LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT
Nama : Khayatu Khoiri Tanggal : 16 April 2015
NIM : 05121407020 Asisten : 1. Aji Artanto
Kelas : Palembang 2. Anita Sari
Judul : Perbanyakan Jamur Antagonis di Media 3. Lilian Riskie
Cair GYB 4. Linda Sari
5. Rezalina Indra P
6. Windy Lumban G
7. Andri Purniawan
8. Pebrianta Tarigan
Nilai :
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan cara menggunakan pestisida nabati dan dapat pula menggunakan musuh alami dari hama. Musuh alami hama dapat berupa parasitoid maupun mikroorganisme lainnya. Penggunaan musuh alami memang tidak seefektif apabila menggunakan pestisida kimia , tetapi kelebihan dari menggunakan musuh alami adalah lebih ramah lingkungan dan lebih ekonomis karena dapat mengurangi biaya produksi pertanian, yaitu dari biaya pengendalian hama pada tanaman budidaya.
Tanah merupakan habitat berbagai mikroorganisme seperti dari golongan jamur, serangga, nematoda, bakteri, dan banyak mikroorganisme lain. Jamur termasuk golongan yang cukup dominan di dalam tanah, baik perananya sebagai patogen tanaman, dekomposer, bahkan sebagai agen pengendali hayati. Jamur di dalam tanah yang berperan sebagai agen pengendali hayati dapat diisolasi agar diperoleh isolat murni. Jamur agen hayati tular tanah dikelompokkan sebagai jamur patogen serangga (entomopatogen) dan antagonis. Penentuan sampel tanah sangat penting dalam keberhasilan mendapatkan jamur pengendali hayati. Setiap jamur agen hayati memiliki kekhasan jenis, struktur, dan komposisi tanah sebagai habitatnya.
Eksplorasi merupakan langkah awal untuk mendapatkan antagonis yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menentukan waktu, tempat, metode, serta penanganan sampel hasil eksplorasi. Selanjutnya, jamur antagonis hasil eksplorasi perlu diuji di laboratorium (in vitro), rumah kasa (in planta), dan di lapangan (in situ). Jamur antagonis yang terpilih sebaiknya memilki sifat: dapat menghambat pertumbuhan patogen tanaman, berkecambah dan tumbuh dengan cepat, tahan atau toleran terhadap antagonis lain, persisten dalam keadaan ekstrim, dapat diproduksi secara massal, dan tidak menyebabkan gangguan terhadap tanaman.
Jamur antagonis adalah kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman. Mekanisme jamur antagonis dalam menghambat patogen tanaman dapat melalui antibiosis, lisis, kompetisi, dan parasitisme. Di samping itu, jamur antagonis mampu mencegah infeksi patogen terhadap tanaman melalui aktivitas Induce Sistemic Resistance (ISR).
Beberapa jamur antagonis mampu tumbuh pada bahan tanaman yang telah lapuk, bahan tanaman sakit, bahkan dapat tumbuh pada badan buah patogen tanaman tertentu. Jamur antagonis yang paling sering tumbuh pada kondisi seperti ini adalh genus trichoderma. Antagonis ini biasanya ditandai dengan tumbuhnya koloni berwarna hijau pada media tempat tumbuhnya. Koloni jamur yang diduga sebagai antagonis ini diisolasi di laboratorium dengan menanamkannya pada media Dextrose Agar (PDA) dan diinkubasikan selama 3-5 hari. Koloni yang tumbuh diidentifikasi secara makroskopis dengan mengamati tipe dan warna koloni, dan secara mikroskopis dengan mengamati struktur hifa, bentuk dan ukuran pialid dan konidia.
B. Tujuan
Tujuan dalam praktikum ini adalah untuk mendapatkan biakan murni jamur antagonis dimedia cair.
II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul Perbanyakan jamur antagonis dimedia cair (GYB) dilaksanakan pada tanggal 16 April 2015 pukul 10:00 WIB sampai dengan selesai, dilaboratorium Fitopatologi Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini ialah botol selai, pelastik, karet, alumunium foil, autoclave, pinset, dan neraca analitik sedangkan bahan yang digunakan adalah 100 ml Aquadest, 20 g yeast, dan 20 g gula.
