Rabu, 11 November 2015

Eksplosi Jamur Entomopatogen dari Tanah

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 12 Februari 2015
NIM : 05121407020  Asisten    :  1. Aji Artanto
Kelas : Palembang          2. Anita Sari
Judul : Eksplosi Jamur Entomopatogen dari          3. Lilian Riskie
 Tanah            4. Linda Sari
          5. Rezalina Indra P
          6. Windy Lumban G
          7. Andri Purniawan
          8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanah merupakan habitat berbagai mikroorganisme seperti dari golongan jamur, serangga, nematoda, bakteri, dan banyak mikroorganisme lain. Jamur termasuk golongan yang cukup dominan di dalam tanah, baik perananya sebagai patogen tanaman, dekomposer, bahkan sebagai agen pengendali hayati. Jamur di dalam tanah yang berperan sebagai agen pengendali hayati dapat diisolasi agar diperoleh isolat murni. Jamur agen hayati tular tanah dikelompokkan sebagai jamur patogen serangga (entomopatogen) dan antagonis. Penentuan sampel tanah sangat penting dalam keberhasilan mendapatkan jamur pengendali hayati. Setiap jamur agen hayati memiliki kekhasan jenis, struktur, dan komposisi tanah sebagai habitatnya.
Eksplorasi merupakan langkah awal dari pelaksanaan teknik pengendalian hayati. Kegiatan ini didasarkan atas fenomena alam bahwa ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) dan musuh alaminya, jika ada tekanan pada lingkungan yang ekstrim tentunya keberadaan musuh alami akan terguncang. Untuk itu perlu adanya upaya pelestariaan (konservasi) dengan cara mengeksplorasi musuh alami tersebut agar dapat dikembangkan dan diperbanyak (augmentasi) serta dimanfaatkan untuk pengendaliaan. Secara umum pengertian pengendalian hama secara biologi/hayati adalah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Makhluk hidup dalam kelompok ini diistilahkan juga sebagai organisme yang berguna yang dikenal juga sebagai musuh alami, seperti predator, parasitoid, jamur, bakteri dan virus. Dalam hal penggunaan dan pengendalian mikroorganisme (termasuk virus).
Penggunaan insektisida kimia secara terus-menerus dalam pengendalian hama dikhawatirkan menimbulkan masalah yang lebih berat, antara lain terjadinya resistensi hama,pencemaran lingkungan, dan ditolaknya produkpertanian akibat residu pestisida yang melebihiambang toleransi oleh konsumen
Penggunaan entomopatogen sebagai agenspengendali hayati merupakan salah satu cara untuk menghindari dampak negatif bahan kimiaterhadap lingkungan. Agens hayati tersebutmeliputi organisme yang bersifat predator,parasit, parasitoid, dan patogen. Beberapaorganisme yang dapat bertindak sebagai agenshayati meliputi hewan vertebrata, serangga,nematoda, bakteri, virus dan jamur atau cendawan.

B. Tujuan
Praktikum bertujuan untuk memancing jamur entomopatogen yang berasal dari tanah.











II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul Eksplorasi Jamur Entomopatogen dari Tanah dilaksanakan pada tanggal 12 februari 2015 dilaboratorium Insect Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ialah karet, handspreyer, cawan petri, tissue, dan minyak makan sedangkan Bahan yang digunakan ialah tanah kopi, tanah cabai, tanah pisang, dan tanah sawit, 30 Tenebrio moliter perkelompok, baki, kain kasa hitam.

C. Cara Kerja
1. masukan tanah kedalam baki, lalu semprotkan dengan handsprayer yang berisi air
2. masukan 30 ulat hongkong kebaki yang berisi tanah
3. tutup dengan kain kasa warna hitam, ikat dengan karet
4. Olesi pinggiran baki dengan minyak goreng
5. pengamatan selama 1 Minggu         tiap minggu dihitung ulat yang hidup dan mati
 difoto
             tanah dilembabkan lagi






III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hari/
Tanggal Foto Keterangan
Hidup Mati
13 Februari 2015
  25 5
14 Februari 2015
  23 2
15 Februari 2015
  19 4
16 Februari 2015 14     5
17 Februari 2015
  11 3
18 Februari 2015
8 3
19 Februari 2015 8 0
B. Pembahasan
Pada praktikum eksplorasi jamur entomopatogen dari tanah, klompok dua mendapatkan media dari tanah kopi. Tanah yang digunakan diambil dari tanah kopi yang berada belakang laboratorium Botani, tanah yang telah diambil kemudian dibersihkan dari perakaran, lalu tanah tersebut dimasukan kedalam baki semprot dengan menggunakan spreyer yangberisi air, masukan 30 ulat hongkong kedalam baki tersebut lalu ditutup dengan kain kasa berwarna hitam supaya ulat tersebut tidak keluar dari baki dan ikat dengan karet, sebelumnya olesi pingiran baki diolesi dengan minyak goring yang berfungsi untuk mencegah adanya serangga yang masuk.
Dari hasil pengamatan hari pertama hingga terakhir didapatkan data bahwasanya ulat hongkong yang dimasukan kedalam baki yang berisi tanah kopi selalu berkurang atau mati dalam setiap hari, dari pengamatan ulat hongkong yang mati tersebut dicirikan dengan tubuh mengeras seperti mumi, dan jamur menutupi tubuh inang dengan warna putih. Hifa yang ada dan menempel pada ulat hongkong akan melakukan perbanyakan secara cepat sehingga tubuh serangga akan sepenuhnya tertutup oleh cendawan.
Jamur Entomopatogen adalah jamur yang mampu menginfeksi serangga dengan cara masuk ketubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang akan berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kulit tubuh. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin. Jamur akan berkembang dalam tubuh inang dan menyerang seluruh jaringan tubuh, sehingga serangga mati. Misalnya jamur menembus ke luar tubuh inang, tumbuh menutupi tubuh inang dan memproduksi konidia. Namun apabila keadaan yang kurang menguntungkan perkembangan jamur hanya berlangsung di dalam tubuh inang. Kegiatan eksplorasi dapat dilakukan dengan cara mencari spesimen di lapangan berupa serangga yang diduga terinfeksi jamur entomopatogen dan serangga yang sehat (tidak terinfeksi jamur), bagian tanaman (daun, akar, batang) dan tanah di sekeliling tanaman. Tanah merupakan reservoar alami atau habitat utama bagi jamur entomopatogen dan sumber infeksi bagi serangga dilapangan sebagai faktor mortalitas hama secara alami. bahwa jamur entomopatogen yang berasal dari serangga terinfeksi lebih sulit diisolasi karena sering terkontaminasi oleh jamur udara.
Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi adanya infeksi jamur entomopatogen yaitu substrat, kelembapan, suhu, pH, dan senyawa-senyawa kimia yang ada di tempat tersebut dan dipengaruhi oleh kondisi tanah, seperti kandungan bahan organik, suhu, kelembapan, kebiasaan makan serangga, adanya pestisida sintetis, dan waktu aplikasi. Secara umum, suhu di atas 30 °C, kelembapan tanah yang berkurang dan adanya antifungal atau pestisida dapat menghambat pertumbuhannya.
Jamur entomopatogen membunuh hama melalui infeksi sebagai akibat dari serangga yang kontak dengan spora jamur. Serangga dapat kontak dengan spora jamur melalui beberapa cara: semprotan jamur menempel pada tubuh serangga, serangga bergerak pada permukaan tanaman yang sudah terinfeksi jamur, atau dengan memakan jaringan tanaman yang telah diperlakukan dengan jamur. Setelah spora jamur melekat pada kulit serangga (kutikula), mereka berkecambah membentuk struktur (hifa) yang menembus tubuh serangga dan berkembang biak. Proses ini memakan waktu 3-5 hari sampai akhirnya serangga mati, bangkai yang terinfeksi dapat berfungsi sebagai sumber spora untuk penyebaran sekunder jamur. Keberhasilan penyemprotan menggunakan jamur entomopatogen bergantung pada kerentanan spesies yang bersangkutan, tingkat populasi hama, dan kondisi lingkungan pada saat aplikasi, serta sumber daya manusia itu sendiri.
Pada Umumnya cendawan entomopatogen membutuhkan lingkungan yang lembab untuk dapat menginfeksi serangga, oleh karena itu pada pengamatan tanah dijaga supaya dalam kondisi lembab, sedangkan di alam kondisi lingkungan biasanya terbentuk pada saat kondisi lingkungan lembab atau basah. Keefektifan jamur entomopatogen menginfeksi serangga hama tergantung pada spesies atau strain cendawan, dan kepekaan stadia serangga pada tingkat kelembaban lingkungan, struktur tanah (untuk serangga dalam tanah), dan temperatur yang tepat. Selain itu, harus terjadi kontak antara spora yang diterbangkan angin atau terbawa air dengan serangga inang agar terjadi infeksi.
Salah satu komponen pengendalian hama secara terpadu yang mempunyai prospek cukup baik adalah pemanfaatan jamur entomopatogen. Keuntungan penggunaan jamur entomopatogen antara lain relatif aman bagi pengguna dan lingkungan, kapasitas reproduksi tinggi, siklus hidup pendek, bersifat selektif, kompatibel dengan pengendalian lainnya, relatif murah diproduksi dan kemungkinan menimbulkan resistensi amat kecil atau lambat, dan dapat membentuk spora yang dapat bertahan lama, bahkan dalam kondisi yang tidak menguntungkan sekalipun.





















IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Eksplorasi merupakan langkah awal dari pelaksanaan teknik pengendalian hayati.
2. Jamur Entomopatogen adalah jamur yang mampu menginfeksi serangga dengan cara masuk ketubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya.
3. Keuntungan penggunaan jamur entomopatogen antara lain relatif aman bagi pengguna dan lingkungan.
4. Jamur entomopatogen membutuhkan lingkungan yang lembab untuk dapat menginfeksi serangga
5. Faktor yang mempengaruhi adanya jamur entomopatogen yaitu substrat, kelembapan, suhu, dan pH


B. Saran
Pada praktikum ini eksplorasi jamur entomopatogen dari tanah hendaknya alat dan bahan disediakan terlebih dahulu serta dilaksanakan dengan teliti dan sesuai dengan waktu pengamatan yang dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar