Rabu, 11 November 2015

Perbanyakan Jamur Antagonis di Media Padat (GYA)

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 9 April 2015
NIM : 05121407020  Asisten    :  1. Aji Artanto
Kelas : Palembang          2. Anita Sari
Judul : Perbanyakan Jamur Antagonis di Media          3. Lilian Riskie
 Padat (GYA)            4. Linda Sari
          5. Rezalina Indra P
          6. Windy Lumban G
          7. Andri Purniawan
          8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanaman ada yang sehat, layu hingga menjadi mati. Ini menjadi persoalan bagi petani, matinya tanaman jelas tidak akan menghasilkan, dampaknya si petani merugi. Waktu, tenaga dan fikiran yang dicurahkan untuk kegiatan bertani habis percuma ketika tanaman mati.
Bagi petani yang mau berfikir tentang masalah itu pasti akan mencari akar permasalahan kenapa tanaman layu, hingga menjadi mati. Petani kreatif selalu bertanya kepada para ahli penyakit tanaman, bahwa tanaman yang layu salah satu penyebabnya jamur yang mematikan tanaman.
Tanah merupakan habitat berbagai mikroorganisme seperti dari golongan jamur, serangga, nematoda, bakteri, dan banyak mikroorganisme lain. Jamur termasuk golongan yang cukup dominan di dalam tanah, baik perananya sebagai patogen tanaman, dekomposer, bahkan sebagai agen pengendali hayati. Jamur di dalam tanah yang berperan sebagai agen pengendali hayati dapat diisolasi agar diperoleh isolat murni. Jamur agen hayati tular tanah dikelompokkan sebagai jamur patogen serangga (entomopatogen) dan antagonis. Penentuan sampel tanah sangat penting dalam keberhasilan mendapatkan jamur pengendali hayati. Setiap jamur agen hayati memiliki kekhasan jenis, struktur, dan komposisi tanah sebagai habitatnya.
Jamur antagonis adalah kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman. Mekanisme jamur antagonis dalam menghambat patogen tanaman dapat melalui antibiosis, lisis, kompetisi, dan parasitisme. Di samping itu, jamur antagonis mampu mencegah infeksi patogen terhadap tanaman melalui aktivitas Induce Sistemic Resistance (ISR).
Eksplorasi merupakan langkah awal untuk mendapatkan antagonis yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menentukan waktu, tempat, metode, serta penanganan sampel hasil eksplorasi. Selanjutnya, jamur antagonis hasil eksplorasi perlu diuji di laboratorium (in vitro), rumah kasa (in planta), dan di lapangan (in situ). Jamur antagonis yang terpilih sebaiknya memilki sifat: dapat menghambat pertumbuhan patogen tanaman, berkecambah dan tumbuh dengan cepat, tahan atau toleran terhadap antagonis lain, persisten dalam keadaan ekstrim, dapat diproduksi secara massal, dan tidak menyebabkan gangguan terhadap tanaman.
Beberapa jamur antagonis mampu tumbuh pada bahan tanaman yang telah lapuk, bahan tanaman sakit, bahkan dapat tumbuh pada badan buah patogen tanaman tertentu. Jamur antagonis yang paling sering tumbuh pada kondisi seperti ini adalh genus trichoderma. Antagonis ini biasanya ditandai dengan tumbuhnya koloni berwarna hijau pada media tempat tumbuhnya. Koloni jamur yang diduga sebagai antagonis ini diisolasi di laboratorium dengan menanamkannya pada media Dextrose Agar (PDA) dan diinkubasikan selama 3-5 hari. Koloni yang tumbuh diidentifikasi secara makroskopis dengan mengamati tipe dan warna koloni, dan secara mikroskopis dengan mengamati struktur hifa, bentuk dan ukuran pialid dan konidia.

B. Tujuan
Praktikum bertujuan untuk mendapatkan biakan murni jamur antagonis dimedia padat GYA.

II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul Perbanyakan Jamur Antagonis dimedia padat (GYA) dilaksanakan pada tanggal 09 April 2015 pukul 10:00 WIB sampai dengan selesai, dilaboratorium Fitopatologi Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum adalah LAF, cawan petri, pinset, Bunsen, isolasi, dan baiklin, sedangkan bahan yang digunakan adalah 20 gram gula, 10 gram yearst, 1 bungkus agar, 1 liter air seteril ( Aquades).

C. Cara Kerja
1. siapkan biakan jamur antagonis
2. masukan kedalam cawan petri, setelah media padat siap lalu lakukan perbanyakan jamur antagonis.
3. perbanyakan jamur antagonis dilakukan di laminar air flow serta hidupkan Bunsen untuk menseterilisasi alat yang digunakan.
4. buka secara perlahan tutup cawan petri media padat kemudian putar-putar dibelakang Bunsen dan ambil sedikit biakan jamur antagonis dengan pinset, lalu masukan kedalam cawan petri yang berisi media padat lalu putar-putar kembali dibelakang Bunsen.
5. kemudian cawan petri diisolasi , lalu diberi label nama praktikan.




III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
GAMBAR KETERANGAN

jamur yang dibiakan adalah jamur yang bersifat antagonis
komposisi media yang digunakan adalah 20 g gula dan 10 g yeart, agar dan aquadest
perbanyakan jamur dilaksanakan dilaminar air flow
kesterilisasian adalah aspek utama dalam perbanyakan jamur antagonis ini
dari hasil yang didapatkan perbanyakan jamur tidak berhasil, karena media terkontaminasi dan di penuhi oleh air yang diakibatkan ditutup dengan plastik.







B. Pembahasan
Pada praktikum pengelolaan hayati dengan judul perbanyakan jamur antagonis dimedia padat PDA didapatkan bahwasanya perbanyakan jamur antogonis tidak berhasil hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan dari proses isolasi dan tempat penyimpanannya, yang diketahui bahwasanya setelah dilakukan pengamatan jamur ang berada di media padat tersebut dikumpulkan menjadi satu dalam sekelas, kemudian ditutup menggunakan plastic sehingga keadaan nya mengguap dan terdapat air didalam cawan petri tersebut sehingga perbanyakan jamur antagonis tidak berhasil.
Jamur antagonis merupakan kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman. Mekanisme jamur antagonis dalam menghambat patogen tanaman dapat melalui antibiosis, lisis, kompetisi, dan parasitisme. Di samping itu, jamur antagonis mampu mencegah infeksi patogen terhadap tanaman melalui aktivitas Induce Sistemic Resistance (ISR).
Eksplorasi merupakan langkah awal untuk mendapatkan antagonis yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menentukan waktu, tempat, metode, serta penanganan sampel hasil eksplorasi. Selanjutnya, jamur antagonis hasil eksplorasi perlu diuji di laboratorium. Jamur antagonis yang terpilih sebaiknya memilki sifat dapat menghambat pertumbuhan patogen tanaman, berkecambah dan tumbuh dengan cepat, tahan atau toleran terhadap antagonis lain, persisten dalam keadaan ekstrim, dapat diproduksi secara massal, dan tidak menyebabkan gangguan terhadap tanaman.
Dalam proses perbanyakan jamur antagonis dimedia padat menggunakan bahan yaitu 20 gram gula, 10 gram yearst, 1 bungkus agar, 1 liter air seteril ( Aquades), proses perbanyakan jamur antagonis dilakukan didalam Laminar air flow agar jamur yang didapatkan tidak terkontaminasi, didalam laminar air flow proses perbanyakan dibantu dengan menggunakan Bunsen yang digunakan untuk mensterilisasikan alat alat yang akan digunakan seperti cawan petri, pinset, proses pensterilisasian dilakukan dibelakang Bunsen.

IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dalam praktikum perbanyakan jamur antogonis dimedia padat adalah sebagai berikut ini :
1. Jamur antagonis merupakan kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman.
2. perbanyakan jamur dilaksanakan didalam laminar air flow.
3. kesterilisasian adalah aspek utama dalam perbanyakan jamur antagonis.
4. perbanyakan jamur antagonis dimedia padat tidak berhasil yang diakibatkan terkontaminasi
5. ciri perbanyakan jamur Antagonis yang baguas adalah berwarna coklat kehitaman.

B. Saran
Saran dalam mengikuti praktikum hendaknya dilakukan dengan teliti dan menjaga kesterilisasian alat dan bahan serta lingkungan supaya dalam proses perbanyakan jamur antagonis dimedia padat dapat berhasil.

Perbanyakan Jamur Entomopatogen di Media Cair GYB

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 2 April 2015
NIM : 05121407020 Asisten : 1. Aji Artanto
Kelas : Palembang             2. Anita Sari
Judul : Perbanyakan Jamur Entomopatogen di Media     3. Lilian Riskie
Cair GYB     4. Linda Sari
            5. Rezalina Indra P
                6. Windy Lumban G
                7. Andri Purniawan
                8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengendaian hayati merupakan bagian dari pengendalian yang alami karena memanfaatkan faktor pengendali yang sudah ada di alam. Factor pengendali tersebut merupakan musuh alami organisme yang dikendalikan. Secara umum pengertian pengendalian hama secara biologi/hayati adalah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Makhluk hidup dalam kelompok ini diistilahkan juga sebagai organisme yang berguna yang dikenal juga sebagai musuh alami, seperti predator, dan parasitoid.
Musuh alami dari hama yang dapat digunakan adalah jamur. Jamur yang dapat mengendalikan serangga biasa disebut dengan jamur entomopatogen.Beberapa jenis jamur dapat dimanfaatkan sebagai agen pengendali hama. Karena sebagian jamur memiliki kemampuan untuk mengganggu fungsi fisiologis serangga. Bahkan dapat bersifat mematikan bagi serangga hama. Jamur entomopatogen menyerang serangga yang masih hidup, kemudian ia akan mengganggu fungsi fisiologis serangga. Setelah jamur membuat serangga mati, jamur masih dapat hidup bahkan setelah serangga berubah menjadi bangkai.
Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan cara menggunakan pestisida nabati dan dapat pula menggunakan musuh alami dari hama. Musuh alami hama dapat berupa parasitoid maupun mikroorganisme lainnya. Penggunaan musuh alami memang tidak seefektif apabila menggunakan pestisida kimia , tetapi kelebihan dari menggunakan musuh alami adalah lebih ramah lingkungan dan lebih ekonomis karena dapat mengurangi biaya produksi pertanian, yaitu dari biaya pengendalian hama pada tanaman budidaya.
Pengendalian hayati (biological control) adalah pengurangan jumlah inokulum atau aktivitas produksi penyakit (deseases producing-activity) dari patogen yang disebabkan oleh satu atau beberapa organisme selain manusia. Aktivitas produksi penyakit termasuk didalamnya pertumbuhan, keinfektifan, virulensi, agresifitas dan kualitas lain dari patogen. Di dalamnya termasuk 1) individu atau populasi avirulen atau hipovirulen dari spesies patogen itu sendiri, 2) manipulasi genetik tanaman inang, kultur teknis, atau dengan menggunakan mikroorganisme untuk meningkatkan ketahanan tanaman inang terhadap patogen, dan 3) pemanfaatan antagonis patogen yang diartikan sebagai mikroorganisme yang menginterferensi pertahanan atau aktivitas produksi penyakit dari patogen . Pengendali hayati dapat berupa : kultur teknis (pengelolaan habitat) sehingga membuat lingkungan mendukung untuk pertumbuhan antagonis, penggunaan tanaman inang yang resisten, atau keduanya ; persilangan tanaman untuk meningkatkan ketahanan terhadap patogen atau keadaan tanaman inang yang mendukung (disukai) untuk aktivitas antagonis ; introduksi antagonis, strain non-patogenik, dan agen atau organisme lain yang mempunyai manfaat yang sama.

B. Tujuan
Tujuan dalam praktikum ini adalah untuk memperbanyak biakan mumi jamur entomopatogen di media cair GYB.



II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul perbanyakan jamur entomopatogen di media cair GYB dilaksanakan pada tanggal 2 April 2015 pukul 10:00 WIB sampai dengan selesai dilaboratorium Insect Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah 1000 ml Aquades, 5 gr tepung tenebrio, 20 gr yeast, 20 gr gula, Baskom, Pengaduk, Botol selai, Alumunium foil, Plastik, Karet, Autoclave, LAF, Bunsen, Pinset, Gelas ukur.

C. Cara Kerja
Tahap I pembuatan GYB
1. masukan semua bahan kedalam baskom, dan homogenkan.
2. setelah homogeny tuangkan bahan ke masing- masing botol selai 100 ml- 200ml dengan menggunakan gelas ukur.
3. tutup botol selai dengan alumunium foil, plastic dan karet.
4. lalu autoclave botol-botol selai berisi GYB selama 2 jam.
5. setelah diautoclave, pindahkan botol-botol selai ke dalam LAF, susun dan dinginkan sambil di UV.

Tahap II Reisolasi jamur ke GYB
1. setelah GYB dingin seterilkan laminar dengan Alkohol lalu hidupkan Bunsen.
2. ambil satu botol selai, am bil isolate jamur entomopatogen dan putar-putar didekat api bunsen lalu ambil sedikit
3. potongan jamur dengan pinset.
4. ambil lagi botol selai yang dibuka tadi , lalu putar- putar lagi di api Bunsen dan masukan isolate jamur tadi kedalam botol selai dengan pinset.
5. tutup lagi botol selai dengan alumunium, plastik dan karet
6. shaker selama 7 hari.


























III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil yang didapatkan dalam praktikum perbanyakan jamur entomopatogen di media cair GYB adalah sebagai berikut ini :

ditutup dengan
plastic, alumunium foil isolat jamur
dan diikat dengan karet             botol selai  
  Bunsen bunsen
Botol selai yang berisi setelah itu buka tutup pada botol
GYB dingin dan telah selai dekat api Bunsen lalu ambil
diautoclave selama dua jam isolat jamur entomopatogen, sterilkan dekat api Bunsen.


pinset

  pinset
       bunsen

bunsen
Ambil sedikit potongan jamur dengan pinset, kemudian masukan kedalam botol selai,                                     kegiatan ini dilakukan dekat api Bunsen.


setelah itu tutup kembali botol selai GYB yang berisi jamur entomopatogen dengan pelastik, alumunium foil dan ikat dengan karet, lalu shaker selama 7 hari.


B. Pembahasan
Dalam praktikum perbanyakan jamur entomopatogen dengan media cair berupa GYB atau glucose yeart brooth dengan komposisi 1000 ml Aquades, 5 gr tepung tenebrio, 20 gr yeast, 20 gr gula, untuk komposisi tersebut sesuai dengan kebutuhan yang akan digunakan, perbanyakan jamur entomopatogen dilakukan dengan dua tahapan yaitu tahap pertama pembuatan media cair dan tahap kedua reisolasi jamur ke GYB.
Pada praktikum ini, praktikum perbanyakan jamurentomopategen dengan media cair tidk dilakukan karena bahan yang akan digunakan telah habis dan juga terkendalo oleh waktu yang sangat sedikit, untuk cara kerja dalam pembuatan GYB yaitu masukan semua bahan kedalam baskom, dan homogenkan. Setelah homoge tuangkan bahan ke masing- masing botol selai 100 ml- 200ml dengan menggunakan gelas ukur. Kemudian tutup botol selai dengan alumunium foil, plastic dan karet. lalu autoclave botol-botol selai berisi GYB selama 2 jam. Setelah diautoclave, pindahkan botol-botol selai ke dalam LAF, susun dan dinginkan sambil di UV. dalam pembuatan GYB tersebut haruslah seteril supaya biakan jamur yang didapatkan tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya.
Untuk tahap selanjutnya yaitu reisolasi jamur entomopatogen ke GYB, dalam tahap ini di lakukan setelah GYB dingin dan seterilkan laminar dengan Alkohol lalu hidupkan Bunsen kemudian ambil satu botol selai, am bil isolate jamur entomopatogen dan putar-putar didekat api bunsen lalu ambil sedikit potongan jamur dengan pinset kemudian ambil lagi botol selai yang dibuka tadi, lalu putar- putar lagi di api Bunsen dan masukan isolate jamur tadi kedalam botol selai dengan pinset lalu tutup lagi botol selai dengan alumunium, plastik dan karet shaker selama 7 hari.
Pada saat pemindahan jamur entomopatogen kemedia cair tutup botol selai tidak boleh terbuka terlalu lebar karena dapat terjadi kontaminasi dan pembukaan tidak boleh terlalu lama supaya mikroba yang tidak dikehendaki tidak masuk. setelah dipindahkan tutup lag botol dengan plastic dan alumunium foil serta ditali dengan karet, pemindahan tersebut dilakukan didekat Bunsen supaya kontaminasi dari mikroba lain dapat terhindari.
Cara cendawan Beauveria bassiana menginfeksi tubuh serangga dimulai dengan kontak inang, masuk ke dalam tubuh inang, reproduksi di dalam satu atau lebih jaringan inang, kemudian kontak dan menginfeksi inang baru. Beauveria bassiana masuk ke tubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya.
Inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang akan berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kulit tubuh. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin. Pada proses selanjutnya, jamur akan bereproduksi di dalam tubuh inang. Jamur akan berkembang dalam tubuh inang dan menyerang seluruh jaringan tubuh, sehingga serangga mati. Miselia jamur menembus ke luar tubuh inang, tumbuh menutupi tubuh inang dan memproduksi konidia.
Dalam hitungan hari, seranggaakan mati. Serangga yang terserang jamur Beauveria bassiana  akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan jamur menutupi tubuh inang dengan warna putih. Dalam infeksinya, Beauveria bassiana  akan terlihat keluar dari tubuh serangga terinfeksi mula-mula dari bagian alat tambahan (apendages) seperti antara segmen-segmen antena, antara segmen kepala dengan toraks , antara segmen toraks denganabdomen dan antara segmen abdomen dengan cauda (ekor).
Setelah beberapa hari kemudian seluruh permukaan tubuh serangga yang terinfeksi akan ditutupi oleh massa jamur yang berwarna putih. Penetrasi jamur entomopatogen sering terjadi pada membran antara kapsul kepala dengan toraks atau di antara segmen-segmen apendages demikian pula miselium jamur keluar pertama kali pada bagian-bagian tersebut Serangga yang telah terinfeksi Beauveria bassiana  selanjutnya akan mengkontaminasi lingkungan, baik dengan cara mengeluarkan spora menembus kutikula keluar tubuh inang maupun melalui fese nya yang terkontaminasi.



IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut ini:
1. GYB merupakan singkatan dari Glukose Yeast Broth.
2. dalam reisolasi jamur kedalam media cair memerlukan penyekeran selama 7 hari
3. komposisi yang dibutuhkan dalam pembuatan GYB dapat berubah sesuai dengan kebutuhan.
4. dalam perbanyakan jamur entomopatogen faktor sterilisasi sangat menentukan keberhasilan dalam perbanyakan jamur.
5. perbanyakan jamur entomopatogen dapat dilakukan apabila bahan dan alat tersedia.

B. Saran

Diharapakn untuk praktikum selanjutnya bahan dan alat yang akan digunakan dalam praktikum harus tersedia terlebih dahulu supaya praktikum perbanyakan jamur entomopatogen dapat terlaksana dengan baik dan mahasiswa dapat mengerti cara perbanyakan jamur entomopatogen dengan media cair GYB.

Eksplosi Jamur Entomopatogen dari Tanah

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 12 Februari 2015
NIM : 05121407020  Asisten    :  1. Aji Artanto
Kelas : Palembang          2. Anita Sari
Judul : Eksplosi Jamur Entomopatogen dari          3. Lilian Riskie
 Tanah            4. Linda Sari
          5. Rezalina Indra P
          6. Windy Lumban G
          7. Andri Purniawan
          8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanah merupakan habitat berbagai mikroorganisme seperti dari golongan jamur, serangga, nematoda, bakteri, dan banyak mikroorganisme lain. Jamur termasuk golongan yang cukup dominan di dalam tanah, baik perananya sebagai patogen tanaman, dekomposer, bahkan sebagai agen pengendali hayati. Jamur di dalam tanah yang berperan sebagai agen pengendali hayati dapat diisolasi agar diperoleh isolat murni. Jamur agen hayati tular tanah dikelompokkan sebagai jamur patogen serangga (entomopatogen) dan antagonis. Penentuan sampel tanah sangat penting dalam keberhasilan mendapatkan jamur pengendali hayati. Setiap jamur agen hayati memiliki kekhasan jenis, struktur, dan komposisi tanah sebagai habitatnya.
Eksplorasi merupakan langkah awal dari pelaksanaan teknik pengendalian hayati. Kegiatan ini didasarkan atas fenomena alam bahwa ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) dan musuh alaminya, jika ada tekanan pada lingkungan yang ekstrim tentunya keberadaan musuh alami akan terguncang. Untuk itu perlu adanya upaya pelestariaan (konservasi) dengan cara mengeksplorasi musuh alami tersebut agar dapat dikembangkan dan diperbanyak (augmentasi) serta dimanfaatkan untuk pengendaliaan. Secara umum pengertian pengendalian hama secara biologi/hayati adalah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Makhluk hidup dalam kelompok ini diistilahkan juga sebagai organisme yang berguna yang dikenal juga sebagai musuh alami, seperti predator, parasitoid, jamur, bakteri dan virus. Dalam hal penggunaan dan pengendalian mikroorganisme (termasuk virus).
Penggunaan insektisida kimia secara terus-menerus dalam pengendalian hama dikhawatirkan menimbulkan masalah yang lebih berat, antara lain terjadinya resistensi hama,pencemaran lingkungan, dan ditolaknya produkpertanian akibat residu pestisida yang melebihiambang toleransi oleh konsumen
Penggunaan entomopatogen sebagai agenspengendali hayati merupakan salah satu cara untuk menghindari dampak negatif bahan kimiaterhadap lingkungan. Agens hayati tersebutmeliputi organisme yang bersifat predator,parasit, parasitoid, dan patogen. Beberapaorganisme yang dapat bertindak sebagai agenshayati meliputi hewan vertebrata, serangga,nematoda, bakteri, virus dan jamur atau cendawan.

B. Tujuan
Praktikum bertujuan untuk memancing jamur entomopatogen yang berasal dari tanah.











II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul Eksplorasi Jamur Entomopatogen dari Tanah dilaksanakan pada tanggal 12 februari 2015 dilaboratorium Insect Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ialah karet, handspreyer, cawan petri, tissue, dan minyak makan sedangkan Bahan yang digunakan ialah tanah kopi, tanah cabai, tanah pisang, dan tanah sawit, 30 Tenebrio moliter perkelompok, baki, kain kasa hitam.

C. Cara Kerja
1. masukan tanah kedalam baki, lalu semprotkan dengan handsprayer yang berisi air
2. masukan 30 ulat hongkong kebaki yang berisi tanah
3. tutup dengan kain kasa warna hitam, ikat dengan karet
4. Olesi pinggiran baki dengan minyak goreng
5. pengamatan selama 1 Minggu         tiap minggu dihitung ulat yang hidup dan mati
 difoto
             tanah dilembabkan lagi






III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hari/
Tanggal Foto Keterangan
Hidup Mati
13 Februari 2015
  25 5
14 Februari 2015
  23 2
15 Februari 2015
  19 4
16 Februari 2015 14     5
17 Februari 2015
  11 3
18 Februari 2015
8 3
19 Februari 2015 8 0
B. Pembahasan
Pada praktikum eksplorasi jamur entomopatogen dari tanah, klompok dua mendapatkan media dari tanah kopi. Tanah yang digunakan diambil dari tanah kopi yang berada belakang laboratorium Botani, tanah yang telah diambil kemudian dibersihkan dari perakaran, lalu tanah tersebut dimasukan kedalam baki semprot dengan menggunakan spreyer yangberisi air, masukan 30 ulat hongkong kedalam baki tersebut lalu ditutup dengan kain kasa berwarna hitam supaya ulat tersebut tidak keluar dari baki dan ikat dengan karet, sebelumnya olesi pingiran baki diolesi dengan minyak goring yang berfungsi untuk mencegah adanya serangga yang masuk.
Dari hasil pengamatan hari pertama hingga terakhir didapatkan data bahwasanya ulat hongkong yang dimasukan kedalam baki yang berisi tanah kopi selalu berkurang atau mati dalam setiap hari, dari pengamatan ulat hongkong yang mati tersebut dicirikan dengan tubuh mengeras seperti mumi, dan jamur menutupi tubuh inang dengan warna putih. Hifa yang ada dan menempel pada ulat hongkong akan melakukan perbanyakan secara cepat sehingga tubuh serangga akan sepenuhnya tertutup oleh cendawan.
Jamur Entomopatogen adalah jamur yang mampu menginfeksi serangga dengan cara masuk ketubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang akan berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kulit tubuh. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin. Jamur akan berkembang dalam tubuh inang dan menyerang seluruh jaringan tubuh, sehingga serangga mati. Misalnya jamur menembus ke luar tubuh inang, tumbuh menutupi tubuh inang dan memproduksi konidia. Namun apabila keadaan yang kurang menguntungkan perkembangan jamur hanya berlangsung di dalam tubuh inang. Kegiatan eksplorasi dapat dilakukan dengan cara mencari spesimen di lapangan berupa serangga yang diduga terinfeksi jamur entomopatogen dan serangga yang sehat (tidak terinfeksi jamur), bagian tanaman (daun, akar, batang) dan tanah di sekeliling tanaman. Tanah merupakan reservoar alami atau habitat utama bagi jamur entomopatogen dan sumber infeksi bagi serangga dilapangan sebagai faktor mortalitas hama secara alami. bahwa jamur entomopatogen yang berasal dari serangga terinfeksi lebih sulit diisolasi karena sering terkontaminasi oleh jamur udara.
Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi adanya infeksi jamur entomopatogen yaitu substrat, kelembapan, suhu, pH, dan senyawa-senyawa kimia yang ada di tempat tersebut dan dipengaruhi oleh kondisi tanah, seperti kandungan bahan organik, suhu, kelembapan, kebiasaan makan serangga, adanya pestisida sintetis, dan waktu aplikasi. Secara umum, suhu di atas 30 °C, kelembapan tanah yang berkurang dan adanya antifungal atau pestisida dapat menghambat pertumbuhannya.
Jamur entomopatogen membunuh hama melalui infeksi sebagai akibat dari serangga yang kontak dengan spora jamur. Serangga dapat kontak dengan spora jamur melalui beberapa cara: semprotan jamur menempel pada tubuh serangga, serangga bergerak pada permukaan tanaman yang sudah terinfeksi jamur, atau dengan memakan jaringan tanaman yang telah diperlakukan dengan jamur. Setelah spora jamur melekat pada kulit serangga (kutikula), mereka berkecambah membentuk struktur (hifa) yang menembus tubuh serangga dan berkembang biak. Proses ini memakan waktu 3-5 hari sampai akhirnya serangga mati, bangkai yang terinfeksi dapat berfungsi sebagai sumber spora untuk penyebaran sekunder jamur. Keberhasilan penyemprotan menggunakan jamur entomopatogen bergantung pada kerentanan spesies yang bersangkutan, tingkat populasi hama, dan kondisi lingkungan pada saat aplikasi, serta sumber daya manusia itu sendiri.
Pada Umumnya cendawan entomopatogen membutuhkan lingkungan yang lembab untuk dapat menginfeksi serangga, oleh karena itu pada pengamatan tanah dijaga supaya dalam kondisi lembab, sedangkan di alam kondisi lingkungan biasanya terbentuk pada saat kondisi lingkungan lembab atau basah. Keefektifan jamur entomopatogen menginfeksi serangga hama tergantung pada spesies atau strain cendawan, dan kepekaan stadia serangga pada tingkat kelembaban lingkungan, struktur tanah (untuk serangga dalam tanah), dan temperatur yang tepat. Selain itu, harus terjadi kontak antara spora yang diterbangkan angin atau terbawa air dengan serangga inang agar terjadi infeksi.
Salah satu komponen pengendalian hama secara terpadu yang mempunyai prospek cukup baik adalah pemanfaatan jamur entomopatogen. Keuntungan penggunaan jamur entomopatogen antara lain relatif aman bagi pengguna dan lingkungan, kapasitas reproduksi tinggi, siklus hidup pendek, bersifat selektif, kompatibel dengan pengendalian lainnya, relatif murah diproduksi dan kemungkinan menimbulkan resistensi amat kecil atau lambat, dan dapat membentuk spora yang dapat bertahan lama, bahkan dalam kondisi yang tidak menguntungkan sekalipun.





















IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Eksplorasi merupakan langkah awal dari pelaksanaan teknik pengendalian hayati.
2. Jamur Entomopatogen adalah jamur yang mampu menginfeksi serangga dengan cara masuk ketubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya.
3. Keuntungan penggunaan jamur entomopatogen antara lain relatif aman bagi pengguna dan lingkungan.
4. Jamur entomopatogen membutuhkan lingkungan yang lembab untuk dapat menginfeksi serangga
5. Faktor yang mempengaruhi adanya jamur entomopatogen yaitu substrat, kelembapan, suhu, dan pH


B. Saran
Pada praktikum ini eksplorasi jamur entomopatogen dari tanah hendaknya alat dan bahan disediakan terlebih dahulu serta dilaksanakan dengan teliti dan sesuai dengan waktu pengamatan yang dilakukan.

Laba-laba Predator

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 12 Maret 2015
NIM : 05121407020  Asisten    :  1. Aji Artanto
Kelas : Palembang          2. Anita Sari
Judul : Laba-laba Predator                        3. Lilian Riskie
             4. Linda Sari
          5. Rezalina Indra P
          6. Windy Lumban G
          7. Andri Purniawan
          8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara umum populasi organisme di alam berada dalam keadaan seimbang pada jenjang populasi tertentu contohnya yaitu laba-laba, atau disebut juga labah-labah, adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Semua jenis laba-laba digolongkan ke dalam ordo Araneae dan bersama dengan kalajengking, ketonggeng, tungau semuanya berkaki delapan dimasukkan ke dalam kelas Arachnida.
Laba-laba merupakan hewan pemangsa, bahkan kadang-kadang kanibal. Mangsa utamanya adalah serangga. Hampir semua jenis laba-laba, dengan perkecualian sekitar 150 spesies dari suku Uloboridae dan Holarchaeidae, dan subordo Mesothelae, mampu menginjeksikan bisa melalui sepasang taringnya kepada musuh atau mangsanya. Meski demikian, dari puluhan ribu spesies yang ada, hanya sekitar 200 spesies yang gigitannya dapat membahayakan manusia. Tidak semua laba-laba membuat jaring untuk menangkap mangsa, akan tetapi semuanya mampu menghasilkan benang sutera yakni helaian serat protein yang tipis namun kuat dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang tubuhnya. Serat sutera ini amat berguna untuk membantu pergerakan laba-laba, berayun dari satu tempat ke tempat lain, menjerat mangsa, membuat kantung telur, melindungi lubang sarang, dan lain-lain.
Kebanyakan laba-laba memang merupakan predator (pemangsa) penyergap, yang menunggu mangsa lewat di dekatnya sambil bersembunyi di balik daun, lapisan daun bunga, celah bebatuan, atau lubang di tanah yang ditutupi seresah. Beberapa jenis memiliki pola warna yang menyamarkan tubuhnya di atas tanah, batu atau pelepah pohon, sehingga tak perlu bersembunyi. Laba-laba penenun (misalnya anggota suku Araneidae) membuat jaring-jaring sutera berbentuk kurang lebih bulat di udara, di antara dedaunan dan ranting-ranting, di muka rekahan batu, di sudut-sudut bangunan, di antara kawat telepon, dan lain-lain. Jaring ini bersifat lekat, untuk menangkap serangga terbang yang menjadi mangsanya.
Dengan adanya serangga yang terperangkap jaring laba-laba maka laba-laba segera mendekat dan menusukkan taringnya kepada mangsa untuk melumpuhkan dan sekaligus mengirimkan enzim pencerna ke dalam tubuh mangsanya. Sedikit berbeda, laba-laba pemburu (seperti anggota suku Lycosidae) biasanya lebih aktif. Laba-laba jenis ini biasa menjelajahi pepohonan, sela-sela rumput, atau permukaan dinding berbatu untuk mencari mangsanya. Laba-laba ini dapat mengejar dan melompat untuk menerkam mangsanya.

B. Tujuan
Adapun tujuan dalam praktikum ini adalah untuk mengetahui contoh-contoh laba-laba predator.







II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul laba-laba predator dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2015, pukul 10:00 WIB dilaboratorium Insect Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ialah 1. laba-laba predator, 2. Microscop, 3. kamera.

C. Cara Kerja
1. mencari laba-laba yang ada di alam
2. pengamatan laba-laba dengan Microscop
3. mencatat perbedaan antar laba-laba.












III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Jenis laba-laba predator Gambar Keterangan


Tetragnatha  javana





Pardosa pseudoannulata








memiliki kaki yang panjang
memiliki 3 pasang kaki
bentuk tubuh lonjong memanjang
ukuranya tidak sebesar laba-laba pardosa
habitatnya berada di tajuk tanaman







memiliki 4 pasang kaki
warna gelap cenderung berbulu
habitatnya berada dipermukaan tanah atau dekat dengan pangkal tanah
memangsa hama wereng
memiliki garis yang bercahaya dan berbentuk huruf Y
masyarakat sering menyebutnya laba-laba serigala
laba-laba ini banyak ditemukan didaerah basah bekas olahan tanah.
B. Pembahasan
Pardosa pseudoannulata memiliki ciri bentuk bercabang atau berbentuk Y pada karapas. Margin sub-lateral memiliki pita putih longitudinal. Laba-laba jantan memiliki 4 sampai 5 band cahaya melintang di sisi dorsal perut,sedangkan perempuan memiliki 3 memanjang-bulat telur band cahaya dan sepasang bintik-bintik bulat.  ukuran betina dewasa mencapai 8 mm dan jantan dewasa 6 mm Berwarna coklat hingga abu-abu. Pola hidup berburu pada malam hari, siang hari digunakan untuk bersembunyi diantara benda-benda berlumut dan membusuk. Laba-laba hidup di liang berpelindung dengan pintu keluar yang terbuka dan tanpa aksesoris.
Pardosa pseudoannulata adalah laba-laba yang merupakan sangat aktif untuk memburumangsanya, laba-laba dewasa biasanya banyak ditemukan didekat pangkal tanaman. laba-laba ini lebih memilih wereng sebagai mangsa. Laba-laba ini memakan 5 sampai 15 mangsa setiap hari. Pada kepadatan hama yang tinggi, mereka juga memakan satu sama lain. Laba-laba betina sebanyak 200 hingga 400 telur di dalam kantung. Dari kantung ini, sekitar 60 sampai 80 akan menetas. laba-laba yang baru menetas tetap melekat pada induknya selama beberapa hari.
Laba-laba jantan menggoyangkan bagian mulutnya (yang tampaknya seperti kaki) untuk merayu betina. Setelah perkawinan, laba-laba betina menenun kantong telur yang disambungkan ke bagian belakang tubuhnya. Kantong ini dibawa ke mana-mana, juga saat berburu. Anak laba-laba yang menetas naik ke punggung induknya, yang mampu membawa 100 anak di punggungnya. Sesudah cukup besar, mereka turun dari induknya pada saat angin berhembus, mengangkat bagian belakang badannya, menenun sutera, dan ditiup angin ke tempat lain.
Di lahan rawa pasang surut banyak dijumpai beberapa jenis predator pemakan serangga diantaranya ordo Arachnida (laba-laba) yang paling banyak dijumpai. Kehadiran laba-laba pada pertanaman padi merupakan syarat utama, karena predator ini mampu memangsa 2-3 serangga per hari dan dalam waktu yang relatif singkat dapat menghasilkan turunan yang banyak sehingga dapat mengimbangi populasi hama serangga. Laba-laba Lycosa pseudoanulata mampu menghasilkan 200-400 keturunan dalam masa 3-5 bulan, Oxyopes javanus dan Oxyopes lineatipes menghasilkan 200-350 keturunan dalam masa 3-5 bulan sedang Tetragnatha hidup selama 1-3 bulan dan dapat bertelur 100-200 butir. Seperti halnya laba-laba.
laba-laba predator yang paling dominant ditemukan adalah laba-laba rahang panjang (Tetragnatha mandibulata, T. javana dan T. maxillosa). Jenis capung jarum (Agriocnemis sp) mulai muncul setelah tanaman mulai rimbun karena capung dewasa umumnya terbang dibawah tajuk daun padi untuk mencari mangsa yang sedang terbang termasuk wereng pada tanaman.
Sarang laba-laba telah dimanfaatkan sebagai terapi menghentikan perdarahan oleh penduduk sejak lama, namun belum ada penelitian empiris yang membuktikan efek ini. Penelitian Chattopadhyay et. al memperlihatkan efek hemostatik Spider Silk Protein (SSP) laba-laba genus Tetragnathidae. Berbagai penelitian tentang SSP telah dilakukan, salah satunya adalah kandungan SSP.  Tipe ini mengandung protein fibroin yang terdiri dari spidroin 1 dan spidroin 2. laba-laba predator yang digunaka dalam praktikum ini yaitu dua jenis yaitu Tetragnatha  javana dan Pardosa pseudoannulata














IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
1.Pardosa pseudoannulata memiliki ciri bentuk bercabang atau berbentuk Y pada karapas.
2. pardosa pseudonulata habitatnya berada dipermukaan tanah atau dekat dengan pangkal tanah.
3. kebanyakan laba-laba memang merupakan predator (pemangsa) penyergap, yang menunggu mangsa lewat di dekatnya sambil bersembunyi di balik daun.
4. laba-laba Lycosa pseudoanulata mampu menghasilkan 200-400 keturunan dalam masa 3-5 bulan.
5. laba laba Tetragnatha  javana habitatnya berada di tajuk tanaman.

B. Saran
Dalam praktikum pengelolaan hayati hama tumbuhan tentang laba-laba predator hendaknya setiap orang memiliki sendiri laba-laba dan dapat dilihat dengan menggunakan microscop untuk mengetahui cirri-cirinya.

Biologi dan Taksonomi Serangga Predator dan Parasitoid

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 05 Februari 2015
NIM : 05121407020  Asisten    :  1. Aji Artanto
Kelas : Palembang          2. Anita Sari
Judul : Biologi dan Taksonomi Serangga          3. Lilian Riskie
 Predator dan Parasitoid          4. Linda Sari
          5. Rezalina Indra P
          6. Windy Lumban G              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah entomophagy berasal dari Bahasa Yunani, yaitu entomon = serangga dan phagein = makan. Jadi, entomophagy merupakan istilah yang menunjukan perilaku memakan serangga. Entomofaga itu sendiri berarti pemakan serangga yang terdiri parasitoid dan predator. Contoh entomofaga, antara lainparasitoid telur, parasitoid larva, laba-laba, kalajengking, tungau predator, ikan, katak, dan burung.
Parasitoid adalah serangga yang hidup sebagai parasit pada atau didalam serangga lain hanya selama masa pradewasanya saja (masa larva). Imagonya hidup bebas, bukan parasit,dan hidup dengan memakan nectar, embun madu, air, meskipun juga kadang-kadang menghisap cairan bandan inang. Parasitoid hanya memarasit kelompok serangga atau antropoda. Ukuran parasitoid relative besar dibandingkan ukuran inang nya, dan tidak pernah pindah inang selama perkembanganya. Sebagian besar parasitoid tergolong dalam ordo Hymenoptera, sub ordo Apocrica. Ordo Diptera juga hamper semua spesiesnya hidup sebagai parasitoid, misalnya family Tachinidae semua spesies berperan sebagai parasitoid dan mempunyai peran penting dalamberbagai aktivitas pengendalian hayati.
Pengendaian hayati merupakan bagian dari pengendalian yang alami karena memanfaatkan factor pengendali yang sudah ada di alam. Factor pengendali tersebut merupakan musuh alami organisme yang dikendalikan. Secara umum pengertian pengendalian hama secara biologi/hayati adalah penggunaan makhluk hidup untuk membatasi populasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Makhluk hidup dalam kelompok ini diistilahkan juga sebagai organisme yang berguna yang dikenal juga sebagai musuh alami, seperti predator, dan parasitoid.
Deskripsi serangga predator secara umum, predator/pemangsa didefinisikan sebagai makhluk hidup yang memakan makhluk hidup lainnya. Pemangsaan merupakan suatu cara hidup yang sumber makanannya diperoleh dengan menangkap, membunuh, dan memakan hewan lain. Contoh serangga predator adalah kumbang ladybird, lalat perompak, dan larva syrphidae. Deskripsi Serangga Parasit Pengertian parasit adalah binatang pada umumnya serangga yang hidupnya di dalam atau menumpang pada binatang atau serangga lain dan menjadikan binatang yang ditumpanginya sebagai sumber kehidupannya.
Golongan Serangga Predator Pemangsa dari kelompok arthropoda terdiri atas sejumlah besar jenis serangga, ditambah dengan laba-laba dan tungau pemangsa. Di dunia ini diperkirakan ada sekitar 200.000 jenis pemangsa arthropoda, termasuk berbagai jenis laba-laba dan tungau pemangsa. Beberapa bangsa serangga yang penting sebagai pemangsa dalam pengendalian alami dan hayati, antara lain adalah Coleoptera, Hemiptera, Neuroptera, dan Diptera.Kelompok pemangsa penting yang bukan serangga adalah laba-laba dan tungaupemangsa. Contoh dari golongan serangga predator yaitu Ordo Orthoptera (bangsa belalang), Ordo Hemiptera (bangsa kepik) / kepinding, Ordo Coleoptera (bangsa kumbang), Ordo Diptera (bangsa lalat, nyamuk), Ordo Lepidoptera (bangsa kupu/ngengat), Ordo Odonata (bangsa capung/kinjeng). Golongan serangga parasit ada tiga bentuk partenogenesis yang dijumpai pada parasitoid, yaitu thelyotoky (semua  keturunannya betina diploid tanpa induk jantan), deuterotoky (keturunannya sebagian besar betina diploid yang tidak mempunyai induk jantan dan jarang ditemukan jantan haploid), dan arrhenotoky (keturunan jantan haploid tidak mempunyai induk jantan, dan keturunan betinanya berasal dari induk betina dan jantan (diploid).
Menurut Rosichon, pengendalian biologi memiliki keunggulan lebih ramah lingkungan. Pasalnya, penggunaan insektisida dapat dikurangi bahkan tidak digunakan sama sekali. Kendati demikian, kunci dari pengendalian hama secara biologi adalah mengenal terlebih dahulu aspek biologi dari serangga itu sendiri. Aspek biologi dari serangga antara lain siklus hidup, umur, dan deskripsi masing-masing spesies. Informasi tersebut menjadi penting untuk menentukan saat yang tepat untuk pengendalian hama. Walaupun usahanya pengendalian hayati memerlukan waktu yang cukup lama dan berspektrum sempit (inangnya spesifik), tetapi banyak keuntungannya, antara lain aman, relatif permanen, dalam jangka panjang relatif murah dan efisien, serta tidak akan menyebabkan pencemaran lingkungan. Dari uraian di tersebut, jelaslah bahwa musuh-musuh alami mempunyai peranan yang sangat besar dalam membantu kita untuk menekan perkembangan hama tanaman. Pengendalian hama yang hanya menggunakan pestisida saja dengan spektrum luas dan terus-menerus sebenarnya tidak baik dari segi ekologi. Oleh karena itu dalam pengelolaan hama, cara pengendalian hayati perlu ditingkatkan dan penggunaan pestisida hendaknya dilakukan secara bijaksana agar keseimbangan alami tidak terganggu.


B. Tujuan
Tujuan dari pengenalan Biologi dan Taksonomi Serangga Predator dan Parasitoid ini adalah agar mahasiswa mampu mengenali beberapa spesies serangga predator dan parasitoid.





II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul Biologi dan Taksonomi Serangga Predator dan Parasitoid dilaksanakan pada tanggal 05 Februari 2015 di Laboratorium Insect Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan adalah  kamera dan bahan yang digunakan adalah awetan serangga diantaranaya ialah capung, undru-undur, kupu-kupu, belalalng sembah, tawon,

C. Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum ini yaitu
1. Identifikasi serangga
2. Amati serangga, memfoto serangga dan menjelaskan baik dari segi biologi    dan taksonomi
3. Catat dalam bentuk laporan










III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Tawon - Predator
Kingdom :  Animalia
Filum :  Arthropoda
Kelas :  Insecta
Ordo :  Hymenoptera
Famili :  Vespidae
Genus :  Vespa
Spesies :  Vespa Mandarinia

2. Capung Tentara - Predator
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Odonata
Family : Gomphidae
Genus : Orthetrum
Species : Orthetrum Sabina

3. Undur – undur – Predator
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Neuroptera
Family : Myrmeleontidae
Genus : Myrmeleon
Species : Myrmeleon frontalis
4. Belalang Sembah - Predator
Kingdom : Animalia
Filum : arthropoda
kelas : Insecta
ordo : orthoptera
family : Mantisadeae
genus : mantis
spesies : Mantis religiosa
5. Kupu – Kupu Great Eggfly – Penyerbuk
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidotera
Famili : Nymphalidae
Genus : Hypolimnas
Spesies : Hypolimnas bolina
6. Kumbang Penggali - Predator
Kingdom :  Animalia
Filum :  Arthropoda
Kelas :  Insecta
Ordo :  Coleoptera
Famili :  Silphidae
Genus :  Nicrophus
Spesies :  Nicrophus americanus

7. 8.




B. Pembahasan
Dari hasil identifikasi jenis serangga yang ada didapatkan bahwa serangga Tawon dan anggota Hymenoptera lainnya memiliki tubuh yang mudah dikenali dibandingkan dengan kelas serangga lainnya. Tubuhnya terbagi menjadi 3 bagian utama: kepala, thorax, dan abdomen (beberapa literatur lain menyebutnya terdiri dari kepala,metasoma, dan mesosoma walaupun maksudnya sama). Ciri khas utama dari anggota Hymenoptera termasuk tawon adalah adanya "pinggang" berukuran ramping yang menghubungkan bagian dada dengan perutnya (kecuali pada lalat gergaji famili Tenthrenidae) sehingga tubuhnya bisa menekuk dengan mudah. Beberapa jenis tawon semisal tawon sarang lumpur dari famili Spechidae bahkan memiliki ruas pinggang yang panjang.
Di kepala tawon terdapat sepasang mata majemuk, yaitu mata yang terdiri dari kumpulan lensa mata yang lebih kecil. Selain sepasang mata majemuk tadi, tawon juga memiliki 3 buah oselus (mata sederhana) di puncak kepalanya. Oselus tidak digunakan untuk melihat, melainkan untuk mendeteksi intensitas cahaya di sekitarnya sehingga mereka bisa tahu kapan harus memulai dan mengakhiri aktivitasnya. Tawon juga memiliki sepasang rahang bawah (mandibula) yang bisa digunakan untuk berbagai aktivitas seperti menjepit benda, mencabut serat kayu, dan bahkan untuk membunuh serangga lain. Bagian lain yang terdapat di kepala tawon adalah sepasang antena yang berbuku-buku untuk mendeteksi rangsangan kimia.
Tawon sebagai anggota filum Arthropoda tidak memiliki kerangka dalam, namun tubuhnya ditutupi oleh cangkang luar yang disebut eksoskeleton. Warna cangkang luarnya bervariasi di mana pada tawon dari familia Vespidae, tubuhnya berwarna mencolok kuning dan hitam sebagai peringatan bagi hewan lain agar tidak mengganggunya bila tidak ingin disengat. Tubuh tawon juga nyaris tidak diselubungi rambut (kebalikan dari lebah yang tubuhnya diselubungi rambut lebat).
Semua tawon memiliki sayap (kecuali tawon betina dari famili Mutillidae) berwarna transparan. Sayap ini jumlahnya 2 pasang dan bergerak seirama di mana jika sayap depan naik, maka sayap belakang juga ikut bergerak naik. Tawon sangat pandai terbang di udara karena saat terbang, ia bisa melakukan aneka manuver seperti terbang cepat, berputar di angkasa, dan bahkan terbang mundur. Tawon umumnya terbang dengan melipat kakinya, sementara beberapa jenis tawon lain semisal tawon kertas membiarkan kaki belakangnya menggantung (tidak terlipat) saat terbang.
Capung merupakan serangga yang menarik, memiliki 4 sayap yang berselaput dan banyak sekali urat sayapnya. Bentuk kepala besar dengan mata yang besar pula. Antena berukuran pendek dan ramping. Capung ini memiliki toraks yang kuat dan kaki yang sempurna. Abdomen panjang dan ramping, tidak mempunyai ekor, tetapi memiliki berbagai bentuk umbai ekor yang telah berkembang dengan baik.
Mata capung sangat besar dan disebut mata majemuk, terdiri dari banyak mata kecil yang disebut ommatidium. Dengan mata ini capung mampu melihat ke segala arah dan dengan mudah dapat mencari mangsa atau meloloskan diri dari musuhnya, bahkan dapat mendeteksi gerakan yang jauhnya lebih dari 10 m dari tempatnya berada.
Tubuh capung tidak berbulu dan biasanya berwarna-warni. Beberapa jenis capung ada yang mempunyai warna tubuh mengkilap (metalik).
Kedua pasang sayap capung berurat-urat. Para ahli capung dapat mengidentifikasi dan membedakan kelompok capung dengan melihat susunan urat-urat pada sayap. Masing-masing susunan urat memiliki nama tersendiri. Kaki capung tidak terlalu kuat, oleh karena itu capung menggunakan kakiknya bukan untuk berjalan, melainkan untuk berdiri (hinggap) dan menangkap mangsanya. Kaki-kaki capung yang ramping itu juga dapat membentuk kurungan untuk membawa mangsanya. Capung biasa dapat menangkap mangsa dan memakannya sambil terbang, sedangkan capung jarum makan sewaktu hinggap. Habitat Capung, Capung menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai nimfa yang sangat bergantung pada habitat perairan seperti sawah, sungai, danau, kolam atau rawa. Tidak ada satu jenis pun capung yang hidup di laut, namun ada beberapa jenis yang tahan terhadap tigkat kadar garam tertentu. Capung melakukan kegiatannya pada siang hari, saat matahari bersinar. Oleh karena itu, pada hari yang panas capung akan terbang sangat aktif dan sulit untuk didekati. Sedangkan pada dini hari atau di sore hari saat matahari tenggelam kadang-kadang capung lebih mudah didekati.
Berbeda dengan capung undur-undur Walaupun setelah melalui proses metamorphosis tidak sempurna undur-undur juga akan berubah menjadi mirip capung jarum namun memiliki antena yang panjang. Ukurannya relatif kecil, bervariasi antar satu spesies dengan lainnya dengan panjang tubuhnya antara 4-10 cm. Kemampuan terbang capung undur-undur ini tidak selincah Capung. Walaupun dari jenis serangga berbeda orang awam sering mengira kedua jenis hewan ini sama. Kalau Capung meletakkan telurnya di air, sedangkan capung undur-undur ini meletakan telurnya di tanah gembur dan berpasir hangat
Belalang sembah adalah serangga yang termasuk ke dalam ordo Mantodea. Dalam bahasa Inggris, serangga ini biasa disebut praying mantis karena sikapnya yang seringkali kelihatan seperti sedang berdoa. Seekor belalang sentadu betina yang hamil akan menghasilkan massa busa yang besar, yang disebut ootheca (jamak: oothecae). Ootheca ini dapat memuat hingga 300 butir telur, yang semuanya dilindungi dalam kantung busa. Oothecae ini dihasilkan pada musim gugur dan sesudah itu belalang sentadu dewasa mati dan menetas dalam waktu hingga lima bulan. Belalang sembah merupakan hewan karnivora, jenis hewan yang biasa dimangsa oleh belalang sembah bermacam-macam, dari serangga-serangga kecil seperti jangkrik, kupu-kupu, lebah,hingga hewan vertebrata seperti ular, tikus, kadal, katak, dan burung kecil.
Kupu-kupu adalah serangga yang aktif disiang hari bersayap lebar dan kebanyakan berwarna cerah dibandingkan dengan warna sayap kupu-kupu yang aktif pada malam hari, dan termasuk dalam bangsa Lepidoptera. Penyebaran kupu-kupu sangat luas sekali dan dapat ditemukan di manapun di dunia yang ada tumbuhtumbuhan, bahkan sampai daerah yang bersalju abadi di pegunungan tinggi dan kutub utara, di hutan, di rawa, dan di daerah terbuka maupun di pantai berpasir.
Tubuh kupu-kupu dewasa terdiri dari 3 bagian , kepala (head), dada (thorax) dan perut (abdomen).  Kepala adalah bagian dari serangga yang berisi otak, 2 mata kompon, probosis dan faring (tenggorokan, dimana merupakan awal dari sistem pencernaaan), dan 2 antena yang terpasang di kepala.   Antena adalah alat sensor yang terdapat di kepala serangga dewasa.  Antena ini digunakan untuk mencium dan keseimbangan. Kupu-kupu mempunyai 2 antena dengan ujung yang sedikit membulat yang disebut sebagai antennal club. Mata kompon mata kompon kupu-kupu terdiri dari banyak lensa hexagonal seperti halnya pada mata kompon serangga lainnya. Kupu-kupu hanya dapat melihat warna merah, hijau dan kuning saja. Probosis (Proboscis) kupu-kupu dewasa menghisap nektar bunga dan cairan lainnya dengan menggunakan probosis atau mulut penghisap yang seperti sedotan spiral. Ketika tidak digunakan, probosis ini akan digulung melingkar seperti selang air.
Palp labial membantu kupu-kupu untuk menentukan apakah sesuatu itu merupakan makanan atau bukan. Dada (Thorax) dada adalah bagian diantara kepala (head) dan perut (abdomen) dimana kaki dan sayap terpasang. Sayap depan adalah sepasang sayap yang berada paling atas. Sayap belakang hind wing adalah sepasang sayap yang berada paling bawah. Kaki (Legs) kupu-kupu mempunyai sepasang kaki pendek yang berada di depan, dan 2 pasang kaki yang lebih panjang di belakangnya. Kaki, terutama sepasang yang ditengah, dilengkapi dengan sensor penciuman yang membuat kupu-kupu dapat "merasakan" kandungan kimia pada tempatnya hinggap.  Perut (Abdomen) perut merupakan bagian ekor serangga yang mempunyai segmentasi yang memiliki organ vital seperti jantung, tubulus atau pembuluh Malphigi untuk alat ekresi (pembuangan sisa metabolisme dan benda tidak berguna lainnya), organ reproduksi dan sebagian besar sistem pencernaan.
Kumbang penggali merupakan anggota famili Silphidae membantu menjaga permukaan bumi tetap bersih dengan mengubur hewan-hewan kecil yang mati. Ketika sepasang kumbang ini menemukan seekor tikus atau ular kecil yang mati betinanya menyimpan telur-telurnya dalam bangkai itu. Kemudian kumbang akan menguburkan bangkai itu 7-10 cm dalam tanah. Ketika larvanya menetas, maka bangkai itu akan dimakan.
Terdapat berbagai jenis kumbang pengubur, salah satu terbesar dan menarik perhatian adalah Nicrophus americanus yang panjangnya mencapai 2-4 cm. Tubuhnya berbentuk lonjong, berwarna hitam berkilau, mempunyai dua bintik kemerah-merahan yang besar pada setiap elytranya. Protoraksnya berbentuk setengah bulat dan berwarna merah; kepalanya hampir sebesar protoraksnya.
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan

1. Pengendaian hayati merupakan bagian dari pengendalian yang alami karena memanfaatkan faktor pengendali yang sudah ada di alam.
2. Parasitoid adalah serangga yang hidup sebagai parasit di dalam atau pada tubuh serangga lain ( serangga inang ), dan membunuhnya secara pelan-pelan.
3. Parasitoid sering juga disebut parasit. Kebanyakan serangga parasitoid hanya menyerang jenis atau hama secara spesifik.
4. Serangga parasitoid dewasa menyalurkan suatu cairan atau bertelur pada suatu hama sebagai inangnya. Ketika telur parasitoid menetas, larva akan memakan inang dan membunuhnya. Setelah itu keluar meninggalkan inang untuk menjadi kepompong lalu menjadi serangga lagi
5. Predator atau pemangsa didefinisikan sebagai makhluk hidup yang memakan makhluk hidup lainnya.
6. Predator ada yang bersifat monofag, oligofag, dan polyfag.






Pemanfaatan Serangga Entomofaga Diekosistem Tanaman Pangandan Hortikultura

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 12 Maret 2015
NIM : 05121407020 Asisten : 1. Aji Artanto
Kelas : Palembang             2. Anita Sari
Judul : Pemanfaatan Serangga Entomofaga Diekosistem   3. Lilian Riskie
Tanaman Pangandan Hortikultura       4. Linda Sari
            5. Rezalina Indra P
                6. Windy Lumban G
                7. Andri Purniawan
                8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam ekosistem pertanian terdapat kelompok makhluk hidup yang tergolong predator, parasitoid, dan patogen. Ketiga kelompok makhluk hidup yang disebut musuh alami tersebut mampu mengendalikan populasi hama. Tanpa bekerjanya musuh alami, hama akan memperbanyak diri dengan cepat sehingga dapat merusak tanaman. Predator merupakan kelompok musuh alami yang sepanjang hidupnya akan memakan mangsanya.
Serangga merupakan hewan yang dominan di muka bumi bahkan menurut penelitian jumlahnya jauh lebih besar daripada jumlah manusia. Dominasi yang demikian disebabkan serangga memiliki kemuampuan adaptasi yang tinggi serta waktu generasi yang singkat. Anggota kelas insekta ini memiliki bentuk, ukuran dan warna yang beraneka ragam sehingga membuat banyak orang tertarik untuk mempelajarinya.
Salah satu jenis hama yang sering menyerang tanaman kedelai adalah kutu daun (aphid), famili Aphididae ordo Homoptera. Hama ini biasanya berkoloni di bawah permukaan daun atau sela-sela daun, mengisap cairan daun, tangkai daun, bunga, dan buah atau polong. Serangga ini menyerang dengan cara menusukkan stiletnya dan mengisap cairan sel tanaman. Serangan menyebabkan pucuk atau daun tanaman keriput, daun tumbuh tidak normal, keriting dan menggulung (Prabowo, 2008).
Terkait dengan kepentingan manusia, ada juga serangga yang menguntungkan dan adapula serangga yang merugikan (hama) oleh Karena itu dalam upaya mengurangi jumlah hama, sejak ratusan tahun lalu telah dilakukan praktek  pengendalian hayati, yakni upaya untuk menurunkan atau mengendalikan jumlah populasi hama dengan memanfaatkan musuh biologis alami yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan hama tersebut salah satu musuh alami tersebut adalah serangga lain yang bisa memakan atau memangsa hama tersebut (predator).
Diantara beberapa cara pengendalian hama tumbuhan yang ada, pengendalian biologis dengan memanfaatkan musuh alami merupakan alternatif pengendalian yang paling aman dan sangat direkomendasikan. Salah satu jenis musuh alami utama kutu daun adalah Coccinellid atau kumbang bemo. Serangga yang termasuk famili Coccinellidae tersebut memiliki diversitas yang cukup tinggi, diperkirakan ada 5000 spesies di seluruh dunia (Foltz, 2002).
Serangga predator merupakan serangga yang memakan atau memangsa serangga lain. Keberadaannya sangat penting terutama bagi manusia sebagai musuh alami berbagai jenis hama sehingga bisa mengendalikan populasi hama tersebut tanpa campur tangan manusia. Karena itu pula serangga predator banyak diteliti dalam upaya pengendalian hayati.Peningkatan populasi inang akan ditanggapi secara numerik (respond numerik) yaitu dengan meningkatkannya jumlah predator dan respon fungsional (daya makan per predator) diharapkan jumlah inang akan berkurang (Otange, 2004).

B. Tujuan
Tujuan dalam praktikum ini adalah untuk mengetahui makanan (mangsa) serangga entomofaga diekosistem tanaman pangan dan hortikultura.

II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul pemanfaatan serangga entomofaga diekosistem tanaman pangan dan hortikultura dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2015 pukul 10:00 WIB dilaboratorium Insect Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ialah 1. kutu daun, 2. kutu putih, 3. kamera, 4. satu kumbang koksi predator (yang dipuasakan 24 jam), 5. satu cawan petri.