C. Cara Kerja
Adapun cara kerja dalam Praktikum Perbanyakan Jamur Antagonis Di Media Cair GYB sebagai berikut :
Tahap I Pembuatan GYB
1. siapkan botol selai lalu cuci hingga bersih
2. siapkan 20 g yeast yang telah halus dan siapkan 20 g gula dengan ditimbang menggunakan neraca analitik.
3. isi botol selai dengan 100 ml Aquadest.
4. lalu masukan 20 g yeast dan 20 g gula kedalam botol selai.
5. lalu homogenkan, setelah itu tutup dengan menggunakan allumunium foil 2 lapis dan dilapisi plastiklalu ikat dengan karet.
6. kemudian beri label kelompok masing-masing.
7. siapkan autoclave lalu botol selai yang telah berisi bahan-bahan dimasukan kedalam autoclave, pindahkan botol-botol selai ke LAF, susun dan dinginkan sambil di UV.
Tahap II Reisolasi Jamur Ke GYB
• Setelah GYB dingin, sterilkan laminar dengan alkohol lalu hidupkan
bunsen.
• Ambil satu botol selai lalu buka karet, plastik dan buka sedikit
alumunium foilnya, lalu putar-putar di dekat api bunsen.
• Letakkan botol selai, ambil isolat jamur antagonis dan putar-putar
di dekat api bunsen. Lalu ambil sedikit potongan jamur dengan pinset.
• Ambil lagi botol selai yang dibuka tadi lalu putar-putar lagi di api
bunsen dan masukkan isolat jamur tadi ke dalam botol selai dengan
pinset.
• Tutup lagi botol selai dengan alumunium foil, plastik, dan karet.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum Perbanyakan Jamur Antagonis Di Media Cair GYB adalah sebagai berikut :
Skema Kerja Pembuatan GYB
Tuang air aquades, kedalam Masukan kedalam botol selai
Erlenmeyer sebanyak 100 ml berukuran 200 ml
Timbang gula dan yeast sebanyak 2 gram
mengunakan neraca analitik
Lalu, masukkan kedalam botol selai yang
Berisi air aquades tadi
Setelah yeast dan gula dimasukkan, kocok lalu
Aduk rata sehingga terhomogen dan air berubah
Warna.
Setelah itu, tutup botol selai menggunakan
Alumunium foil,plastik dan ikat
dengan karet agar rapat.
Kemudia beri label, dan autoclave selama
2 jam, setelah 2 jam GYB dinginkan. Setelah
Dingin GYB , lalu lakukan reisolasi.
B. Pembahasan
Pada praktikum perbanyakan jamur Antagonis pada media cair GYB menggunakan botol selai ukuran 200 ml yang sebelumnya telah dibersihkan, botol selai ini digunakan sebagai tempat perbanyakan jamur antagonis, komposisi bahan yang di gunakan adalah 100 ml Aquadest, 20 g yeast, dan 20 g gula pada setia botolnya. setelah bahan bahan dimasukan kedalam botol tutup botol menggunakan allumunium foil 2 lapis yang bertujuan supaya tidak sobek dan dilapisi dengan plastic kemudian diikat dengan karet, setelah semua selesai dilakukan botol- botol selai tersebut dimasukan kedalam autoclave supaya steril dan tidak terkontaminasi.
Jamur yang diharapkan untuk tumbuh adalah Trichoderma yang merupakan agens hayati dari golongan jamur yang bersifat antagonis, yaitu mampu menekan pertumbuhan jamur-jamur pathogen penyebab penyakit tanaman. Serta mampu mempercepat proses pelapukan bahan organic ( pengomposan ).
Mekanisme antagonis adalah akibat persaingan makanan dan tempat tumbuh, pengrusakan dinding sel pathogen dan antibiosis. Trichoderma mampu berkembang lebih cepat sehingga menguasai media tumbuh, akibatnya cendawan lain tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Hifa Trichoderma dapat menembus dinding sel dengan bantuan enzim kitinase sehingga mengganggu dan membunuh cendawan pathogen (hiperparasit). Selain itu trichoderma mengeluarkan anti biotic “trichoderin” yang dapat membunuh cendawan pathogen.
Trichoderma spp termasuk mikroorganisme saprofit tanah yang dapat menguraikan bahan organic seperti karbohidrat, terutama selulosa. Mekanisme perombakan selulosa oleh trichoderma dengan bantuan enzim pengurai C1, Cx dan selubiose.
Manfaat dari jamur trichoderma adalah Sebagai organisme pengurai. Membantu proses decomposer dalam pembuatan pupuk bokashi dan kompos. Pengomposan secara alami akan memakan waktu 2 – 3 bulan, akan tetapi jika menggunakan jamur sebagai decomposer memakan waktu 14 – 21 hari, Sebagai agensi hayati, Sebagai aktifator bagi mikroorganisme lain di dalam tanah, dan Stimulator pertumbuhan tanaman.
Trichoderma merupakan salah satu jamur yang dapat menjadi agen biokontrol karena bersifat antagonis bagi jamur lainnya terutama yang bersifat patogen. aktivitas antagonis yang dimaksud dapat meliputi persaingan, parasitisme, predasi, atau pembentukkan toksin seperti antibiotik. Untuk keperluan bioteknologi, agen biokontrol ini dapat diisolasi dari Trichoderma dan digunakan untuk menangani masalah kerusakan tanaman akibat pathogen.
Kemampuan dan mekanisme Trichoderma spp dalam menghambat pertumbuhan patogen secara rinci bervariasi pada setiap spesiesnya. Perbedaan kemampuan ini disebabkan oleh faktor ekologi yang membuat produksi bahan metabolit yang bervariasi pula. Trichoderma memproduksi metabolit yang bersifat volatil dan non volatil. Metabolit non volatil lebih efektif dibandingkan dengan yang volatil. Metabolit yang dihasilkan Trichoderma dapat berdifusi melalui membran dialisis yang kemudian dapat menghambat pertumbuhan beberapa patogen. Salah satu contoh metabolit tersebut adalah monooksigenase yang muncul saat adanya kontak antar jenis Trichoderma, dan semakin optimal pada pH 4. Ketiadaan metabolit ini tidak akan mengubah morfologi dari Trichoderma namun hanya akan menurunkan kemampuan penghambatan patogen.
Potensi jamur Trichoderma spp. sebagai jamur antagonis yang bersifat preventif terhadap serangan penyakit tanaman telah menjadikan jamur tersebut semakin luas digunakan oleh petani dalam usaha pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Disamping karakternya sebagai antagonis diketahui pula bahwa Trichoderm spp. juga berfungsi sebagai dekomposer dalam pembuatan pupuk organik. Aplikasi jamur Trichoderma spp. Pada pembibitan tanaman guna mengantisipasi serangan OPT sedini mungkin membuktikan bahwa tingkat kesadaran petani akan arti penting perlindungan preventif perlahan telah tumbuh. Berdasarkan potensi yang dimiliki Trichoderma spp. maka pemanfaatan jamur tersebut sebagai agen hayati untuk pengendalian jamur patogen Phytophthora infestans pada tanaman kentang.
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dalam praktikum adalah sebagai berikut:
1. Jamur antagonis adalah kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman.
2. bahan yang digunakan dalam praktikum adalah 20 g yeast, 20 g gula.
3. jamur yang didapatkan adalah Trichoderma yang merupakan agens hayati dari golongan jamur yang bersifat antagonis,
4. jamur antagonis yaitu mampu menekan pertumbuhan jamur-jamur pathogen penyebab penyakit tanaman.
5. Manfaat dari jamur Trichoderma spp adalah sebagai organisme pengurai.
B. Saran
Pada proses pembuatan media perbanyakan jamur Antagonis haruslah steril dari kontaminan mikroba lainnya supaya perbanyakan jamur yang dilakukan berhasil. Untuk itu bahan bahan yang digunakan di masukan kedalam autoclave supaya bahan bahan lebih steril lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar