan gulma yang banyak tumbuh ialah pada lapisan pertama yaitu dengan kedalaman 0-3 cm. dan pada perlakuandengan kedalaman tanah 3-6 pertumbuhan gulma nya juga cukup optimal.
Jenis gulma yang menumbuhi pada lapisan 6-9 cm yaitu dari jenis rumput gajah mini yang dicirikan dengan daun kecil berwara hijau, gulma ini berjumlah sebanyak 7 gulma, selain gulma yang ada ialah bayam-bayaman yang mana berjumlah 3 gulma dan yang terakhir gulma blimbing tanah yang berjumlah 10 gulma. Dengan adanya jenis gulma yang sedikit pada lapisan 6-9 maka persaingan nya pun lebih sedikit pula.
Dari ketiga jenis gulma tersebut, gulma blimbing tanah paling banyak menumbuhi pada perlakuan kedalamn 6-9 cm berbeda halnya dengan perlakuan yang lainya dimana pada perlakuan lainya gulma yang paling dominan yaitu dari jenis rumput rumputan teki.




                                                                                                                         V.          KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
1.    Pada perlakuan kedalaman 6-9 cm gulma yang tumbuh hanya sedikit.
2.    Pada lapisan pertama lebih banyak ditumbuhi oleh tumbuhan gulma.
3.     Gulma lebih cepat tumbuh pada tanah lapisan 0-3 cm dibandingkan dengan yang lapisan lain.
4.    Dalam dunia pertanian, tanah mempunyai peranan sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya akar tanaman.
5.    Kebanyakan biji gulma terpendam dalam tanah sehingga pada pengolaan tanah biji gulma terangkat keatas permukaan dan mengalami perkecambaha.


B.  Saran
Pada praktikum ini hendaknya penyiraman tanah sampel untuk pertumbuhan gulma dilakukan setiap hari untuk menjaga kondisi tanah agar tetap lembab. Serta dalam melaksanakan praktikum lebih serius dan teliti dalam menentukan jenis gulma yang menumbuhi pada setiap lapisan.










DAFTAR PUSTAKA
Anonym 207, http://orenzpunya.wordpress.com/2007/08/11/Pengendalian-Gulma/, diakses pada tanggal 25 november 2014

Askari, 2010. Dasar-Dasar Hortikultura. Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB. 505hal.
Husnalita, dkk. 1996. Aplikasi Pupuk Kandang dan Tanaman Sela (Crotalaria juncea L.) PadaGulma. http://pustakapertanianub.staff.ub.ac.id/files/2012/05/jurnal-tari.pdf. Di akses pada tanggal 26 november 2014.
Ishak, 2009, Penuntun Praktikum Pengendalian Gulma Tim Asisten, Makassar.

Kusmiadi, 2008, Mengapa Gulma Sangat Merugikan,pesero. Jakarta,

Satuhu, 2004, Penanganan dan Pengolahan Pangan, Penebar Swadaya, Jakarta.

Winarno, 2004, Cara Pengendalian Gulma, Penerbit PT Gramedia, Jakarta.






LAMPIRAN
           

                                                                        Polibeq perlakuan 6 - 9 cm






Jenis – jenis gulma ang tumbuh pada lapisan 6 – 9 cm










                                                                        Lapipisan tanah pada kedalan 6 – 9 cm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar