Rabu, 11 November 2015

BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays L)

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
DASAR-DASAR AGRONOMI

BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays L)


Oleh:
KHAYATU KHOIRI
05121407020











PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG 
2013
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.
Berdasarkan temuan-temuan genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa keAmerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan diselatan Peru pada 4.000 tahun yang lalu. [1] Kajian filogenetikmenunjukkan bahwa jagung budidaya (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7.000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama  Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali  Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 kultivar jagung, baik yang terbentuk secara alami maupun dirakit melalui pemuliaan tanaman.
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.


B. Tujuan
1. Mahasiswabisa melakukan prinsip budidaya tanaman jagung manis.
2.Mahasiswa dapat membandingkan produksi jagung manis yang di tanam dengan       jarak tanam dan kapadatan populasi yang berbeda.
3. Mahasiswa dapat melakukan cara panen tanaman jagung manis.


II. TINJAUAN PUSTAKA
1. KLASIFIKASI JAGUNG 
Kerajaan : Plantae
(tidak termasuk) Monocots
(tidak termasuk) Commelinids
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Z. mays
Varietas : Golden Boy

2. MORFOLOGI JAGUNG 
1. Tinggi Jagung
Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
2. Struktur Akar
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
3. Struktur Batang
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.
4. Struktur Daun
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.
5. Struktur Bunga
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
 
3. SYARAT TUMBUH JAGUNG 
Jagung di Indonesia kebanyakan ditanam di dataran rendah baik di tegalan, sawah tadah hujan maupun sawah irigasi. Sebagian terdapat juga di daerah pegunungan pada ketinggian 1000- 1800 m di atas permukaan laut. a. Tanah Tanah yang dikehendaki adalah gembur dan subur, karena tanaman jagung memerlukan aerasi dan drainase yang baik. Jagung dapat tumbuh baik pada berbagai macam tanah. Tanah lempung berdebu adalah yang paling baik bagi pertumbuhannya. Tanah-tanah berat masih dapat ditanami jagung dengan pengerjaan tanah lebih sering selama pertumbuhannya, sehingga aerasi dalam tanah berlangsung dengan baik. Air tanah yang berlebihan dibuang melalui saluran drainenase yang dibuat dinatar barisan jagung. Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untiik jagung adalah sekittir 5,5 - 7,0. Tanah dengan kemiringan tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan tegak lurus terhadap miringnya tanah, derigan maksud untuk mencegah keganasan erosi yang terjadi pada waktu turun hujan besar, b. Iklim Faktor-faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian dari sinar matahari dan curah hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Tempat penanaman jagung harus mendapatkan sinar matahari cukup dan jangan terlindung oleh pohon-Pohonan atau bangunan. Bila tidak terdapat penyinaran dari matahari, hasilnya akan berkurang. Temperatur optimum untuk pertumbuhan jagung adalah antara 23 - 27 C.
 4. HAMA PENYAKIT
Hama dan penyakit penting pada tanaman jagung adalah: Hama. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein) Setelah 4-5 hari ditanam biasanya biji mulai tumbuh. Penyemprotan untuk mencegah/memberantas lalat bibit segera dilakukan setelah biji tumbuh dan tersembul di atas tanah. Penyemprotan dilakukan dengan interval 2-3 hari sekali. Pestisida dipergunakan adalah Basudin (Diazinon), Surecide dan lain-lain, dengan dosis 1,5- 2,5 cc/ liter air. Serangan lalat bibit ini berlangsung sampai tanaman berumur tanaman ± 3 minggu. Ulat Agrotis (agrotis Sp ) , Hama ini menyerang pada waktu tanaman masih kecil. Dapat diberantas dengan cara mencari dan membunuh ulatnya, yang biasanya terdapat di dalam tanah atau sebelum ditanami, tanah diberi insektisida terlebih dahulu. Ulat daun (Prodenia litura F). Menyerang pupuk daun pada waktu tanaman berumur 1 (satu) bulan. Pemberantasan agar dilakukan secepatnya dengan insektisida seperti terdapat pada serangan lalat bibit. Penggerek daun (Sesamia inferens WLK). Menyerang pada waktu tanaman telah berbunga. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan penyemprotan segera setelah terlihat adanya telur-telur yang biasanya terletak di bawah daun pada saat menjelang berbunga. Ulat tanah (Leucania unipuncta, HAW) Menyerang daun tanaman dewasa, biasanya pada malam hari, sampai mencapai jumlah ratusan. Penyemprotan harus dilakukan setelah gejala pertama terlihat dan jangan sampai terlambat. Ulat tongkol (Heliothis armigera), Merupakan, ulat perusak tongkol yang penting. Penyemprotan harus segera dilakukan bilamana terlihat telur-telur yang biasanya diletakkan pada rambut (silk) dan bakal buah atau tongkol: Secara umum, penyemprotan sebaiknya dilakukan bilaman diperlukan saja, sehingga penggunaan- pertisida lebih efisien. Waktu yang baik untuk menyemprot adalah pagi hari antara jam 06.00 - 09;00 atau sore hari jam 16.00 -18.00 Penyakit: Penyakit terpenting pada jagung adalah penyakit bulai, atau downy mildew (Sclerospora maydis Palm). Tanaman yang terserang- daun-daunnya herwarna kuning keputih-putihan bergaris-garis klorotis sejajar dengan arah urat daun. Pada bagian bawah daun terdapat Konidia berwarna putih seperti butiran-butiran tepung: Menyerang tanaman.muda sampai umur ± 45 hari. Serangan pada tanaman semasa kecil sering mengakibatkan kematian: Serangan pada tanaman yang lebih besar mengakibatkan pertumbuhan tongkol yang tidak sempurna. Pemberantasan , dengan fungisida atau bahan kimia lain yang efektif sampai saat ini belum diketemukan. Usaha pemberantasannya yang dilakukan adalah dengan mencabut dan membakar tanaman yang terserang dan menanam kembali dengan varitas yang tahan. Dewasa ini terdapat beberapa. varitas yang tahan seperti DMR.S, DMR:3, dan beberapa varitas-hasil persilangan yang masih dalam pengujian (Harapan, DMR dan sebagainya). 2. Penyakit-penyakit penting yang terdapat pada jagung di antaranya adalah becak daun (Helminthosporium sp) dan karat daun (Puccinia sorghi Sehw). 

5. TEKNIK BUDIDAYA 
Benih Benih diambil hanya dari tanaman dan tongkol yang baik dan sehat saja. Pilihlah tongkol-tongkol yang besar, barisan biji lurus dan penuh, tertutup rapat oleh kelobotnya, dan cukup tua. Dari tongkol.-tongkol terpilih, pisahkanlah biji-biji kecil yang terdapat pada bagian pangkal dan ujung dari tongkol. Hanya biji yang rata besarnya dan sehat saja diambil sebagai benih. Bila jumlah tongkol terpilih sangat terbatas, dapat juga digunakan semua biji yang terdapat pada tongkol tersebut. Benih harus cukup sehat dan kering, bertenaga tumbuh lebih dari 90%, murni dan bebas dari kotoran. Pada dewasa ini terdapat benih-benih varitas unggul yang cocok untuk dataran rendah dengan umur dipanen (110 hari), seperti, Harapan, Metro, Bogor Composite-2 dan yang berumur ,genjah adalah: Penjalinan, Genjah, Kretek, Genjah Kertas, Bogor Comopsit-10, dll dan untuk.dataran tinggi adalah: Bastar Kuning, Bima, Pandu Kimia Putih" Rocol dan lain-lain., Waktu tanam. Waktu tanam yang baik adalah sebagai berikut: a. Ditegalan, jagung ditanam pada musim labuhan/ permulaan musim hujan yaitu. pada bulan September/Nopember. Pengerjaan tanah hendaknya dilakukan jauh sebelumnya, sehingga tanah dalam keadaan siap tanam. Pada waktu hujan sudah mulai turun. Kelambatan penanaman jagung labuhan sampai dengan bulan Desember mengakibatkan tanaman menderita serangan penyakit bulai (Downy mildew) yang berat dan dapat mengakibatkan kegagalan total. Penanaman jagung ditegalan dapat pula dilakukan, pada musim. marengan/saat musim hujan hampir berakhir, pada bulan Februari - April. b. Ditanah sawah biasanya jagung ditanam dalam tiga musirn yaitu pada musim labuhan, sebelum padi musim penghujan ditanam, pada musim marengan setelah padi musim penghujan dipanen dan juga pada musim kemarau. Untuk peneneman musim labuhan sebaiknya digunakan varitas Genjah atau varitas unggul agak dalam yang dipungut muda, sehingga tersedia cukup waktu untuk persiapan penanaman padi sawah. Cara bertanam dan pemeliharaan tanaman.
Pengolahan tanah: Pada waktu pengolahan, keadaan tanah hendaknya tidak terlampau basah tetapi harus cukup lembab sehingga mudah dikerjakan, dan tidak lengket, sampai tanah menjadi cukup gembur. Pada tanah-tanah berpasir atau tanah ringan tidak banyak diperlukan pengerjaan tanah. Pada tanah-tanah berat dengan kelebihan air, perlu dibuat saluran penuntas air. Pembuatan saluran dan pembumbunan yang tepat dapat menghindarkan terjadinya genangan air yang sangat merugikan bagi pertumbuhan tanaman jagung. Pengolahan tanah untuk jagung labuhan harus tepat dan cepat dapat dilakukan karena hujan kadangkala datang lebih awal. Bilamana tidak sempat untuk mengerjakan tanah secara keseluruhan karena waktu tanam mendesak, maka pengerjaan tanah dapat dilakukan hanya pada barisan yang akan ditanami saja sedalam 15 - 20 cm sampai tanah menjadi cukup gembur. Berdasarkan hasil penelitian pada tanah: latosol dan aridosol cara ini memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan pengerjaan tanah yang biasa.








III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan Waktu
Praktikum Budidaya Tanaman Jagung Manis (Zea mays L.) ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 28 Maret 2013 di ruang RKC 1106 Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.

B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada saat praktikum Budidaya Tanaman Jagung Manis (Zea mays L.)  adalah : 1.Cangkul, 2.Parang, 3. Gembor, 4. Kayu, 5. Tali, 6. Meteran, 
Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum Budidaya Tanaman Jagung Manis (Zea mays L.) adalah :1.Benih jagung manis 2.Pupuk NPK Mutiara. 


C. Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum adalah :
1. Lakukan persiapan lahan dengan membajak lahan secara manual.
2. Lahan yang telah dibajak, tanah diolah terlebih dahulu hingga gembur dengan cara mencangkul tanah dengan kedalaman ±30 cm.
3. Ukur jarak tanam jagung dengan jarak tanam kacang tanah dengan jarak yang telah ditentukan. Jarak tanam jagung adalah 70 cm x 25 cm, sedangkan pada tanaman kacang tanah adalah 25 cm x 25 cm.
4. Tunggal lubang tanam sedalam 5 cm dan benih dimasukkan kedalam lubang tanam yaitu titik pengukuran jarak yang telah dilakukan.
5. Lakukan pemeliharaan tanaman setelah benih selesai ditanam.
6. Lakukan pengamatan setelah umur tanaman 14 hari sampai 42 hari.

































IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Pengamatan Organ Pertumbuhan Vegetatif (Jagung)
a. Tanaman Sampel I
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm)
9 April 2013 1 9 Hari 3 15
15 April 2013 2 15 Hari 5 3,1
22 April 2013 3 22 Hari 5 54
29 April 2013 4 29 Hari 7 66
6 Mei 2013 5 36 Hari 9 92

b. Tanaman Sampel II
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 5 15
15 April 2013 2 15 Hari 6 3,1
22 April 2013 3 22 Hari 6 54
29 April 2013 4 29 Hari 5 66 Ganti
6 Mei 2013 5 36 Hari 6 92


c. Tanaman Sampel III
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 3 16,5
15 April 2013 2 15 Hari 5 29,3
22 April 2013 3 22 Hari 5 47
29 April 2013 4 29 Hari 7 70
6 Mei 2013 5 36 Hari 9 89

d. Sampel Tanaman IV
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 3 19,5
15 April 2013 2 15 Hari 6 35
22 April 2013 3 22 Hari 7 56
29 April 2013 4 29 Hari 8 77
6 Mei 2013 5 36 Hari 8 81

e. Tanaman Sampel V
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 3 14
15 April 2013 2 15 Hari 5 31
22 April 2013 3 22 Hari 5 50
29 April 2013 4 29 Hari 6 58 Ganti
6 Mei 2013 5 36 Hari 6 62

f. Tanaman Sampel VI
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 3 12,5
15 April 2013 2 15 Hari 5 24
22 April 2013 3 22 Hari 5 42
29 April 2013 4 29 Hari 7 70
6 Mei 2013 5 36 Hari 6 71 Ganti

g. Tanaman Sampel VII
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 3 13
15 April 2013 2 15 Hari 6 31,5
22 April 2013 3 22 Hari 7 58
29 April 2013 4 29 Hari 7 83
6 Mei 2013 5 36 Hari 6 62 Ganti

h. Tanaman Sampel VIII
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 3 15
15 April 2013 2 15 Hari 7 30
22 April 2013 3 22 Hari 7 33
29 April 2013 4 29 Hari 8 72
6 Mei 2013 5 36 Hari 6 71 Ganti

i. Tanaman Sampel IX
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 3 19
15 April 2013 2 15 Hari 6 32
22 April 2013 3 22 Hari 6 58
29 April 2013 4 29 Hari 6 61 Ganti
6 Mei 2013 5 36 Hari 6 72 Ganti

j. Tanaman Sampel X
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 6 18,5
15 April 2013 2 15 Hari 5 34,5
22 April 2013 3 22 Hari 6 60
29 April 2013 4 29 Hari 7 58 Ganti
6 Mei 2013 5 36 Hari 7 62 Ganti

2. Pengamatan Organ Pertumbuhan Vegetatif (Kacang Tanah)
a. Tanaman Sampel I
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm)
9 April 2013 1 9 Hari 4 3
15 April 2013 2 15 Hari 16 6,4
22 April 2013 3 22 Hari 36 10
29 April 2013 4 29 Hari 60 12,5
6 Mei 2013 5 36 Hari 120 17

b. Tanaman Sampel II
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 4 3
15 April 2013 2 15 Hari 18 7,1
22 April 2013 3 22 Hari 34 10
29 April 2013 4 29 Hari 54 11,5
6 Mei 2013 5 36 Hari 102 16

c. Tanaman Sampel III
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 4 4
15 April 2013 2 15 Hari 22 8
22 April 2013 3 22 Hari 38 13,4
29 April 2013 4 29 Hari 66 17
6 Mei 2013 5 36 Hari 122 21,1

d. Sampel Tanaman IV
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 2 2
15 April 2013 2 15 Hari 10 6
22 April 2013 3 22 Hari 32 9,5
29 April 2013 4 29 Hari 52 13
6 Mei 2013 5 36 Hari 88 15,8

e. Tanaman Sampel V
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 4 3
15 April 2013 2 15 Hari 16 6,2
22 April 2013 3 22 Hari 36 10
29 April 2013 4 29 Hari 60 12,9
6 Mei 2013 5 36 Hari 120 19


f. Tanaman Sampel VI
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 6 3,5
15 April 2013 2 15 Hari 20 8
22 April 2013 3 22 Hari 38 16,8
29 April 2013 4 29 Hari 68 19,6
6 Mei 2013 5 36 Hari 126 23,5

g. Tanaman Sampel VII
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 4 2
15 April 2013 2 15 Hari 16 6,7
22 April 2013 3 22 Hari 36 9
29 April 2013 4 29 Hari 60 13,4
6 Mei 2013 5 36 Hari 120 16

h. Tanaman Sampel VIII
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 4 3
15 April 2013 2 15 Hari 12 6,3
22 April 2013 3 22 Hari 34 9
29 April 2013 4 29 Hari 56 14
6 Mei 2013 5 36 Hari 88 16,2

i. Tanaman Sampel IX
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 4 2
15 April 2013 2 15 Hari 14 5
22 April 2013 3 22 Hari 30 7,5
29 April 2013 4 29 Hari 52 12
6 Mei 2013 5 36 Hari 84 15,2

j. Tanaman Sampel X
Tanggal Pengamatan ke- Umur Tanaman Jumlah Daun (helai) Tinggi Tanaman (cm) Keterangan
9 April 2013 1 9 Hari 4 3
15 April 2013 2 15 Hari 16 7,5
22 April 2013 3 22 Hari 36 11
29 April 2013 4 29 Hari 54 13,5
6 Mei 2013 5 36 Hari 104 16



B. Pembahasan
Dari hasil yang di dapatkan pada praktikum penanaman jagung iyalah yang telah di tuliskan di atas yang mana ada pengantian tanaman di kareenakan tanaman jagung yang menjadi sampel pada kelompok kami ini di makan oleh babi (seruduk), oleh karenanyakami mengantinya dengan tanaman yang masih utuh. Faktor yang mempengaruhitanaman jagung yang ada iyalahsebagai berikut ini:
1. IklimIklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah daerah-daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang basah. Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50o LU hingga 0-40o LS. Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya jagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau. Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah. Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34o C, akan tetapi bagi pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27o C. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30o C. Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil.
2. Media Tanam Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus. Agar supaya dapat tumbuh optimal tanah harus gembur, subur dan kaya humus. Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain: andosol (berasal dari gunung berapi), latosol, grumosol, tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur berat (grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik dengan pengolahan tanah secara baik. Sedangkan untuk tanah dengan tekstur lempung/liat (latosol) berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhannya. Keasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH antara 5,6 - 7,5. Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik. Tanah dengan kemiringan kurang dari 8 % dapat ditanami jagung, karena disana kemungkinan terjadinya erosi tanah sangat kecil. Sedangkan daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu.
3. Ketinggian TempatJagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai di daerah pegunungan yang memiliki ketinggian antara 1000-1800 m dpl. Daerah dengan ketinggian optimum antara 0-600 m dpl merupakan ketinggian yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung.
            Morfologi Tanaman Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman berumah satu Monocious di mana letak bunga jantan terpisah dengan bunga betina pada satu tanamn. Jagung termasuk tanaman C4 yang mampu beradaptasi dengan baik pada faktor-faktor pembatas pertumbuhan dan hasil. Daun tanaman C4 sebagai agen penghasil fotosintat yang kemudian didistribusikan, memiliki sel-sel seludang pembuluh yang mengandung klorofil. Didalam sel ini terjadi dekarboksilasi malat dan aspartat yang menghasilkan CO2 yang kemudian memasuki siklus Calvin membentuk pati dan sukrosa. Ditinjau dari segi kondisi lingkungan, tanaman C4 teradaptasi pada terbatasnya banyak faktor seperti intensitas radiasi surya tinggi dengan suhu tinggi, serta kesuburan tanah yang relative rendah. Sifat-sifat menguntungkan dari jagung sebagai tanaman C4 antara lain aktivitas fotosintesis pada keadaan normal relative tinggi, fotorespirasi sangat rendah, transpirasi rendah serta efisien dalam penggunaan air. Sifat-sifat tersebut merupakan sifat fisiologis dan anatomis yang sangat menguntungkan dalam kaitannya dalam hasil.
Tanaman budidaya seperti jagung, selain memerlukan unsur hara dalam tanah juga memerlukan tam,bahan hara agar pertumbuhannya optimal.tidak dapat dipungkiri bahwa pemupukan mengambil peran yang cukup penting dalam budidaya tanaman semusim. Pemupukan harusla dilakuakan secara tepat baik dosis, cara dan waktu pemupukan agar dapat diserap tanaman secara maksimal.
Dari pelaksanaan praktikum yang telah dilakukan, ada beberapa gangguan pada pertanamn terkait dengan kekahatan unbsur hara, beberpa yang nampak antara lain:
Kekurangan unsur N, beberapa tanaman terlihat kerdil dan warna daun menjadi hijau kekuningan. Pada gejala yang lebih lanjut daun akhirnya dapat berubah coklat danmongering. Kekurangan unsur P, ada beberpa tanaman menunjukkan gejala kekurangan Phospat seperti yang Nampak yaitu pertumbuhan yang lambat dan kerdil serta pada beberapa daun terdapat warna keungu-unguan.
Selain permasalahyang telah dijelaskan diatas, praktikan juga menemui beberapa keanehan pada habitus beberapa tanaman jagung yang ada dilahan. Beberpa penyimpanga morfologi tanaman jagung yang ditemui antara lain: Brachytic , dimana ruas pada batang jagung memendek dan tidak tumbuh sempurna, serta daun tidak memanjang normal. Adherent, beberapa daun yang lebih tinggi melekat menjadi satu dan menghalangi terbentuknyamalai. Tassel seed, tongkol atau bunga betina berada pada tajuk tertinggi tnaman dan tidak berada pada ketiak daun, bunga betina dan malai berdekatan tetapi tidak menyatu.
Beberapa penyimpangan diatas diduga karena terjadinya mutasi kromoson pada jagung. Penyimpanga ini tidak dapat diperkirakan sebelumnya karena bentuk biji yang ditanamnm relatif seragan dan tidak menunjukkan keanehan atau penyimpangan. 













V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Budidaya jagung manis meliputi pengolahan tanah, penanaman, pemupukan, pembumbunan, pengairan, pengendalian gulma, hama dan patogen penyebab penyakit dan panen.
2. Nilai ILD sebesar 0,009 untuk panen pertama, 0,427untuk panen kedua dan 0,022 untukpanenketiga
3. Dari kurva sigmoid dapat dilihat bahwa tanaman mengalami pertumbuhan tiap minggunya
4. Indeks panen (IP) menggambarkan hasil asimilat yang diperoleh tanaman.
5. Nilai IP yang tinggi menunjukkan bahwa tanaman tersebut efisien karena hasil fotosintesisnya dapat ditranslokasikan ke organ yang akan dipanen.

B. Saran
1. Dalam pembudidayaan hendaknya dilakukan secara intensif agar panen maksimal.
2. Pemanenan ubinan hendaknya dilakukan dalam waktu yang sesuai sehingga tujuan penanman tercapai
3. Diperlukan perhitungan benih yang benar sehingga benih yang digunakan cukup.



DAFTAR PUSTAKA
 Marlina V, enni.2004.pengaruh pemberian dosis kompos azzola terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung.proposal skripsi progam studi agronomi jurusan budi daya pertanian fakultas pertanian universitas jambi:jambi
http://news.nationalgeographic.com/news/2006/03/0302_060302_peru_corn.html]
 James, M. G.. "Characterization of the Maize Gene sugary1, a Determinant of Starch Composition in Kernels". The Plant Cell 7 (4): 417-429.
 Sumber Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan Republik Indonesia
http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/09/time/091302/idnews/876754/idkanal/317
 http://www.kontan.co.id/index.php/bisnis/news/37303/Produksi-Jagung-Nasional-Terganjal-Cuaca
 http://www.grains.org/corn







Tidak ada komentar:

Posting Komentar