C. Cara Kerja
1. masukan masing-masing bahan kedalam cawan petri
2. amati selama 30 menit dimana setiap 5 menit sekali diamati berapa kutu daun dan kutu putih yang dimakan kumbang koksi.











III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kutu daun = 4 Kutu putih = 3
Waktu Kutu Daun Kutu Putih Gambar
5 menit - -

10 menit - 1

15 menit - -

20 menit 1 -

25 menit - -

30 menit - -

Total yang dimakan 1 1
B. Pembahasan
Dalam praktikum pemanfaatan serangga entomofaga diekosistem tanaman pangan dan hortikultura yaitu menggunakan Kumbang koksi predator (Coccinella septempunctata).  kumbang koksi ini merupakan serangga yang berasal  dari ordo Coleoptera.  Serangga ini mudah dikenali dari penampilannya yang bundar kecil dengan punggungnya yang berwarna-warni serta pada beberapa jenis berbintik-bintik. Serangga ini dikenal sebagai sahabat petani karena beberapa anggotanya memangsa serangga-serangga hama seperti kutu daun, walaupun demikian, ada beberapa spesies koksi yang juga memakan daun sehingga menjadi hama tanaman. Kumbang ini ditemukan di seluruh dunia, terutama di wilayah-wilayah tempat hidup tanaman yang menyediakan makanannya.
Dalam pengamatan yang menggunakan kumbang koksi dan dicampur dengan kutu daun serta kutu putih telah didapatkan bahwa kumbang koksi memakan kutu putih satu dari tiga yang dicampurkan dan memakan satu kutu daun dari empat kutu daun yang telah dicampurkan bersamaan didalam cawan petri, dalam praktikum kumbang koksi yang digunakan tidak dipuasakan terlebih dahulu selama 24 jam sehingga dapat mempengaruhi seberapa banyak kumbang koksi tersebut memakan hama yang telah dicampurkan secara bersamaan.
Kumbang koksi dikenal sebagai salah satu pembasmi hama ramah lingkungan. Hama  sejenis kutu daun yang hidup dengan menghisap sari tanaman dan membentuk semacam lapisan bersisik di sekitarnya untuk melindungi dirinya merupakan sasaran dari kumbang koksi predator.
Kumbang Coccinella septempunctata (kumbang koksi) memiliki kaki yang pendek serta kepala yang terlihat membungkuk ke bawah. Posisi kepala seperti ini membantunya saat makan hewan-hewan kecil seperti kutu daun. Di kakinya terdapat rambut-rambut halus berukuran mikroskopis (hanya bisa dilihat dengan mikroskop) yang ujungnya seperti sendok, rambut ini menghasilkan bahan berminyak yang lengket sehingga kepik bisa berjalan dan menempel di tempat-tempat sulit seperti di kaca atau di langit-langit. Ukuran kumbang koksi ini adalah (8 –  10 mm).
Kumbang koksi dikenal sebagai salah satu pembasmi hama ramah lingkungan. Mayoritas dari kumbang koksi  adalah karnivora yang memakan hewan-hewan kecil penghisap tanaman semisal kutu daun (afid). Larva dan kumbang koksi dewasa dari spesies yang sama biasanya memakan makanan yang sama. Kumbang koksi makan dengan cara menghisap cairan tubuh mangsanya. Di kepalanya terdapat sepasang rahang bawah (mandibula) untuk membantunya memegang mangsa saat makan. Ia lalu menusuk tubuh mangsanya dengan tabung khusus di mulutnya untuk menyuntikkan enzim pencerna ke tubuh mangsanya, lalu menghisap jaringan tubuh mangsanya yang sudah berbentuk cair.
Akan tetapi tidak semua kumbang koksi membawa manfaat bagi manusia. Beberapa spesies kumbang koksi semisal kumbang koksi Jepang dan kumbang koksi dari spesies Epilachna admirabilis  diketahui memakan daun tanaman budidaya semisal daun terong sehingga merusak tanaman dan dalam hal ini merugikan petani. Kumbang kepik tersebut biasanya meninggalkan jejak yang khas pada daun bekas makanannya karena mereka tidak memakan urat daunnya.















IV. PENUTUP
A. Kesimpulan

1.Serangga predator merupakan serangga yang memakan atau memangsa serangga lain.
2. Salah satu jenis hama yang sering menyerang tanaman pangan dan hortikultura adalah kutu daun.
3. Kumbang Coccinella septempunctata  memiliki kaki yang pendek serta kepala yang terlihat membungkuk ke bawah.
4.  Kumbang koksi makan dengan cara menghisap cairan tubuh mangsanya.
5. kumbang koksi pada tanaman pangan memangsa hama yang ada ditanaman cotohnya kutu daun da kutu putih.

B. Saran
Pada praktikum pemanfaatan serangga entomofaga diekosistem tanaman pangan dan hortikultura hendaknya alat dan bahan disediakan terlebih dahulu serta dilaksanakan dengan teliti dan sesuai dengan waktu pengamatan yang dilakukan.

Pemeliharaan Mumi Kutu Daun Cabai Aphis gossypii

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 12 Maret 2015
NIM : 05121407020  Asisten    :  1. Aji Artanto
Kelas : Palembang          2. Anita Sari
Judul : Pemeliharaan Mumi Kutu Daun Cabai          3. Lilian Riskie
 Aphis gossypii            4. Linda Sari
          5. Rezalina Indra P
          6. Windy Lumban G
          7. Andri Purniawan
          8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hiperparasitoid merupakan komponen penting yang mempengaruhi kelimpahan populasi parasitoid yang memarasit kutu daun. Tekanan hiper-parasitoid pada parasitoid kutu daun dapat mencapai lebih dari 95% (Irsan2001a).  Godfray & Muller (1998) menyatakan bahwa dalam menentukan dinamika populasi parasitoid dan inangnya harus memperhitungkan keberadaan hiperparasitoid. Keberadaan hiperparasitoid pada koloni kutudaun erat kaitannya denganperiode waktu asosiasi parasitoiddengan koloni kutudaun.
Makin lama parasitoid berasosiasi dengan koloni kutudaun akan semakin tinggi populasi hiperparasitoid yang ada di koloni kutu daun tersebut (Irsan 2001a).  Sejauh ini belum ada informasiyang menyatakan sisi positif darikeberadaan hiperparasitoid di suatuhabitat. Jika diketahui sisi positif keberadaan hiperparasitoid di suatuhabitat, maka akan muncul suatu teoriatau gagasan baru yang akan berguna untuk memanfaatkan keberadaan hiperparasitoid tersebut..
Selain menjadi hama utama, kutu daun persik juga berperan sebaggai penular (vektor) penyakit virus, terutama virus yang menggulung daun kentang atau Potato Leaf Roll Virus (PLRV) dan Potato Virus Y (PVY). Kutu daun persik berukuran kecil, hidup bergerombol dibawah permukaan daun atau pucuk. Kutu daun berkembang biak secara perkawinan biasa dan partogenesis.
Siklus hidup hama ini berlangsung dalam waktu 7-10 hari. Kutu daun persik mempunyai dua bentuk, yaitu bersayap (alatae) dan tidak bersayap (apterae). Bentuk yang bersayap berwarna hitam, sedangkan yang tidak bersayap bervariasi, yaitu merah, kuning, dan hijau. Cirri khas kutu daun persik adalah sepasang antenna yang relatif panjang (sepanjang tubuhnya), dan tonjolan (kornikel) berwarna hitam yang terdapat pada ujung abdomen. Kutu daun persik dapat menyebabkan kerugian secara langsung, dengan cara mengisap cairan tanaman. Gejala yang ditimbulkan adalah daun menjadi keriput, berwarna kekuning-kuningan, terpuntir, dan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil). Ledakan hama ini terjadi pada musim kemarau. Tanaman yang terserang akan menjadi layu atau mati.

B. Tujuan
Adapu tujuan dari praktikum ini adalah Untuk mengetahui bentuk dan jenis parasitoid mumi kutu daun Aphis gossipii














II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul pemeliharaan mumi kutu daun cabai Aphis gossypii dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2015 pukul  10:00 WIB dilaboratorium Insect Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ialah 1. mumi kutu daun, 2. tabung film, 3. kamera, 4. microscop.

C. Cara Kerja
1. masukan mumi kutu daun kedalam tabung film
2. tutup rapat dan amati kurang lebih enam hari
3. foto parasitoid yang keluar dari mumi












III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil yang didapatkan dari praktikum adalah sebagai berikut:
Hari Foto Keterangan
1 Mumi kutu daun berwarna abu-abu keemasan.
2 Bentuk mumi kutu daun kembung.
3 Mumi kutu daun semakin mengembung terlihat lebih besar dari sebelumnya.
4 Mumi kutu daun mengembung dan warna daun cabai mulai menguning.
5 Mumi kutu daun terlihat mulai berlubang dan daun cabai membusuk.
6 Imago mumi kutu daun sudah terlihat.
B. Pembahasan
Dalam praktikum pemeliharaan mumi kutu daun cabai Aphis ghossypii didapatkan bahwasanya mumi yang digunakan yaitu mumi kutu daun yang berasal dari tanaman cabai dengan menempatkan yang ada mumi kutu daun ke tabung filem untuk diadakanya pengamatan. Keberadaan parasitoid dicirikan dengan adanya mumi yang terbentuk, kemudian mumi dibawa ke laboratorium untuk dipelihara dan diidentifikasi. Parasitoid dikoleksi dengan memasukkan mumi ke dalam tabung film  transparan untuk kemudian dibiarkan sampai imagonya muncul. Mumi kutu daun yang diamati ialah mumi yang masih utuh yang belum menunjukkan adanya lubang keluar imago parasitoid maupun hiperparasitoid. Imago parasitoid dapat dibedakan dengan imago hiperparasitoid berdasarkan ukuran tubuhnya.
Tubuh imago parasitoid relatif besar dibandingkan dengan hiperparasitoid dan memiliki tergit yang jelas, sebaliknya tubuh imago hiperparasitoid ukurannya lebih kecil dari pada parasitoid dan tergetnya tidak kelihatan. Mumi dipelihara sampai muncul imago parasitoid atau hiperparasitoid. Imago parasitoid maupun hiperparasitoid yang amati kemudian diidentifikasi spesiesnya, lalu dipelihara dan dengan diberi pakan madu. Hiperparasitoid didapat dari koloni kutu daun yang sama. Jenis hiperparasitoid itu ditentukan berdasarkan bentuk mumi dan lubang keluar imago parasitoid ketika meninggalkan mumi. Lubang keluar parasitoid tepinya rata dan letaknya berada di bagian tertentu dari mumi, biasanya di sisi dorsal atau sisi lateral abdomen, sedangkan lubang keluar hiperparasitoid tepinya tidak rata dan letak lubang keluar tidak dibagian tertentu, lubang keluar dapat ditemukan di toraks, di sisi lateral abdomen atau sisi dorsal abdomen.
Mumi kutu daun yang diparasit oleh parasitoid yang tergolong famili Aphidiidae berwarna abu-abu keemasan dengan bentuk agak membulat. Mumi kutu daun yang diparasit oleh parasitoid yang tergolong famili Aphelinidae bentuknya seperti kutu daun normal tetapi warnanya berubah menjadi hitam kecuali bagian kepala, antena dan tungkai.
Pada praktikum ini didapatkan bahwasanya mumi kutu daun dapat berkembang dan tumbuh memerlukan waktu kurang lebih enam hari, setelah waktu tersebut hiperparasitoid yang muncul danberkembang tersebut akan terbang untuk mencari mangsanya, selama pengamatan mumi kutu daun berkembang dengam memanfaatkan daun tang ditempelinya dan dihisap cairan dalam daun tersebut hal ini terbukti bahwa selama pengamatan daun yang tadinya segar menjadi kuning dan akhirnya membusuk, setelah itu imago mumi kutu daun akan keluar dari mumi tersebut dan berkembang menjadi parasitoid maupun hiperparasitoid dengan demikian mumi yang didapatkan tersebut bisa dijadikan musuh alami bagi hama lain karena mumi tersebut mengeluarkan imago yang nantinya menjadi parasitoid.






















IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. hiperparasitoid merupakan komponen penting yang mempengaruhi kelimpahan populasi parasitoid yang memarasit kutu daun.
2. mumi kutu daun berwarna abu-abu keemasan.
3. mumi kutu daun yang diparasit oleh parasitoid merupakan famili Aphidiidae.
4. tubuh imago parasitoid relatif besar dibandingkan dengan hiperparasitoid.
5. mumi kutu daun berkembang kurang lebih enam hari.

B. Saran
Adapun saran dalam praktikum ini hendaknya pengamatan mumi kutu daun dilakaukan secara mandiri supaya mengetahui secara mendalam dalam melihat kecadian perubahan mumi kutu daun.

Perbanyakan Jamur Entomopatogen PadaMedia Padat GYA

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 26 Maret 2015
NIM : 05121407020 Asisten : 1. Aji Artanto
Kelas : Palembang             2. Anita Sari
Judul : Perbanyakan Jamur Entomopatogen Pada     3. Lilian Riskie
Media Padat GYA           4. Linda Sari
            5. Rezalina Indra P
                6. Windy Lumban G
                7. Andri Purniawan
                8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam ekosistem pertanian terdapat kelompok makhluk hidup yang tergolong predator, parasitoid, dan patogen. Ketiga kelompok makhluk hidup yang disebut musuh alami tersebut mampu mengendalikan populasi hama. Tanpa bekerjanya musuh alami, hama akan memperbanyak diri dengan cepat sehingga dapat merusak tanaman. Predator merupakan kelompok musuh alami yang sepanjang hidupnya akan memakan mangsanya.
Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan cara menggunakan pestisida nabati dan dapat pula menggunakan musuh alami dari hama. Musuh alami hama dapat berupa parasitoid maupun mikroorganisme lainnya. Penggunaan musuh alami memang tidak seefektif apabila menggunakan pestisida kimia , tetapi kelebihan dari menggunakan musuh alami adalah lebih ramah lingkungan dan lebih ekonomis karena dapat mengurangi biaya produksi pertanian, yaitu dari biaya pengendalian hama pada tanaman budidaya.
Musuh alami dari hama yang dapat digunakan adalah jamur .Jamur yang dapat mengendalikan serangga biasa disebut dengan jamur entomopatogen.Beberapa jenis jamur dapat dimanfaatkan sebagai agen pengendali hama. Karena sebagian jamur memiliki kemampuan untuk mengganggu fungsi fisiologis serangga. Bahkan dapat bersifat mematikan bagi serangga hama. Jamur entomopatogen menyerang serangga yang masih hidup, kemudian ia akan mengganggu fungsi fisiologis serangga. Setelah jamur membuat serangga mati, jamur masih dapat hidup bahkan setelah serangga berubah menjadi bangkai.
Salah satu alternatif pengendalian yang dapat digunakan adalah dengan pathogen serangga, khususnya jamur entomopatogen Beauveria bassiana. Efektivitas Beauveria bassiana sebagai pengendali sejumlah serangga hama sudah banyak dibuktikan melalui berbagai penelitian. Pemanfaatan Beauveria bassiana dalam pengendalian hama tungau di Indonesia masih sangat terbatas karena lebih mengandalkan pestisida kimia, terutama untuk hama tungau yang menyerang tanaman hias di rumah kaca. Sebaliknya untuk serangan tungau pada tanaman yang ada di lapang seperti, tomat, cabe, terong, dan lain-lain lebih sering diabaikan atau tidak dikendalikan karena dianggap hanya merusak daun yang tidak mempengaruhi hasil. Kerusakan akibat serangan hama tungau dapat lebih parah, sebab hama tersebut dapat menularkan penyakit virus daun karena beberapa spesies tertentu tungau juga berperan sebagai vektor virus.

B. Tujuan
Tujuan dalam praktikum ini adalah untuk peremajaan dan perbanyakan biakan mumi jamur entomopatogen di media padat








II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul jamur entomopatogen pada media padat dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2015 pukul 10:00 WIB dilaboratorium Insect Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini ialah LAF, Alkohol, Erlenmeyer, Cawan petri, Pinset, Isolasi, Bunsen, 250 ml Aquades, 1,3gr Tepung tenebrio, 5 gr Agar, 2,5 gr gula, 1 gr yeast, isolate mumi jamur entomopatogen, Alumunium foil, Amoxcilin, Plastik, dan karet.

C. Cara Kerja
1. masukan bahan-bahan kedalam Erlenmeyer lalu tutup dengan alumunium foil tutup lagi dengan plastic, dan karet.
2. cawan petri dan Erlenmeyer berisi bahan diautoclave
3. setelah diautoclave bahan dituang ke cawan petri tunggu hingga media mengeras baru isolasi
4. reisolasi jamur entomopatogen ke media baru.







III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil yang didapatkan setelah dilakukan pengamatan ialah sebagai berikut :
Foto Keterangan

jamur didalam cawan petri telah berkembang biak, jamur memiliki warna putih dan berhifa.


perbanyakan jamur tidak berhasil yang dicirikan dengan adanya kontaminasi dan warna yang berbeda, kontaminasi tersebut diakibatkan karena tidak steril saat proses perbanyakan jamur.








B. Pembahasan
Pada praktikum perbanyakan jamur entomopatogen pada media padat ini didapatkan jamur Beauveria bassiana, yang dicirikan dengan memiliki warna putih, berhifa serta bergrombol tebal. jamur Beauveria bassiana merupakan jamur mikroskopik dengan tubuh berbentuk benang-benang halus (hifa). Jamur ini tidak dapat memproduksi makanannya sendiri, oleh karena itu dia bersifat parasit terhadap serangga inangnya. Jamur ini umumnya ditemukan pada serangga yang hidup di dalam tanah, tetapi juga mampu menyerang serangga pada tanaman atau pohon.
Perbanyakan jamur entomopatogen dilakukan dengan cara masukan bahan-bahan yang telah direkomendasikan kedalam Erlenmeyer lalu tutup dengan alumunium foil tutup lagi dengan plastic, dan dikaretin, kemudian cawan petri dan Erlenmeyer yang berisi bahan diautoclave. Setelah diautoclave bahan dituang ke cawan petri tunggu hingga media mengeras baru isolasi dan yang terakhir reisolasi jamur entomopatogen ke media baru.
Setelah  reisolasi dilakukan maka tunggu hingga jamur muncul, apabila kemunculan jamur memiliki warna yang berbeda seperti praktikum yang telah dilakukan maka pada saat reisolasi kemungkinan terjadi kontaminasi sehingga jamur Beauveria bassiana tidak seteril, kontaminasi dapat diakibatkan oleh bakteri, jamur yang tidak dikehendaki dan lain-lain, sehingga hasilnya tidak sempurna.
Pada praktikum perbanyakan jamur entomopatogen di media padat kali ini telah terjadi kesalahan pada saat proses re-isolasi. Hal tersebut dapat diketahui dengan tumbuhnya bakteri di media padat GYA yang di inkubasikan. Kesalahan ini dapat terjadi karena beberapa sebab diantaranya yaitu saat re-isolasi terlalu lama proses pembukaan media GYA, saat isolasi terlalu jauh dari api bunsen, ataupun terlalu besar permukaan cawan yang dibuka saat re-isolasi berlangsung.





IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dalam praktikum adalah sebagai berikut:
1. jamur entomopatogen yang tumbuh pada media GYA adalah jenis dari Beauveria bassiana
2. jamur Beauveria bassiana dicirikan dengan hifanya yang berwarna putih,
3. pada saat re-isolasi telah terjadi kontaminasi
4. kontaminasi dapat terjadi karena saat re-isolasi terlalu lebar proses pembukaan media GYA, saat isolasi terlalu jauh dari api bunsen, ataupun terlalu besar permukaan cawan yang dibuka saat re-isolasi berlangsung.
5. Beauveria bassiana merupakan jamur mikroskopik dengan tubuh berbentuk benang-benang halus.

B. Saran
Pada proses isolasi maupun re-isolasi mikroba jamur entomopatogen haruslah steril dari kontaminan mikroba lainnya supaya perbanyakan jamur yang dilakukan  berhasil. Untuk itu saat proses isolasi dan re-isolasi tersebut haruslah benar dan diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan yang mengakibatkan terjadinya kontaminasi mikroba yang tidak diharapkan.