Sabtu, 31 Desember 2016

skripsi Pengaruh tinggi permukaan air padamedia tanam budidaya sawi manis dengan sistem terapung di rawa lebak

SKRIPSI 

PENGARUH TINGGI PERMUKAAN AIR PADA MEDIA 
TANAM BUDIDAYA SAWI MANIS DENGAN SISTEM 
TERAPUNG DI RAWA LEBAK 



THE EFFECT OF WATER LEVEL IN GROWIN MEDIA 
FLOATING CULTURE OF MUSTARD GREENS IN 
RIPARIAN WETLANDS 







KHAYATU KHOIRI 

05121407020 



PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI 
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 
2016 






SUMMARY 

KHAYATU KHOIRI, The effect of water level in growing media during floating culture of mustard greens in riparian wetlands (directed by BENYAMIN LAKITAN and FIRDAUS SULAIMAN). 
During flooding period at present, there is almost no agricultural activities at riparian wetlands. Therefore, floating culture can be promoted for increasing cropping intensity under this circumstance, including floating culture of vegetable crops such as mustard greens. Advantages of floating culture include less effort for watering the crops, can be used for producing organic crops, ecologically-friendly, and is expected to fulfill local need for vegetables. Objectives of this research were to evaluate effects of water level in growing media during floating culture on growth and yield of three varieties of mustard greens in riparian wetland. The research was conducted at Pemulutan Ulu Village, Pemulutan District, Ogan Ilir Regency, South Sumatra, from March to May 2016. The greens were planted in 15 cm diameter and 20 cm height growing media in polybags, orderly positioned on floating rafts made of giant bulrush Actinoscirpus grossus. Experimental design applied was Randomized Block Design (RBD). Treatments were water level in growing media dan mustard greens varieties. Three water levels applied were 0, 5, and 10 cm, measured from based of the polybags. Varieties used were Sri Tanjung, Tosakan, and Sesai. Each combined treatmets were repeated 3 times. Results of the research indicated that water level significantly affects on growth and yield of mustard greens. Water level at 0 cm (water surface just touched bottom of the polybag) performed as the best water level treatment. There were no difference among mustard greens responses to water level treatments. Keywords: water level, mustard greens, floating culture, riparian wetland RINGKASAN KHAYATU KHOIRI, Pengaruh Tinggi Permukaan Air pada Media Tanam Budidaya Sawi Manis dengan Sistem Terapung di Rawa Lebak (dibimbing oleh BENYAMIN LAKITAN dan FIRDAUS SULAIMAN) Pada saat tergenang petani tidak melakukan aktivitas budidaya pada lahan rawa lebak mereka. Untuk meningkatkan intensitas budidaya pertanian pada kondisi tersebut, perlu dikembangkan budidaya sayuran secara terapung, misalnya budidaya sawi manis. Keuntungan dari sistem pertanian terapung adalah tidak perlu melakukan penyiraman karena air berdifusi dari bawah media, pertanian dapat bersifat organik, merupakan sistem yang tidak mengganggu keseimbangan ekosistem rawa, dan diharapkan pula dapat memenuhi kebutuhan sayuran masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi permukaan air pada media tanam dalam budidaya tiga varietas sawi manis dengan sistem terapung di rawa lebak terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pemulutan Ulu, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan. Penelitian dilakukan mulai bulan Maret 2016 sampai dengan Mei 2016. Tanaman sawi manis ditanam pada media di dalam polibeg berdiameter 15 cm dengan tinggi media 20 cm. Polibeg diletakkan di atas rakit apung yang dibuat dari rumput rawa Actinoscirpus grossus. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu tinggi muka air pada media tanam dan varietas sawi manis. Perlakuan tinggi muka air terdiri dari 3 level, yakni 10 cm, 5 cm, dan 0 cm dari dasar polybag. Jenis varietas yang digunakan adalah Sri Tanjung, Tosakan, dan Sesai. Kombinasi perlakuan 3 muka air dan 3 varietas diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi muka air memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi manis. Perlakuan tinggi muka air 0 cm menujukkan pertumbuhan dan hasil yang terbaik. Tidak ada perbedaan yang nyata antara ketiga varietas yang diteliti pada hampir semua peubah yang diamati. Kata kunci: permukaan air, sawi manis, budidaya terapung, rawa lebak SKRIPSI PENGARUH TINGGI PERMUKAAN AIR PADA MEDIA TANAM BUDIDAYA SAWI MANIS DENGAN SISTEM TERAPUNG DI RAWA LEBAK THE EFFECT OF WATER LEVEL IN GROWING MEDIA FLOATING CULTURE OF MUSTARD GREENS IN RIPARIAN WETLANDS Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian KHAYATU KHOIRI 05121407020 PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2016 LEMBAR PENGESAHAN PENGARUH TINGGI PERMUKAAN AIR PADA MEDIA TANAM BUDIDAYA SAWI MANIS DENGAN SISTEM TERAPUNG DI RAWA LEBAK SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Oleh Khayatu Khoiri 05121407020 Palembang, November 2016 Pembimbing I Pembimbing II