Rabu, 11 November 2015

laporan praktikum karet

KATA PENGANTAR
          Puji syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Allah s.w.t karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas laporan tetap praktikum Pengelolaan Perkebunan Karet ini yang merupakan salah satu syarat untuk lulus dalam mata kuliah Praktikum Pengelolaan Perkebunan Karet yang tepat pada waktunya tanpa adanya suatu halangan apapun yang berarti dengan judul “LAPORAN TETAP PRAKTIKUM PENGELOLAAN PERKEBUNAN KARET”.
Dengan terselesaikannya laporan ini, maka penyusun mengucapkan terima kasih kepada para dosen pengajar mata kuliah Pengelolaan Perkebunan Karet yang telah membimbing kami dan memberikan pengetahuan, serta Asisten Praktikum Pengelolaan Perkebunan Karet juga yang telah membimbing kami, serta teman-teman program studi Agroekoteknologi angkatan 2012 yang telah memberikan semangat juang dan membantu penyusunan dalam menyelesaikan laporan ini.
          Dalam penyusunan laporan ini, penyusun menyadari masih banyak kekuranganya baik itu secara sengaja maupun tidak disengaja. Maka dari itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun kepada semua pihak guna kesempurnaan laporan ini. Dan apabila nantinya banyak kekeliruan serta tidak tepatnya dalam pengkutipan maka penyusun mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhirnya penyusun mengucapkan terimakasih dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua amiin.

                                                                                            Indralaya,  November 2014
                                                                                   


                                                                                                            Penulis

 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia.   Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada  tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun 2004.  Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas.
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan.  Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.  Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta.  Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai angka sekitar 2.2 juta  ton.  Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani dan lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui  perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa  memberikan modal bagi petani atau perkebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.
Tanaman karet termasuk famili Euphorbiaceae atau tanaman getah-gatahan.Dinamakan demikian karena golongan famili ini mempunyai jaringan tanaman yang banyak mengandung getah (lateks) dan getah tersebut mengalir keluar apabila jaringan tanaman terlukai.Mengingat manfaat dan kegunaannya, tanaman ini digolongkan ke dalam tanaman industri (Syamsulbahri, 2000).          
Sejak berabad-abad yang lalu karet telah dikenal dan digunakan secara tradisional oleh penduduk asli di daerah asalnya, yakni Brasil – Amerika Selatan.Akan tetapi meskipun telah diketahui penggunaannya, oleh Columbus dalam pelayarannya ke Amerika Selatan pada akhir abad ke-16, sampai saat itu karet masih belum menarik perhatian orang-orang Eropa. Karet tumbuh secara liar di lembah-lembah sungai Amazon dan secara tradisional diambil getahnya oleh penduduk setempat untuk digunakan dalam berbagai keperluan, antara lain sebagai bahan untuk menyalakanapi dan “bola” untuk permainan (santosa 2007).
Sistem perkebunan karet muncul pada abad ke-19.Akan tetapi, sistem pekebunan di Asia Tenggara tidak terjadi sebelum akhir abad ke-19, ketika permintaan menuntut perluasan sumber penawaran.Sistem ini diperkenalkan oleh beberapa ahli tumbuh-tumbuhan di Inggris. Pada tahun 1870 tanaman karet berkembang baik di Jawa dan Burma, akan tetapi tanaman ini memakan waktu antara penanaman dengan masa produksi (BPTP-Jambi, 2008).
Pada awalnya seluruh karet dikumpulkan dari tanaman liar, awalnya karet dari Brazil, tetapi ada juga dari daerah lain dalam jumlah perbandingan yang kecil. Karena permintaan yang bertambah dan lebih cepat dibandingkan persediaan yang ada dan harga yang melambung tinggi. Ini memungkinkan terjadinya pelanggaran terhadap pengeksporan benih, dan pohon karet pun diperkenalkan kepada kerajaan-kerajaan kolonial di bagian dunia lain. (Suhendry 2002)

1.2.  Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum pengelolaan perkebunan karet ialah agar mahasiswa mampu dan mengetahui cara dan prosedur untuk menanam karet di lapangan, perawatan TBM, TM, dan teknik perbanyakan tanaman karet.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sistematika Karet
Menurut Setiawan dan Andoko (2005), dalam kerajaan tanaman atau sistem klasifikasi kedudukan tanaman karet adalah sebagai berikut: 
Kingdom         : Plantae
Divisio            : Spermatophyta
Subdivisio       : Angiosperma
Kelas              : Dicotyledoneae
Ordo               : Euphorbiales
Family            : Euphorbiaceae
Genus             : Hevea
Spesies           : Hevea brassiliensis Muell. Arg
Sistem perakarannya padat/kompak, akar tunggangnya dapat menghujam tanah hingga kedalaman 1-2 meter, sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 meter.Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar tunggang, akar ini mampu menopang batang tanman yang tumbuh tinggi dan besar (Syamsulbahri, 2000).
Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas.Di beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke arah Utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Tim Penulis PS, 2008). 

2.2. Morfologi
Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 – 25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke arah utara. `Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Nazarrudin dan Paimin, 2006).
Sedangkan menurut Setiawan (2000) tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Pohon dewasa dapat mencapai tinggi antara 15 – 30 m. Perakarannya cukup kuat serta akar tunggangnya dalam dengan akar cabang yang kokoh. Pohonnya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi diatas.


2.3. Syarat Tumbuh
2.3.1. Iklim
Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150 LS dan 150 LU. Diluar itu pertumbuhan tanaman karet agak terhambat sehingga memulai produksinya juga terlambat (Suhendry, I. 2002).
Suhu yang dibutuhkan untuk tanaman karet 25° C sampai 35 ° C dengan suhu optimal rata-rata 28° C. Dalam sehari tanaman karet membutuhkan intensitas matahari yang cukup antara 5 sampai 7 jam (Santosa. 2007.).
2.3.2. Curah Hujan
Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm sampai 4.000 mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150 HH/tahun. Namun demikian, jika sering hujan pada pagi hari, produksi akan berkurang (Radjam, Syam. 2009.).
2.3.3. Ketinggi Tempat
Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendah dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut. Ketinggian > 600 m dari permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh tanaman karet (Nazaruddin dan F.B. Paimin. 2006.).
2.3.4. Angin
Angin juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Angin yang kencang dapat mengakibatkan kerusakan tanaman karet yang berasal dari klon-klon tertentu dalam berbagai jenis tanah, baik pada tanah latosol, podsolik merah kuning, vulkanis bahkan pada tanah gambut sekalipun (Maryadi. 2005).
Kecepatan angin yang terlalu kencang pada umumnya kurang baik untuk penanaman karet Untuk lahan kering/darat tidak susah dalam mensiasati penanaman karet, akan tetapi untuk lahan lebak perlu adanya trik-trik khusus untuk mensiasati hal tersebut. Trik-trik tersebut antara lain dengan pembuatan petak-petak guludan tanam, jarak tanam dalam barisan agar lebih diperapat. Metode ini dipakai berguna untuk memecah terpaan angin (Deptan. 2006.).
2.3.5. Tanah
Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih mempersyaratkan sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat kimianya. Hal ini disebabkan perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan dengan lebih mudah dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya (Aidi dan Daslin, 2007).
Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut < 2 m. Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik terutama struktur,btekstur, sulum, kedalaman air tanah, aerasi dan drainasenya, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik karena kandungan haranya rendah. Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya terutama drainase dan aerasenya kurang baik. Reaksi tanah berkisar antara pH 3, 0 – pH 8,0 tetapi tidak sesuai pada pH < 3,0 dan > pH 8,0. Sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya antara lain :
Sulum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan lapisan cadas
Tekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air
Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir
Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro
Reaksi tanah dengan pH 4,5 – pH 6,5
Kemiringan tanah < 16% dan
Permukaan air tanah < 100 cm





2.4. Persiapan Lahan
Dalam mempersiapkan lahan pertanaman karet juga diperlukan pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara sistematis dapat menjamin kualitas lahan yang sesuai dengan persyaratan. Beberapa diantara langkah tersebut antara lain :
2.4.1.  Pemberantasan Alang-alang dan Gulma lainnya
Pada lahan yang telah selesai tebas tebang dan lahan lain yang mempunyai vegetasi alang-alang, dilakukan pemberantasan alang-alang dengan menggunakan bahan kimia antara lain Round up, Scoup, Dowpon atau Dalapon. Kegiatan ini kemudian diikuti dengan pemberantasan gulma lainnya, baik secara kimia maupun secara mekanis.
2.4.2. Pengolahan Tanah
Dengan tujuan efisiensi biaya, pengolahan lahan untuk pertanaman karet dapat dilaksanakan dengan sistem minimum tillage, yakni dengan membuat larikan antara barisan satu meter dengan cara mencangkul selebar 20 cm. Namun demikian pengolahan tanah secara mekanis untuk lahan tertentu dapat dipertimbangkan dengan tetap menjaga kelestarian dan kesuburan tanah.
2.4.3. Pembuatan teras/Petakan dan Benteng/Piket
Pada areal lahan yang memiliki kemiringan lebih dari 50 diperlukan pembuatan teras/petakan dengan sistem kontur dan kemiringan ke dalam sekitar 150. Hal ini dimaksudkan untuk menghambat kemungkinan terjadi erosi oleh air hujan. Lebar teras berkisar antara 1,25 sampai 1,50 cm, tergantung pada derajat kemiringan lahan.
2.4.4. Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang untuk tanaman dibuat 60 cm x 60 cm bagian atas , dan 40 cm x 40 cm bagian dasar dengan kedalaman 60 cm. Pada waktu melubang, tanah bagian atas (top soil) diletakkan di sebelah kiri dan tanah bagian bawah (sub soil) diletakkan di sebelah kanan. Lubang tanaman dibiarkan selama 1 bulan sebelum bibit karet ditanam.



2.5. Pembibitan
2.5.1. Bibit Stum Mata Tidur
Bibit stum mata tidur yang telah diterima dari produsen stum mata tidur perlu disiapkan sebelum pelaksanaan penanaman dilakukan.  Persiapan bibit diawali dengan kegiatan penyortiran, pemotongan akar dan penyusunan. Penyortiran dilakukan dengan beberapa pertimbangan dan perlakuan untuk memilih bibit yang baik.  Adapun syarat bibit stum mata tidur yang baik adalah sebagai berikut;
Mata okulasi tempelan terlihat hidup (Perisai mata okulasi berwarna hijau kalau digores).
Mata okulasi dan keseluruhan struktur tidak rusak atau cacat (bebas dari penyakit).
Pemotongan akar tunggang yang lebih dari satu, dimana akar ini diharapkan lurus bentuknya dan tidak bercabang.


Gambar 2.1. Bibit Karet Stum Mata Tidur
2.5.2.Teknik Penanaman Bibit Karet Stum Mata Tidur
Teknik penanaman bibit karet stum mata tidur memerlukan langkah-langkah sebagai berikut;
Masukkan bibit di tengah-tengah lubang, kemudian ditimbun secara bertahap, dimulai dengan tanah lapisan bawah dan dipadatkan.  Selanjutnya penimbunan dilakukan dengan tanah lapisan atas dan dipadatkan sampai pada posisi tanah timbunan sedikit diatas permukaan tanah sekitarnya.
Posisi tempelan mata okulasi satu arah (menghadap ke timur) dengan ketinggian 5 cm di atas pemukaan tanah.
Pastikan bahwa penanaman betul-betul padat yaitu bibit tidak goyang dan tidak dapat dicabut dengan tangan.

Gambar 2.2.  Penanaman Bibit Karet Stum Mata Tidur
Kemampuan Penanaman Bibit karet Stum Mata Tidur
Pada pelaksanaa penanaman bibit karet stum mata tidurdi kebun koleksi karet Fakultas Pertanian dilakukan mahasiswa.  Tiap kelompok mahasiswa mampu melakukan penanaman bibit sebanyak 2 bibit.  
2.5.3. Tingkat Pertumbuhan dan Persentase Hidup Tanaman
a. Tingkat Pertumbuhan
Dari penelitian (Manaf 2010) Hasil pengamatan dua bulan menunjukkan tingkat pertumbuhan bibit stum mata tidur yang beragam.  Dari jumlah sampel yang ada, dapat di reratakan bahwa tingkat pertumbuhan bibit selama dua bulan mampu mencapai tinggi maksimal hingga 30 cm dan tinggi minimal 0 cm (mati).  Hal ini dapat terjadi karena terdapat banyak faktor penyebabnya.  Dari pengamatan penulis bahwa salah satu faktor tersebut adalah kegiatan penyeleksian awal dari stum mata tidur yang layak tanam dirasa belum maksimal tingkat ketelitiannya, hal ini pun dapat di perburuk dengan tingkat pertumbuhan dari stum mata tidur yang memang rendah dibandingkan cara penanaman dengan bibit okulasi dalam polibeg.
b.    Persentase Tingkat Hidup
Persentase tingkat hidup ditentukan berdasarkan kuantitas sampel yang diamati dari kondisi tanaman hidup dan tumbuh.  Dari total sampel sebanyak 30 tanaman, menunjukkan 13 tanaman yang terkategori kriteria tersebut.  Hal ini menunjukkan persentase tingkat hidup pada stum mata tidur adalah kurang dari 50%.  Angka yang muncul setelah dilakukan perhitungan adalah sebesar 43,33%.  Hal ini menunjukkan persentase tingkat hidup yang belum maksimal, jelas secara perhitungan bisnis sangat merugikan pengusaha yang berasangkutan.  Sehingga setidaknya kondisi ini mengungkapkan bahwa resiko penggunaan bibit stum mata tidur sangat tinggi.
Bila kita anggap jumlah sampel yang diamati berbanding lurus dengan jumlah bibit sesungguhnya, maka jumlah tanaman yang hidup dari 5000 bibit hanya mencapai 2.166 tanaman.  Sebaliknya tanaman yang diperkirakan mengalami kematian mencapai 2.834 tanaman.  Padahal, kematian tanaman karet setelah penanaman memiliki jumlah maksimum atau tolelirnya yaitu hanya 5-10%. (http://irtaagribisnis09.blogspot.com)


2.6. Penanaman
2.6.1. Waktu penanaman 
Penanaman tanaman karet dilakukan pada awal musim penghujan, saat tersebut merupakan awal yang baik/optimal untuk memulai penanaman dan harus berakhir sebelum musim kemarau.
2.6.2. Pelaksanaan Tanam
Bibit yang akan ditanam dapat berupa stum mata tidur maupun bibit dengan payung satu. Adapun ketentuan bibit siap tanam adalah sebagai berikut :
- Apabila bahan tanam berupa stum mata tidur, maka mata okulasi harus sudah membengkak/mentis. Hal ini dapat diperoleh dengan cara menunda pencabutan bibit minimal seminggu sejak dilakukan pemotongan batang bawah.
- Sedangkan, jika bahan tanam yang dipakai adalah bibit yang sudah ditumbuhkan
dalam polybag, maka bahan yang dipakai maksimum memiliki dua payung daun tua.
- Penanaman dilakukan dengan memasukkan bibit ke tengah-tengah lubang tanam. Untuk bibit stum mata tidur, arah mata okulasi diseragamkan menghadap gawangan pada tanah yang rata, sedangkan pada tanah yang berlereng mata okulai diarahkan bertolak belakang dengan dinding teras, sedangkan bibit dalam polybag arah okulasi menghadap Timur.
- Kemudian bibit ditimbun dengan tanah bagian bawah (sub-soil) dan selanjutnya dengan tanah bagian atas (top-soil). Selanjutnya, tanah dipadatkan secara bertahap sehingga timbunan menjadi padat dan kompak, tidak ada rongga udara dalam lubang tanam.
- Lubang tanam ditimbun sampai penuh, hingga permukaan rata dengan tanah di sekelilingnya. Untuk bibit stum mata tidur kepadatan tanah yang baik, ditandaidengan tidak goyang dan tidak dapat dicabutnya stum yang ditanam, sedangkan bibit dalam polybag pemadatan tanah dilakukan dengan hati-hati mulai dari bagian pinggir ke arah tengah.
2.6.3. Penyulaman
- Penyulaman dilakukan dengan bahan tanam yang relatif seumur dengan tanaman yang disulam. Hal ini dilakukan dengan selalu menyediakan bahan tanam untuk sulaman dalam polybag sekitar 10% dari populasi tanaman.


2.7. Pemeliharaan
2.7.1Tanaman belum menghasilkan (TBM)
a. Pengendalian gulma
 Areal pertanaman karet, baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus bebas dari gulma seperti alang-alang, Mekania, Eupatorium, dll sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
b. Pembuangan Tunas Palsu
-Tunas palsu adalah tunas yang tumbuh bukan dari mata okulasi. Tunas ini banyak tumbuh pada bahan tanam stum mata tidur, sedangkan pada bibit stum mini atau bibit polybag, tunas palsu jumlahnya relatif kecil.
- Pemotongan tunas palsu harus dilakukan sebelum tunas berkayu. Hanya satu tunas yang ditinggalkan dan dipelihara yaitu tunas yang tumbuh dari mata okulasi.
Pembuangan tunas palsu ini akan mempertahankan kemurnian klon yang ditanam.
Pembuangan Tunas Cabang
- Tunas cabang adalah tunas yang tumbuh pada batang utama pada ketinggian sampai
dengan 2,75 m-3,0 m dari atas tanah.
- Pemotongan tunas cabang dilakukan sebelum tunas berkayu, karena cabang yang
telah berkayu selain sukar dipotong, akan merusak batang kalau pemotongannya
kurang hati-hati.
Perangsangan Percabangan
- Percabangan yang seimbang pada tajuk tanaman karet sangat penting, untuk menghindari kerusakan oleh angin.
- Perangsangan percabangan perlu dilakukan pada klon yang sulit membentuk percabangan (GT-1, RRIM-600), sedangkan pada klon yang lain seperti PB-260 dan
RRIC- 100, percabangan mudah terbentuk sehingga tidak perlu perangsangan.
- Untuk perangsangan cabang ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu pembuangan ujung tunas, penutupan ujung tunas, pengguguran daun, pengikatan batang, dan pengeratan batang. ( Ebit 2011)
Pemupukan
Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, jenis tanah, kondisi penutup tanah, kondisi visual tanaman.
Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan jadual, umur tanaman.
Pada waktu satu bulan, ZA ditebar dari pangkal batang hingga 30 – 40 Cm.
Setelah itu ZA, Rock Phosphate, MOP dan Kieserit ditaburkan merata hingga batas lebar tajuk.
Boron ditebarkan diketiak pelepah daun
ZA, MOP, Kieserite dapat diberikan dalam selang waktuyang berdekatan.
Rock Phosphate tidak boleh dicampur dengan ZA. Rock Phosphate dianjurkan
diberikan lebih dulu dibanding pupuk lainnya jika curah hujan > 60 mm.
Jarak waktu pemberian Rock Phosphate dengan ZA minimal 2 minggu.
Pupuk MOP tidak dapat diganti dengan Abu Janjang Kelapa Sawit.

Standar Dosis Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 
Pada Tanah Gambut :
Umur
(Bulan)* Dosos Pupuk (gram/pohon)
Urea Rock Phosphate MOP
( KCl) Dolomit HGF-B CuSO4
Lubang tanaman - - - - - 25
3 100 150 200 100 - -
6 150 150 250 100 - -
9 150 200 250 150 25 -
12 200 300 300 150 - -
16 250 300 300 200 25 -
20 300 300 350 250 - -
24 350 300 350 300 50 -
28 350 450 450 350 50 -
32 450 450 500 350 - -
*) Setelah tanam di lapangan


Standar Dosis Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Pada Tanah Mineral :



2.7.2  Tanaman menghasilkan (TM)
Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Penyakit, Jamur Akar Putih (Rigidoporus lignosus) Dan Gejala Serangan. Serangan jamur menyebabkan akar menjadi busuk dan apabila perakaran dibuka maka pada permukaan akar terdapat semacam benang-benang berwarna putih kekuningan dan pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas. Dan meng hindari adanya mati alur sadap, dan gugur daun.


2.8. Panen
2.8.1. Persiapan Buka Sadap
Matang Sadap Pohon 
Kriteria : 
Umur tanaman 
Tanaman karet siap disadap pada umur sekitar 5 - 6 tahun. 
Pengukuran lilit batang 
Pohon karet dinyatakan matang sadap apabila lilit batang sudah mencapai 45 cm atau lebih. Lilit batang diukur pada ketinggian batang 100 cm dari pertautan okulasi untuk tanaman okulasi.
Penggambaran Bidang Sadap
Tinggi bukan sadap Tanaman karet okulasi mempunyai lilit batang bawah dengan bagian atas yang relatif sama (silinder), demikian juga dengan tebal kulitnya. Tinggi bukaan sadap pada tanaman okulasi adalah 130 cm di atas pertautan okulasi. Ketinggian ini berbeda dengan ketinggian pengukuran lilit batang untuk penentuan matang sadap. Arah dan sudut kemiringan irisan sadap Arah irisan sadap harus dari kiri atas ke kanan bawah, tegak lurus terhadap pembuluh lateks. Sudut kemiringan irisan yang paling baik berkisar antara 300 – 400 terhadap bidang datar untuk bidang sadap bawah. Pada penyadapan bidang sadap atas, sudut kemiringannya dianjurkan sebesar 45°. Panjang irisan sadap Panjang irisan sadap adalah 1/2s (irisan miring sepanjang ½ spiral atau lingkaran batang).
Letak bidang sadap Bidang sadap harus diletakkan pada arah yang sama dengan arah pergerakan penyadap waktu menyadap. Pemasangan Talang dan Mangkuk Sadap Talang sadap terbuat dari seng selebar 2,5 cm dengan panjang sekitar 8 cm. Talang sadap dipasang pada jarak 5 cm – 10 cm dari ujung irisan sadap bagian bawah. Mangkuk sadap umumnya terbuat dari plastik, tanah liat atau aluminium. Mangkuk sadap dipasang pada jarak 5-20 cm di bawah talang sadap. Mangkuk sadap diletakkan di atas cincin mangkuk yang diikat dengan tali cincin pada pohon (Ahmadi, 2010) 
2.8.2.  Stimulan
Aplikasi stimulant pada tanaman karet
Berdasarkan litelatur yang ada bahwa saat ini banyak cara di kembangkan untuk meningkatkan produktifitas tanaman karet. Mengingat pangsa pasar yang besar dan supplay masih berkurang, sementara perluasan areal perkebunan karet membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk itu peningkatan tekhnologi pengelolaan adalah salah satu cara yang dipandang paling tepat saat ini. Disamping pemupukan dan perbaikan terhadap mutu-mutu deresan Stimulant adalah hal yang paling mempengaruhi untuk meningkatkan produktifitas tanaman karet.
Sifat lateks
Produk yang diambil dari tanaman karet adalah getah atau lateks. Lateks berada didalam pembuluh lateks yang ada didalam batang. Untuk mengeluarkan lateks maka pembuluh-pembuluh lateks harus dipotong atau disayat dengan menggunakan pisau sadap. Tidak semua jenis lateks dapat keluar optimal dari pembuluh lateks sewaktu disadap, sementara proses penyadapan bertujuan untuk mengeluarkan semua lateks yang ada pada pembuluh lateks pada waktu disadap. Hal ini disebabkan oleh sifat dari lateks tersebut ada yang low eksplosive dan high eksplosive. Klone tanaman karet yang mempunyai sifat High eksplosive membutuhkan perlakuan khusus untuk mengeluarkan lateks secara optimal dari pembuluh lateks. Perlakuan khusus inilah yang disebut pemberian Zat Stimulant atau zat perangsang.Pada Klone yang bersifat Low eksplosive tidak diperlukan pemberian zat perangsang atau stimulant karena lateks yang dihasilkan pada proses penyadapan sudah optimal.PB 340 adalah salah satu contoh klone tanaman karet yang mempunyai sifat lateks low eksplosive
Kode stimulant.
Untuk menentukan suatu Klone lateks bersifat Low eksplosive atau low eksplosive dilakukan dengan latex diagnosis yang dilakukan di laboraturium dengan mengambil sampel daun dari tanaman karet tersebut. hasil dari lateks diagnosis selain menentukan sifat lateks juga menentukan kode stimulant yang menentukan dosis per pokok serta jumlah aplikasinya dalam satu tahun.
Aplikasi stimulant 
Stimulant yang digunakan biasanya Ethrel, pengaplikasiannya dilakukan dengan mengoleskan etrhel pada panel bidang sadap secara merata. Tidak dinajurkan pengaplikasian stimulant pada saat tanaman karet mengalami pertumbuhan daun muda, selain tidak memberikan kontribusi yang baik terhadap peningkatan produksi hal ini dapat menyebabkan terganggunya proses fisilogis tanaman yang mengakibatkan tanaman karet mati.
Peningkatan produksi. 
Dari berbagai pengalaman dan penelitian peningkatan prosuksi pada klone-klone yang bersifat high ekspolosive ini sangat nyata terhadap aplikasi stimulant. PB 260, RRIM 921, DMI 14 adalah contoh dari klone yang bersifat High Eksplosive yang banyak di kembangkan saat ini.Untuk itu aplikasi yang tepat dan penentuan kode stimulant yang benar dapat meningkatkan produktivitas tanaman karet.


2.9. Pasca Panen
Untuk memperoleh bahan olah karet yang bermutu baik beberapa persyaratan teknis yang harus diikuti yaitu : 
• Tidak ditambahkan bahan-bahan non karet. 
• Dibekukan dengan asam semut dengan dosis yang tepat. 
• Segera digiling dalam keadaan segar. 
• Disimpan di tempat yang teduh dan terlindung dan tidak direndam. 
Jenis bahan olah karet (bokar) yang dapat diproduksi yaitu : 
a. Lateks Pekat 
Lateks pekat adalah lateks kebun yang dipekatkan dengan cara sentrifus atau didadihkan dari KKK 28% - 30% menjadi KKK 60% - 64%. Peralatan yang diperlukan adalah tangki dadih dari plastik, pengaduk kayu, dan saringan lateks 60 mesh. Bahan-bahan yang diperlukan berupa bahan pendadih yaitu campuran amonium alginat dan karboksi metil selulose, bahan pemantap berupa amonium laurat dan pengawet berupa gas atau larutan amoniak. Pengolahan lateks pekat melalui beberapa tahap yaitu penerimaan dan penyaringan lateks kebun, pembuatan larutan pendadih, pendadihan dan pemanenan.
b. Lump Mangkok 
Lump mangkok adalah lateks kebun yang dibiarkan menggumpal secara alamiah dalam mangkok. Pada musim penghujan untuk mempercepat proses penggumpalan lateks dapat digunakan asam semut yang ditambahkan ke dalam mangkok.
c. Slab Tipis / Giling 
Slab tipis dibuat dari lateks atau campuran lateks dengan lump mangkok yang dibekukan dengan asam semut di dalam bak pembeku yang berukuran 60 x 40 x 6 cm, tanpa perlakuan penggilingan. Proses pembuatan slab tipis dapat diuraikan sebagai berikut : 
1 Masukkan dan susun lump mangkok secara merata di dalam bak pembeku. 
2 Tambahkan larutan asam semut 1% ke dalam lateks kebun, dengan dosis 110 ml per liter lateks, kemudian diaduk. 
3 Tuangkan campuran tersebut ke dalam bak pembeku yang telah diisi lump mangkok. Biarkan sekitar 2 jam, lalu gumpalan diangkat dan disimpan di atas rak dalam tempat yang teduh. Untuk meningkatkan kadar karet kering menjadi sekitar 70%, slab tipis dapat digiling dengan menggunakan handmangle dan hasilnya disebut dengan slab giling. Slab tipis dapat diolah menjadi blanket melalui penggilingan dengan mesin creper. Proses penggilingan dilakukan sebanyak 4-6 kali sambil disemprot dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran yang terdapat di dalam slab. 
d. Sit Angin 
Sit angin adalah lembaran karet hasil penggumpalan lateks yang digiling dan dikeringanginkan sehingga memiliki KKK 90% - 95%. Pengolahan sit angin dilakukan melalaui berbagai tahap yaitu penerimaan dan penyaringan lateks, pengenceran, penggumpalan, pemeraman, penggilingan, pencucian, penirisan dan pengeringan.
d. Sit Asap (Ribbed Smoked Sheet/RSS) 
Proses pengolahan sit asap hampir sama dengan sit angina. Bedanya terletak pada proses pengeringan, dimana pada sit asap dilakukan pengasapan pada suhu yang bertahap antara 40o-60o C selama 4 hari, dengan pengaturan sebagai berikut : 
1 Hari pertama, suhu 40o-45o C, ventilasi ruang asap lebar. 
2 Hari kedua, suhu 40o-50o C, ventilasi ruang asap sedang. 
3 Hari ketiga, suhu 50o-55o C, ventilasi ruang asap tertutup. 
4 Hari keempat, suhu 55o-60o C.
Setiap kamar asap, suhu tidak boleh kurang atau lebih. Jika suhu kurang atau melebihi suhu yang di tentukan, maka akan sangat berpengaruh pada hasil yang didapatkan. Setelah lima hari berada di dalam kamar asap, kemudian lembaran lembaran karet di angkut keruang sortasi dengan warna lembaran karet yang sudah ditentukan dan layak masuk kedalam ruang sortasi.(Syakir,2010)

BAB 3
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1        Waktu dan Tempat
Praktikum Pengelolaan Perkebunan Karet ini dilakukan pada bulan September- November pada pukul 14.30 WIB- selesai.
Praktikum ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Inderalaya.

3.2        Alat dan Bahan
Alat- alat yang digunakan pada praktikum Pengelolaan Perkebunan Karet ini adalah : 1). Sepatu boot, 2) Penggaris, 3) Meteran, 4) Tali Rafia, 5) Ajir anakan, 6) Ajir induk, 7) Cangkul, 8) Parang, 9) Karung, 10) Pisau okulasi, 11) Ember, 12) kayu, 13) Atap daun, dan lain-lain.
Bahan- bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah: 1) Biji karet, 2) Air, 3) Tanah, 4) Bibit okulasi, 5) Bibit dalam polybag berpayung dua, 6) Mata okulasi, dan lain-lain.

3.3        Cara Kerja
Adapun langkah kerja pada praktikum pengelolaan perkebunan karet ini antara lain sebagai berikut :
3.3.1        Praktikum Pemeliharaan Kebun Entres
1.         Siapkanlah alat dan bahan yang dibutuhkan seperti tali dan meteran
2.         Tentukanlah pohon entres yang akan diamati
3.         Pada batang tersebut, tentukanlah jarak 1 meter yang akan diamati.
4.         Hitunglah jumlah mata entres pada jarak satu meter tersebut.
5.         Catatlah hasil yang didapatkan di lembar pengamatan


3.3.2        Penentuan jarak tanam (Pengajiran)
1.         Siapkanlah alat dan bahan yang dibutuhkan seperti ajir, tali, cangkul, dsb.
2.         Tancapkanlah ajir indukan di sisi barat lahan
3.         Tancapkanlah ajir anakan sesuai sejajar dengan ajir induk.
4.         Kondisi jarak tanam harus lurus 4 penjuru mata angina.

3.3.3        Penanaman Karet
1.      Siapkanlah alat dan bahan yang dibutuhkan
2.      Buatlah lubang tanam karet sesuai dengan letak ajir anakan.
3.      Lubang tanam di buat dengan kedalaman 40 cm x 40 cm x 40 cm.
4.      Cangkul lah tanah dengan memisahkan bagian top soil dan sub soil.
5.      Tanam lah bibit dalam polybag yang telah disiapkan.
6.      Tutup kembali lubang tanam dengan memasukkan top soil terlebih dahulu kemudian padatkan.

3.3.4        Pendederan
1.         Siapkanlah alat dan bahan yang dibutuhkan
2.         Buatlah tempat pendederan dengan panjang 3 meter, lebar 1,2 meter, tinggi tiang timur 1,2 meter dan tinggi tiang barat 0,9 meter.
3.         Rendamlah biji karet yang akan disemaikan
4.         Tanamlah biji karet yang dapat dikatakan baik secara fisiologis
5.         Tutup tempat penyemaian dengan menggunakan atap
6.         Amati selama empat minggu.

3.3.5        Pemeliharaan TBM karet
1.         Siapkanlah alat dan bahan yang dibutuhkan
2.         Tentukanlah lokasi lahan karet yang akan diamati
3.         Pilihlah satu batang karet yang akan dilakukan praktek pemeliharaan TBM
4.         Bersihkanlah lahan disekitar pohon tersebut dari gulma sejauh 1m x 1 m
5.         Beri tanda pengenalpada pohon tersebut
3.3.6        Okulasi
1.         Siapkanlah alat dan bahan yang dibutuhkan
2.         Tentukanlah lokasi kebun batang bawah
3.         Tentukanlah pohon karet yang akan di okulasi
4.         Buatlah jendela okulasi
5.         Ambillah mata tunas yang akan ditempelkan
6.         Tempelkan mata tunas tersebut ke jendela okulasi
7.         Tutup dengan plastic okulasi
8.         Biarkan biji berkecambah
9.         Amati setelah satu minggu.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Adapun hasil yang diperoleh pada praktikum Pengelolaan Perkebunan Karet ini antara lain sebagai berikut:
4.1.1. Praktikum Pemeliharaan Kebun Entres
No
Praktikan
Jumlah Mata Tunas
1
Dede Darmadi
12
2
Irwan Jani Sihotang
23
3
Khayatul Khoiri
32
4
Amalia Putri Pandan Sari
43
5
Diana Utama
36
Table 1. pemeliharaan kebun entres
4.1.2. Praktikum Penanaman Karet
No
Tanaman
Tinggi
Jumlah Payung
1
A
153 cm
2
2
B
40 cm
2
Table 2. penanaman karet
4.1.3. Praktikum Okulasi
Mingguke-
Tanaman 1
Tanaman 2
1
Tanaman Terbakar
Tanaman Terbakar
Table 3. okulasi



4.2. Pembahasan
4.2.1. Pemeliharaan Kebun Entres
Adapun hasil yang didapatkan dalam pemeliharaan kebun entress yaitu didapatkan kelompok (kelompok 5) :
Pohon karet dengan ketinggian 1 m (100 cm) bahwa minimal mata tunas yang didapat berkisar 20 mata tunas , ada juga yang mencapai lebih dari 40 dalam 1 pohon karet entress ( Bercabang dua ). Pada praktikum penanaman di dapatkan bahwa tinggi tanaman 1 pertama 153 cm dengan jumlah payung 2 dan tinggi tanaman kedua 40 cm dengan jumlah payung 2.
4.2.2. Pengajiran
Dalam praktikum pengajiran menggunakan kayu atau ajir yang berukuran 1 meter dan ajir indung yang tingginya 2,5 meter yang berfungsi untuk patok di pojokan dalam proses peng ajiran jarak tanam tanaman karet menggunakan jarak 5 x 4 m yang mana setelah proses peng ajiran selesai dilakukanlah pembuatan lobang tanam dalam proses pengajiran dapat digunakan rumus pitagoras yang digunakan pada titik awa supaya peng ajiranya sesuai dan lurus dengan barisan.
4.2.3. Penanaman karet
Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pada perkebunan rakyat yang luasnya relatif kecil, penyiapan  lahan biasanya dilakukan oleh rakyat dilakukan dengan  manual dan teknis. Penyiapan lahan secara manual dan teknis
Tebas/Imas Penebasan dilakukan untuk membuang kayu-kayu kecil dan gulma. Alat-alat yang dapat digunakan untuk menebas biasanya parang. Penebangan Kayu
Penebangan kayu secara manual biasanya menggunakan parang panjang, kapak besar atau dengan gergaji konvensional. Tanggul yang disisakan adalah 30 cm dari permukaan tanah.
Penyincangan/perpanjangan dapat juga digunakan untuk membuka lahan. Setelah kayu tumbang ranting dipotong kecil-kecil untuk dijual atau dijadikan bahan bakar batang dipotong sesuai kebutuhan untuk dijual. Apabila tidak laku dijual dibiarkan membusuk dengan sendirinya.
Penyiapan Lahan Secara Mekanis Penuh. Cara peremajaan mekanis ini lebih disukai untuk mengatasi penyakit JAP yang sangat berbahaya. Dengan peremajaan secara mekanis penuh maka sumber infeksi penyakit JAP baik yang berupa tunggul atau sisa-sisa akar-akar yang sakit dapat disingkirkan dari areal penanaman.
4.2.4. Pendederan
Dalam pemilihan biji karet yang baik dapat dilakukan dengan cara pelentingan biji yang daya melinting tinggi maka biji tersebut dalam keadaan baik, adapaun jika biji tidak melinting maka biji dalam keadaan jelek atau tidak bagus atau bisa juga di tenggelamkan jika biji mengambang ¾ nya maka bii tersebut baik dan bila biji tersebut mengapung seluruhnya maka biji tersebut tidak bagus digunakan. Dalam praktikum pendederan ini pembuaatan naungan dianjurkan untuk melindungi biji terkena panas lang dan supaya biji dalam keadaan lembab dilakukan penyiraman dua kali dlam sehari yaitu pagi dan sore supaya biji karet cepat tumbuh.
4.2.5. Pemeliharaan TBM
Dalam pemeliharaan tanaman belum menghasilkan yaitu berupa membersih kan tanaman dari gangguan gulma hal tersebut dilakukan supaya tanaman karet tidak mengalami persaingan dengan tumbuhan yang tidak diinginkan atau sering disebut dengan gulma, dalam proses perawatan yaitu dilakukan pembuangan tunas palsu, tunas palsu adalah tunas yang tumbuh bukan dari mata okulasi. Tunas ini banyak tumbuh pada bahan tanam stum mata tidur, sedangkan pada bibit stum mini atau bibit polybag, tunas palsu jumlahnya relatif kecil, selain itu juga Pembuangan Tunas Cabang juga dilakukan untuk membuang tunas cabang, yang dimaksud tunas cabang  adalah tunas yang tumbuh pada batang utama pada ketinggian sampai dengan 2,75 m-3,0 m dari atas tanah, dan Perangsangan Percabangan juga dilakukan untuk pembentukan cabang karet supaya tanamn karet tersebut tumbuhnya tidak telalu tinggi, dan yang terakhir berupa Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan pemupukan dilakukandengan cara pemberian dosis pupuk yang ditentukan berdasarkan umur tanaman, jenis tanah, kondisi penutup tanah, kondisi visual tanaman.

4.2.6. Okulasi
Dalam kegiatan okulasi yang menggabungkan sifat unggul dari kedua klon dalam satu individu, maka diperlukan kompatibilitas dari kedua batang tanaman karet. Kompatibilitas batang atas dan batang bawah adalah kecocokan antara kedua batang yang akan dilakukan okulasi agar dapat dihasilkan individu yang harmonis sehingga diperoleh produksi dan umur ekonomis yang tinggi. Jika tidak kompatibel dikhawatirkan tanaman karet tersebut tidak akan pernah tumbuh dan tidak memiliki umur ekonomi yang tinggi. Batang bawah yang siap diokulasi harus memiliki daya gabung yang baik dan tahan terhadap hama penyakit batang. Bibit semaian batang bawah telah berumur 3-5 bulan. Lazimnya berumur 5 bulan yang untuk mempermudah namun dapat juga digunakan batang yang kurang dari umur tersebut, asal pertumbuhan dan batangnya sudah cukup besar.Selain itu, pemilihan batang bawah harus dilihat dari ada tidaknya daun muda yang tumbuh, dalam hal ini perlu dipilih pohon yang tidak ada daun mudanya karena dikhawatirkan hasil okulasi tidak akan tumbuh.
Pada kegiatan okulasi, dibutuhkan mata entres yang berasal dari batang atas yang kemudian akan ditempelkan ke batang bawah dari tanaman karet. Batang atas dipilih klon yang sesuai dengan lingkungan ekologi yang bersangkutan dari klon-klon yang dianjurkan terutama klon-klon yang dianjurkan dalam skala besar. Mata entres diperlukan karena dapat berfungsi untuk kegiatan produksi karet. Mata entres disebut juga mata prima, yang ditandai adanya bekas tangkai daun atau berada pada ketiak daun. Mata inilah yang terbaik untuk okulasi.Letaknya dibagian tengah internodia.Penempelan batang atas pada batang bawah karet diawali dengan pembuatan jendela atau disebut forket. Pembuatan forket ini akan lebih baik diawali dengan menyayat sisi sebelah kiri, karena melalui sisi tersebut dapat dilihat batasan keluarnya getah dari batang karet. Sehingga dapat menyamakan dengan sisi yang sebelah kanan. Forket ini tidak boleh dibuka terlebih dahulu sebelum mata entres siap karena akan menyebabkan kambium menjadi kering. .

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum pengelolaan perkebunan karet adalah sebagi berikut :
1.    Pengajiran merupakan hal yang  sangat penting untuk dilakukan dalam pembukaan lahan, tujuan dan fungsi pengajiran yakni untuk mendapatkan barisan tanaman yang rapi dan lurus.
2.    Pembukaan lahan yakni dengan membuang sisa – sisa tanggul tanaman yang ada untuk menghindari adanya penyakit akar putih.
3.    Hama yang sering merusak tanaman karet ialah Babi hutan, yang sering merobohkan tanaman yang baru ditanam.
4.    Bibit yang akan ditanam dapat berupa stum mata tidur maupun bibit dengan payung satu.
5.    Dalam pemilihan biji karet yang baik dapat dilakukan dengan cara pelentingan biji yang daya melinting tinggi maka biji tersebut dalam keadaan baik dan bila tidak melenting maka biji tersebut dalam keadaan jelek.

5.2. Saran
Adapun saran dalam praktikum pengelolaan perkebunan karet yaitu hendaknya sebelum praktikum dilaksanakan terlebih dahulu alat dan bahan yang akan digunakan di persiapkan sebelumnya supaya praktikum dapat dilaksanakan dengan lancer sehingga praktikum cepat selesai.
LAMPIRAN

       
Lateks yang telah terkumpul       penaburan pupuk disekitar tanaman

       

Tanaman karet yang telah disadap pengokolasian tanaman karet

   
Pembungkusan tanamn yang diokulasi  mata entres 

1 komentar:

  1. artikelnya sangat membantu.. tapi sumbernya tolong dilampirkan (daftar pustaka)

    BalasHapus