Prof. Benyamin Lakitan, Ph.D. Dr.Ir. Firdaus Sulaiman, M.Si. NIP. 196006151983121001 NIP. 195908201986021001 Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Unsri Dr. Ir Erizal Sodikin NIP 196002111985031002 Skripsi Berjudul “Pengaruh Tinggi Permukaan Air pada Media Tanam Budidaya Sawi Manis dengan Sistem Terapung di Rawa Lebak” oleh Khayatu Khoiri, telah dipertahankan didepan komisi penguji Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya pada tanggal 21 November 2016 dan telah diperbaiki sesuai saran dan masukan dari tim penguji. Komisi Penguji 1. Prof. Benyamin Lakitan, Ph.D. Ketua ( ) NIP 196006151983121001 2. Dr.Ir. Firdaus Sulaiman, M.Si. Sekertaris ( ) NIP 195908201986021001 3. Dr. Ir. Zachruddin Romli Samjaya. M.P. Anggota ( ) NIP 195312151984031002 4. Dr. Ir. Susilawati, M.Si. Anggota ( ) NIP 196712081995032001 5. Dr. Ir. Lidwina Ninik Sulistyaningsih, M.Si. Anggota ( ) NIP 195504251986022001 Palembang, November 2016 Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Ketua Program Studi Universitas Sriwijaya Agroekoteknologi Dr. Ir. Erizal Sodikin Dr. Ir. Munandar, M.Agr. NIP.196002111985031002 NIP. 196012071985031005 PERNYATAAN Saya yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Khayatu Khoiri NIM : 05121407020 Judul : Pengaruh Tinggi Permukaan Air pada Media Tanam Budidaya Sawi Manis dengan Sistem Terapung di Rawa Lebak Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa seluruh data dan informasi yang disajikan dalam skripsi ini, kecuali yang dicantumkan dengan jelas sumbernya, adalah hasil penelitian atau investigasi saya sendiri dan belum pernah atau tidak sedang diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan lain atau gelar yang sama di tempat lain. Palembang, November 2016 yang membuat pernyataan Khayatu Khoiri RIWAYAT HIDUP Penulis Khayatu Khoiri merupakan anak kelima dari lima bersaudara dari pasangan bapak Paryono dan ibu Sri Aminah yang lahir pada 29 September 1993 di Desa Cinta Damai SPC1, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin. Penulis lulus pendidikan Sekolah Dasar di SDN SPC1 (2006), lulus sekolah menenggah Pertama di MTS Sabilul Hasanah Banyuasin (2009), dan lulus sekolah Menenggah Atas di MAS Sabilul Hasanah Banyuasin (2012). Sejak tahun 2012 penulis melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur Ujian Saringan Masuk (USM), diterima sebagai mahasiswa di Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Pada semester V (lima) Penulis mengambil peminatan Agronomi. Semasa kuliah penulis aktif di kegiatan perkuliahan dan aktivitas kampus seperti kegiatan Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi (Himagrotek), dan Himpunan Mahasiswa Agronomi (Himagron). Universitas Sriwijaya ix KATA PENGANTAR Alhamdulillah adalah awal kata yang dapat penulis ucapkan, sebagai rasa syukur atas karunia Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, dan kejernihan dalam berpikir, sehingga penulis mampu menyelesaikan Skripsi ini. Sholawat serta salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Skripsi ini, terutama kepada dosen pembimbing, Bapak Prof. Benyamin Lakitan, Ph.D. dan Bapak Dr. Ir. Firdaus Sulaiman, M.Si yang telah memberikan pengarahan serta bimbingan kepada penulis dari awal hingga selesai skripsi ini, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada bapak Dr. Ir. Zachruddin Romli Samjaya, M.P., ibu Dr. Ir. Susilawati, M.Si., dan ibu Dr. Ir. Lidwina Ninik S, M.Si. yang telah bersedia memberikan masukan dan saran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada ketua Program Studi Agroekoteknologi, Ketua Program Studi Budidaya Pertanian. Ucapan terima kasih kepada bapak Haji Hasim selaku pemilik lahan dalam penelitian yang telah banyak membantu dalam penelitian ini. Rasa terima kasih yang tak terhingga penulis persembahkan kepada kedua orang tua tercinta serta seluruh keluarga besar yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan doa, dorongan semangat, bantuan baik moril maupun materil serta dukungannya kepada penulis. Sepenuhnya penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan serta masih jauh dari kesempurnaan. Saran dan kritik dari pembaca sangat diharapkan untuk menyempurnakan skripsi ini. Besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat bagi kita semua. Palembang, November 2016 Penulis Universitas Sriwijaya x DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ............................................................................ ix DAFTAR ISI ........................................................................................... x DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xii DAFTAR TABEL .................................................................................. xiii DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xiv BAB 1. PENDAHULUAN ..................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ........................................................................... 1 1.2. Tujuan Penelitian ....................................................................... 3 1.3. Hipotesis .................................................................................... 3 1.4. Manfaat ...................................................................................... 3 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................ 4 2.1. Tanaman Sawi Manis (Brassica Juncea (L.) Czern.) ............ 4 2.1.1. Klasifikasi ........................................................................... 5 2.1.2. Botani .................................................................................. 5 2.1.3. Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Manis ................................ 5 2.2. Rawa Lebak ............................................................................... 6 2.3. Rakit Terapung .......................................................................... 7 BAB 3. PELAKSANAAN PENELITIAN .............................................. 9 3.1. Waktu dan Tempat .................................................................... 9 3.2. Alat dan Bahan .......................................................................... 9 3.3. Metode Penelitian ...................................................................... 9 3.4. Cara Kerja .................................................................................. 11 3.4.1. Pembuatan Rakit .................................................................. 11 3.4.2. Persemaian ........................................................................... 11 3.4.3. Persiapan Media ................................................................... 12 3.4.4. Penanaman ........................................................................... 12 3.4.5. Pemeliharaan ........................................................................ 12 3.4.6. Panen .................................................................................... 12 Universitas Sriwijaya xi 3.5. Peubah yang diamati .................................................................... 12 3.5.1. Pertumbuhan tanaman .......................................................... 12 3.5.2. Hasil tanam........................................................................... 13 3.6. Analisis Data ................................................................................ 13 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................. 14 4.1. Hasil ............................................................................................. 14 4.2. Pembahasan ................................................................................. 23 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................. 27 5.1. Kesimpulan .................................................................................. 27 5.2. Saran ............................................................................................ 27 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 28 LAMPIRAN ............................................................................................ 31 Universitas Sriwijaya xii DAFTAR GAMBAR Halaman 3.1. Skema tinggi permukaan air........................................................ 10 3.2. Rakit terapung ............................................................................. 10 4.1. Pertumbuhan tinggi tanaman sawi manis varietas sri tanjung, tosakan, dan sesai sampai umur 32 hari setelah pindah tanam yang diberi perlakuan tinggi permukaan air 0 cm (A) 5 cm (B), dan 10 cm (C).............................................................................. 17 4.2. Pertumbuhan Jumlah daun tanaman sawi manis varietas sri tanjung, tosakan, dan sesai sampai umur 32 hari setelah pindah tanam yang diberi perlakuan tinggi permukaan air 0 cm (A), 5 cm (B), dan 10 cm (C) ................................................................ 18 4.3. Pertumbuhan Panjang helai daun tanaman sawi manis varietas sri tanjung, tosakan, dan sesai sampai umur 24 hari setelah pindah tanam yang diberi perlakuan tinggi permukaan air 0 cm (A) 5 cm (B), dan 10 cm (C) ....................................................... 19 4.4. Pertumbuhan Lebar helai daun tanaman sawi manis varietas sri tanjung, tosakan, dan sesai sampai umur 24 hari setelah pindah tanam yang diberi perlakuan tinggi permukaan air 0 cm (A) 5 cm (B), dan 10 cm (C) ................................................................ 20 4.5. Rerata jumlah berat segar tajuk Sawi manis ................................ 21 4.6. Rerata jumlah berat kering tajuk Sawi manis .............................. 22 4.7. Rerata jumlah berat Kering Akar Sawi manis.............................. 22 4.8. Hasil Analisis Klorofil Sawi manis .............................................. 23 Universitas Sriwijaya xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1. Nilai F- hitung tinggi tanaman sawi manis ..................................... 14 4.2. Nilai F- hitung jumlah daun tanaman sawi manis ........................... 15 4.3. Nilai F- hitung panjang helai daun tanaman sawi manis ................ 15 4.4. Nilai F- hitung lebar helai daun tanaman sawi manis ..................... 16 4.5. Nilai F- hitung Berat segar tajuk, Berat kering Tajuk, Berat kering Akar, dan Kandungan zat hijau daun (SPAD) ................................. 21 Universitas Sriwijaya xiv DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran.1. Bagan Penelitian ................................................................. 31 Lampiran.2. Kegiatan penelitian ............................................................. 32 Lampiran.3. Analisis klorofil di labolatorium......................................... 35 Lampiran.4. Perhitungan analisis ragam tinggi tanaman hari ke 4 sampai dengan 32 setelah pindah tanam ............................ 36 Lampiran.5. Perhitungan analisis ragam jumlah daun hari ke 4 sampai dengan 32 setelah pindah tanam ............................ 38 Lampiran.6. Perhitungan analisis ragam panjang helai daun hari ke 4 sampai dengan 32 setelah pindah tanam ............................ 41 Lampiran.7. Perhitungan analisis ragam lebar helai daun hari ke 4 sampai dengan 32 setelah pindah tanam ............................ 44 Lampiran.8. Perhitungan analisis ragam Berat segar tajuk, Berat kering Tajuk, Berat kering Akar, dan Kandungan zat hijau daun (SPAD) ............................................................. 46 Lampiran.9. Deskripsi Varietas............................................................... 48 Universitas Sriwijaya 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lahan rawa lebak adalah lahan yang pada periode tertentu tergenang air dan rezim airnya dipengaruhi oleh hujan, baik yang turun setempat maupun di daerah hulunya. Berdasarkan tinggi dan lama genangan airnya, lahan rawa lebak dikelompokkan menjadi lebak dangkal, lebak tengahan dan lebak dalam. Lahan lebak dangkal adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya kurang dari 50 cm selama kurang dari 3 bulan. Lahan lebak tengahan adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya 50 - 100 cm selama 3 - 6 bulan. Lahan lebak dalam adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya lebih dari 100 cm selama lebih dari 6 bulan (Widjaya-Adhi, 2000). Luas lahan rawa lebak di Indonesia diperkirakan seluas 13,3 juta ha yang terdiri dari 4,2 juta ha rawa lebak dangkal 6,07 juta ha rawa lebak tengahan dan 3,0 juta ha rawa lebak dalam. Lahan tersebut terbesar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya (Widjaya-Adhi et al., 1992). Mengingat arealnya luas pemanfaatannya belum dilakukan baik secara intensif maupun ekstensif, dan teknologi pemanfaatannya cukup tersedia (Achmadi dan Irsal Las, 2006), maka lahan rawa lebak perlu lebih mendapat perhatian. Menurut Bernas (2010), di Sumatera Selatan petani mulai menanam padi sekitar Juni atau Juli dan panen pada September dan Oktober, sisa dari waktu tersebut (sekitar 7-8 bulan) petani membiarkan lahannya tergenang tanpa ditanami. Petani hanya mengelola lahan pertaniannya hanya untuk 3 bulan dalam setahun. Secara tradisional lahan rawa selama tergenang tidak dimanfaatkan oleh petani, untuk meningkatkan aktivitas petani dilahan tersebut dapat digunakan sistem pertanian terapung. Potensi produksi tanaman sayuran di rawa lebak masih rendah, untuk memenuhi kebutuhan sayuran didaerah tersebut perlu adanya teknik budidaya yang dapat menyesuaikan lingkungan sekitar, kendala produksi tanaman sayuran di lahan rawa lebak berupa genangan air, tingginya kemasaman tanah, keberadaan kation Al dan Fe yang mengikat fosfor. Menurut Alihamsyah dan Ar-Riza (2006), 2 Universitas Sriwijaya tingkat kesuburan tanah di lahan rawa lebak dapat dikategorikan kurang, sehingga untuk meningkatkan produktivitasnya perlu dilakukan pemupukan. Pemupukan yang dapat digunakan adalah pupuk organik maupun pupuk anorganik. Sebagian petani rawa lebak Sumatera Selatan biasa melakukan persemaian untuk bibit padi dengan menggunakan rakit apung (Syafrullah, 2004), tetapi belum dilakukan untuk budidaya tanaman lain, termasuk untuk budidaya sayuran. Rakit apung dibuat dengan menggunakan tumbuhan rumput rawa (Actinoscirpus grossus), dalam bahasa lokal disebut berondong sebagai pengapung dan di atasnya diberi media tanam dari rumput purun (Menyanthestrifoliata) yang mudah terdekomposisi sehingga sesuai untuk media pembibitan padi. Menurut Marlina dan Syafrullah (2014), budidaya tanaman di atas rakit terapung cukup baik untuk pertumbuhan tanaman. Hal ini dikarenakan rakit memiliki daya apung yang baik. Keuntungan dari sistem pertanian terapung adalah tidak perlu melakukan penyiraman karena air berdifusi dari bawah media, pertanian dapat bersifat organik merupakan sistem yang bijaksana dalam menjaga keseimbangan rawa, dan memanfaatkan rawa apa adanya karena tidak perlu di drainase (Assaduzzaman, 2004). Tanaman sayuran daun yang berumur pendek dan biomas yang tidak terlalu masif diharapkan sesuai untuk budidaya dengan rakit apung. Sawi manis (Brassica juncea (L.) Czern.) merupakan tanaman semusim. Sawi manis dapat tumbuh baik di dataran rendah. Pertumbuhan optimal jenis sawi akan tercapai jika kondisi lingkungan, seperti cahaya, kelembaban, suhu, dan jenis tanah mendukung. Budidaya sawi meningkatkan berat tajuk adalah hal yang utama sebab yang dikonsumsi adalah bagian tajuk (Fahrudin, 2009). Menurut Abas (2014), varietas Tosakan menunjukkan hasil panen tertinggi dibandingkan dengan varietas lain, Perlakuan varietas Tosakan memberikan pengaruh nyata pada peningkatan jumlah daun pada 4 MST sebesar 8,98 helai dan berat segar tajuk sebesar 211,67 g, dari masing-masing deskripsi varietas yang telah ditentukan varietas tosakan memiliki potensi produksi tertinggi yaitu 150-200 g/ tanaman. 3 Universitas Sriwijaya 1.2. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tinggi permukaan air pada media tanam selama budidaya tiga varietas sawi manis (Brassica juncea (L.) Czern.) dengan sistem terapung terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman. 1.3. Hipotesis 1. Diduga tinggi permukaan air pada media tanam 0 cm dari permukaan rakit menunjukan pertumbuhan dan hasil panen yang terbaik. 2. Diduga sawi manis Varietas Tosakan menunjukan hasil yang terbaik. 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada para petani bahwa penanaman sawi manis dapat di lakukan pada lahan rawa lebak meskipun dalam kondisi tergenang dengan menggunakan rakit apung. Universitas Sriwijaya 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Sawi Manis (Brassica juncea (L.) Czern) Sawi manis dikenal juga dengan caisim (Cina) merupakan sayuran yang banyak diminati konsumen saat ini. Sawi manis berasal dari Cina. Kondisi iklim dan tanah di beberapa lokasi di Indonesia cocok untuk tanaman sawi manis, sehingga tanaman ini banyak dikembangkan di Indonesia. Tanaman Sawi manis dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas dan berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan di dataran rendah maupun dataran tinggi. Sawi manis mempunyai sifat menyerbuk silang, sulit menyerbuk sendiri (Soenaryono, 1989). Menurut Opena dan Tay (1994), tanaman Sawi manis bertangkai daun panjang dan daunnya berbentuk lonjong. Sawi manis dapat ditanam sepanjang tahun di daerah subtropika dan tropika pada kisaran suhu optimum 25°C – 36°C. Pemberian cahaya dan drainase yang baik serta jenis tanah lempung berpasir atau lempung berliat yang subur baik untuk pertumbuhan tanaman sawi manis. Daun sawi manis berbentuk bulat panjang serta berbulu halus dan tajam, urat daun utama lebar dan berwarna putih. Daun sawi manis ketika dimasak bersifat lunak, sedangkan yang mentah rasanya agak pedas (Sunarjono, 2004). Di antara sayuran daun, sawi manis merupakan komoditas yang memiliki nilai komersial dan digemari masyarakat Indonesia. Konsumen menggunakan daun sawi manis sebagai pelengkap masakan tradisional dan masakan Cina. Sebagai bahan pangan, sawi manis dipercaya dapat menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk. Sawi manis berfungsi sebagai penyembuh sakit kepala dan pembersih darah (Haryanto et al., 2003). 5 Universitas Sriwijaya 2.1.1. Klasifikasi Menurut Haryanto et al., (2003), klasifikasi tanaman sawi manis adalah sebagai berikut: Divisi : Spermatophyta Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Brassicales Famili : Brassicaceae Genus : Brassica Spesies : Brassica juncea (L.) Czern. 2.1.2. Botani Seperti tanaman lainnya, tanaman sawi manis mempunyai organ tanaman seperti akar, batang, dan daun. Akar tanaman sawi manis berupa akar tunggang dan cabang-cabang akar yang bentuknya bulat panjang, menyebar ke seluruh arah pada kedalaman antara 5-10 cm (Cahyono, 2003). Menurut Haryanto et al (2009), batang tanaman sawi manis pendek dan beruas-ruas, sehingga hampir tidak kelihatan, berfungsi sebagai alat pembentuk dan penompang daun. Selain batang, sawi manis memiliki daun-daun bergerigi, bertangkai panjang yang bentuknya pipih, struktur bunga yang ada pada tanaman sawi manis tersusun dalam tangkai bunga yang memanjang (tinggi) dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga terdiri atas empat helai daun kelopak, empat helai daun mahkota bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari, dan satu buah putik yang berongga dua. 2.1.3. Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Manis Tanaman sawi manis merupakan tanaman sayuran dengan iklim sub-tropis, namun mampu beradaptasi dengan baik pada iklim tropis. Menurut Haryanto et al., (2003) tanaman sawi manis dapat tumbuh baik pada dataran rendah sampai ketinggian 1200 m di atas permukaan laut dan kondisi suhu udara yang baik untuk tanaman sawi adalah 15 - 20°C. Tanaman sawi manis merupakan salah satu tanaman semusim yang membutuhkan tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi dan kondisi ini 6 Universitas Sriwijaya bisa didapatkan dengan menambahkan pupuk organik pada lahan yang akan ditanami (Yulia et al., 2011). Menurut Abas (2014), jarak tanam yang baik untuk budidaya tanaman sawi adalah 20 x 40 cm karena memberikan persentase tajuk yang tertinggi. Tanaman sawi manis dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, namun paling baik adalah pada jenis tanah lempung berpasir seperti tanah andosol. Pada kondisi tanah yang mengandung liat perlu dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu, antara lain pengolahan tanah yang cukup dalam. Cara yang dapat dilakukan antara lain melakukan penambahan pasir dan pupuk organik dalam jumlah dosis yang cukup tinggi (Fransiska, 2009). Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhan tanaman sawi manis adalah antara pH 6.0 sampai pH 7.0 (Haryanto et al., 2003). 2.2. Rawa lebak Lahan rawa merupakan kawasan lahan bertopografi datar yang terdapat sepanjang kiri dan kanan sungai besar dan biasanya digenangi air selama beberapa waktu terutama pada musim hujan. Lahan rawa lebak merupakan agroekosistem yang pengembangannya masih tertinggal dibandingkan dengan agroekosistem lainnya seperti lahan kering atau lahan irigasi. Indonesia memiliki rawa lebak cukup luas sekitar 13,27 juta ha dan baru sebagian kecil atau kurang dari satu juta ha yang berhasil dimanfaatkan (Noor, 2007). Hidrologi lahan rawa lebak cocok untuk tanaman padi, oleh sebab itu padi merupakan salah satu komponen utama dalam sistem usaha tani masyarakat lahan rawa lebak. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan varietas unggul, padi di lahan lebak dapat mencapai 5,0 – 7,0 ton gabah kering panen per hektar, sehingga prospeknya sangat baik dalam meningkatkan produksi serta pendapatan petani melalui pengembangan sistem usahatani terpadu (Waluyo dan Supartha 1994). Padi, palawija dan sayuran merupakan komoditas utama dalam kegiatan usahatani di lahan lebak. Oleh sebab itu untuk menunjang keberhasilan usahatani maka perlu didukung, dengan penyediaan teknologi spesifik lahan rawa lebak yang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan produksi pertanian. Sebagai 7 Universitas Sriwijaya lahan potensial dalam pengembangan tanaman pangan, lahan lebak memegang posisi semakin penting, tidak hanya untuk produksi pangan nasional, tetapi juga memberikan peluang bagi diversifikasi produksi, agribisnis dan pengembangan wilayah (Djafar, 1994). 2.3. Rakit Terapung Sistem pertanian terapung merupakan teknologi tradisional masyarakat Intha di Myanmar (Than, 2007), dalam hal tersebut sistem pertanian terapung dapat juga diterapkan di lahan rawa lebak yang ada di Sumatra Selatan, seperti penanaman sayuran di gelas plastik bekas (Syafrullah, 2007), bisa juga dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapatkan di daerah sekitar rawa seperti rumput rawa yang mudah didapat. Masyarakat didaerah Pemulutan banyak memanfaatkan rumput rawa untuk penyemaian padi, dan dapat pula dimanfaatkan untuk budidaya tanaman sayuran yang berumur relatif pendek. Sistem pertanian terapung dengan memanfaatkan rumput air sebagai media tanam dan menanam berbagai jenis sayuran dan buahan, sudah dilakukan sejak zaman dahulu di Bangladesh (Assaduzzaman, 2004). Teknologi rakit terapung merupakan teknologi budidaya tanaman di lahan pertanian yang tergenang, yaitu memodifikasi dari batang bambu atau tanaman lainnya yang bisa mengapung menjadi wadah media tanam sehingga dapat digunakan pada lahan pertanian yang mengalami banjir atau tergenang seperti lahan rawa lebak (Marlina dan Syafrullah, 2014). Sebagai suatu model untuk pertanian terapung, rakit dikonstruksi dengan menggunakan tumbuhan rumput rawa karena dapat mengapung dan banyak tersedia pada ekosistem rawa lebak, serta petani di daerah rawa lebak Sumatra Selatan sering menggunakan rakit terapung tersebut untuk persemaian padi saat lahan rawa tergenang. Menurut (Bernas et al., 2012) budidaya tanaman kangkung darat dengan sistem terapung menunjukkan hasil bahwa kompos secara nyata meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar dan berat kering tanaman. Tinggi tanaman 38 cm dengan perlakuan kompos dan 28 cm tanpa kompos, berat basah tanaman 149 g/rumpung dengan kompos dan 25 g/rumpun tanpa kompos. Dengan 8 Universitas Sriwijaya demikian kesuburan tanah lebak yang sangat rendah cukup ditambah kompos untuk meningkatkan kandungan hara bagi kebutuhan tanaman, ini menunjukkan bahwa tanaman kangkung dapat ditanam secara mudah, murah dan ramah lingkungan. Menurut Rachmawati, dan Retnaningrum (2013), pertumbuhan tinggi tanaman padi pada perlakuan penggenangan 2, 4 dan 8 cm berbeda nyata dengan tanpa penggenangan, namun lama penggenangan tidak berbeda nyata, perlakuan penggenangan juga secara nyata meningkatkan jumlah anakan, biomassa tanaman dan nisbah akar tajuk. Tinggi tanaman pada perlakuan penggenangan relatif lebih tinggi dan jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan dengan kontrol tanpa penggenangan, pertumbuhan padi kultivar Sintanur yang optimal diperoleh pada perlakuan tinggi genangan 4 cm selama 2 minggu penggenangan. Universitas Sriwijaya 9 BAB 3 PELAKSANAAN PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pemulutan Ulu, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan. Penelitian dilakukan mulai bulan Maret sampai Mei 2016. 3.2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian terdiri dari baki penyemaian 20 x 30 cm, batu (pemberat), cangkul, kamera, neraca analitik, oven, polibag ukuran 20 x 25 cm, dan spektrofotometer, Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari benih sawi manis varietas Tosakan, Sesai, dan Sri Tanjung, pupuk kandang, pasir, rumput rawa, dan tanah topsoil. 3.3. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor yaitu tinggi muka air dan varietas, kombinasi perlakuan menjadi 9 dan diulang 3 kali. Perlakuan yang akan diuji adalah : Tinggi permukaan air 1. WL 10 = Kedalaman muka air dari bagian bawah media 10 cm 2. WL 5 = Kedalaman muka air dari bagian bawah media 5 cm 3. WL 0 = Media setara dengan permukaan air Jenis varietas 1. V1 = Varietas Sri Tanjung 2. V2 = Varietas Tosakan 3. V3 = Varietas Sesai 10 Universitas Sriwijaya sehingga keseluruhan plot percobaan ada 27 plot. Kedalaman muka air pada media tanam divisualisasikan pada gambar di bawah ini: Gambar 1. Skema tinggi permukaan air Gambar 2. Rakit terapung. Cara kerja pengamatan khlorofil 1. Kandungan khlorofil daun diamati pada daun segar. 2. Menimbang 2 gram daun segar 3. Menghancurkan daun dalam mortar dengan menambahkan 40 ml aceton 80%, dan dibasahi hingga menjadi bubur halus. 11 Universitas Sriwijaya 4. Memindahkan bubur hijau daun cairan tersebut kedalam corong Buchner yang berisi kertas saring Wattman no.1. 5. Mengatur volume final menjadi 100 ml dengan menambahkan aceton 80%, dengan ini akan diperoleh khlorofil dan jaringan per 100 ml aceton. 6. Penentuan khlorofil, dengan mencatat kerapatan obtik ekstrak khlorofil dalam spektrofotometer yang telah diatur pada panjang gelombang 645 dan 663 nm. perhitungan klorofil dapat menggunakan rumus sebagai berikut: Klorofil. a = 12,7 D-663 - 2,69 D-645 (mg/ l) Klorofil. b = 22,9 D-645 - 4,68 D-663 (mg/ l) Klorofil. Total = 20,2 D-645 + 8,02 D-663 (Mg/l) 3.4. Cara Kerja Cara kerja yang dilakukan dalam penelitian ini ada beberapa tahapan pekerjaan, yaitu: 3.4.1. Pembuatan Rakit Rakit yang dibuat adalah rakit dari rumput rawa yang biasa digunakan untuk persemaian padi dengan panjang 2 meter dan lebar 1 meter dibuat dengan cara pangkal tanaman diikat dengan tanaman lainnya dan dianyam sehingga akan menjadi sebuah rakit. Rakit yang digunakan disesuaikan dengan masing-masing perlakuan. Untuk mengatur tinggi permukaan air, rakit ditambah beban untuk mendapatkan ketinggian air yang diinginkan. 3.4.2. Persemaian Media persemaian yang digunakan adalah tanah lapisan atas dicampur dengan pasir (1:1 v/v) yang dimasukkan pada baki penyemaian, kemudian benih tersebut disemai, setelah bibit berdaun tiga sampai empat atau berumur 14 hari bibit dipindahkan ke media tanam polibeg, kriteria bibit yang dipilih untuk ditanam pada media polibeg dipilih yang seragam dari stok tanaman di persemaian. 12 Universitas Sriwijaya 3.4.3. Persiapan Media Penyiapan media yaitu menyiapkan media berupa tanah topsoil dan pupuk kandang, kedua media tersebut dicampur hingga merata, penyampuran menggunakan perbandingan (1:1 v/v), setelah dicampur media dimasukan dalam polibeg berukuran 20 x 25 cm, pengunaan polibeg dipilih agar tanah tidak terjatuh ke air. 3.4.4. Penanaman Tanaman sawi manis ditanam pada media di dalam polibag berdiameter 15 cm dengan tinggi media 20 cm. Polibag yang sudah siap dengan tanaman sawi manis diletakan di atas rakit terapung. Tinggi muka air tanah diatur sesuai dengan setiap perlakuan dengan mengatur tambahan beban pada rakit. 3.4.5. Pemeliharaan  Penyulaman dilakukan untuk mengganti bibit yang mati 3 - 7 hari.  Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma secara hati-hati agar tidak merusak tanaman.  Pengendalian hama dan patogen tanaman dilakukan secara manual. 3.4.6. Panen Pemanenan dilakukan setelah sawi manis berumur 32 hari setelah pindah tanam (HST). Kriteria panen sawi manis dilakukan ketika daun paling bawah menunjukkan warna kuning dan belum berbunga. 3.5. Peubah yang Diamati Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah 3.5.1. Pertumbuhan Tanaman 1. Tinggi Tanaman Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang sampai ujung daun tertinggi dari tanaman. Pengukuran dilakukan pada 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32 HST. 13 Universitas Sriwijaya 2. Jumlah Daun Jumlah daun dihitung dengan menghitung jumlah daun per individu tanaman. Daun yang dihitung yaitu daun yang sudah terbentuk sempurna. Penghitungan dilakukan pada 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32 HST. 3. Panjang Helai Daun Panjang helai daun diukur dari pangkal helai daun sampai ujung helai daun, kriteria daun yang dijadikan sample adalah daun ke empat dari bawah tanaman, pengukuran dilakukan pada 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32 HST. 4. Lebar Helai Daun Lebar helai daun di ukur pada sisi terlebar pada garis tegak lurus terhadap tulang daun utama, kriteria daun yang dijadikan sampel adalah daun ke empat dari bawah tanaman, pengukuran dilakukan pada 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32 HST. 3.5.2. Hasil 1. Berat Segar Tajuk Berat segar tanaman di panen dengan menimbang tanaman pada akhir pengamatan (32 HST). 2. Berat Kering Tajuk Berat kering tanaman diperoleh dengan memasukkan tajuk tanaman kedalam oven dengan suhu 80° C selama 2 x 24 jam sampai berat konstan. 3. Berat Kering Akar Berat kering akar di peroleh dengan menimbang berat akar tanaman dengan membersihkan akar tanaman dari tanah dengan dicuci. 3.6. Analisis Data Data hasil penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam menurut Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial, dan dilakukan uji lanjut BNT pada taraf 5%. Universitas Sriwijaya 14 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 1. Tinggi Tanaman Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa nilai F- Hitung peubah tinggi sawi manis setelah dipindah ke rakit terapung pada 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, dan 32 hari adalah sebagai berikut : Tabel 1. Nilai F- hitung tinggi tanaman sawi manis Perlakuan Pengamatan dilakukan pada (hari ke-) setelah pindah tanam 4 8 12 16 20 24 28 32 Varietas 1.33 0.49 0.66 2.52 3.90 * 0.89 0.05 0.01 Water level 0.62 2.30 3.74 * 5.37 * 6.43 ** 7.84 ** 7.76 ** 8.29 ** Interaksi 1.78 0.23 0.70 0.63 0.60 1.65 0.94 0.68 Keterangan : * = Berbeda Nyata pada taraf 5% ** = Berbeda Sangat nyata pada taraf 1% Nilai F-hitung perlakuan varietas menunjukkan perbedaan tidak nyata antar pengamatan kecuali pada pengamatan hari ke 20 yang mengalami perbedaan, perlakuan tinggi permukaan air berpengaruh nyata pada setiap pengamatan kecuali pada pengamatan hari ke 4 dan ke 5 karena masih dalam tahap penyesuaian dengan lingkungan sekitar, untuk interaksi antar dua perlakuan tidak ada pengaruh diantara keduanya. Laju pertambahan tinggi tanaman sampai 32 hari setelah perlakuan untuk masing-masing varietas disajikan pada Gambar 3. 2. Jumlah Daun Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa nilai F- Hitung peubah jumlah daun sawi manis setelah dipindah ke rakit terapung pada 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, dan 32 hari adalah sebagai berikut: 15 Universitas Sriwijaya Tabel 2. Nilai F- hitung jumlah daun tanaman sawi manis Perlakuan Pengamatan dilakukan pada (hari ke-) setelah pindah tanam 4 8 12 16 20 24 28 32 Varietas 4.21 * 3.06 0.85 0.95 1.09 0.89 0.05 1.07 Water level 7.32 ** 3.27 6.53 ** 7.48 ** 12.85 ** 7.84 ** 7.76 ** 5.63 * Interaksi 2.29 0.15 0.58 0.86 1.59 1.65 0.94 0.85 Keterangan : * = Berbeda Nyata pada taraf 5% ** = Berbeda Sangat nyata pada taraf 1% Nilai F-hitung perlakuan varietas menunjukkan perbedaan tidak nyata antar pengamatan kecuali pada pengamatan hari ke 4 yang mengalami perbedaan, perlakuan tinggi permukaan air berpengaruh pada setiap pengamatan kecuali pada pengamatan hari ke 8 yang tidak mengalami perbedaan, untuk interaksi antar kedua perlakuan tidak ada pengaruh antar kedua perlakuan. Laju pertambahan jumlah daun sampai 32 hari setelah perlakuan untuk masing-masing varietas disajikan pada Gambar 4. 3. Panjang Helai Daun Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa nilai F- Hitung peubah panjang helai daun sawi manis setelah dipindah ke rakit terapung pada 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, dan 32 hari adalah sebagai berikut: Tabel 3. Nilai F- hitung panjang helai daun tanaman sawi manis Perlakuan Pengamatan dilakukan pada (hari ke-) setelah pindah tanam 4 8 12 16 20 24 28 32 Varietas 1.19 0.18 0.18 0.28 1.16 0.01 0.39 0.18 Water level 0.04 1.24 4.60 * 6.79 ** 9.22 ** 10.40 ** 10.78 ** 10.17 ** Interaksi 0.74 0.19 0.66 1.01 0.98 2.35 1.69 1.80 Keterangan : * = Berbeda Nyata pada taraf 5% ** = Berbeda Sangat nyata pada taraf 1% Nilai F-hitung perlakuan varietas menunjukkan perbedaan tidak nyata antar pengamatan, perlakuan tinggi permukaan air berpengaruh pada setiap pengamatan kecuali pada pengamatan hari ke 4 dan ke 8 karena masih dalam tahap 16 Universitas Sriwijaya penyesuaian dengan lingkungan sekitar, untuk interaksi antar dua perlakuan tidak ada pengaruh diantara keduanya. Laju pertambahan panjang helai daun sampai 32 hari setelah perlakuan untuk masing-masing varietas disajikan pada Gambar 5. 4. Lebar Helai Daun Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa nilai F- Hitung peubah lebar helai daun sawi manis setelah dipindah ke rakit terapung pada 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, dan 32 hari adalah sebagai berikut: Tabel 4. Nilai F- hitung lebar helai daun tanaman sawi manis Perlakuan Pengamatan dilakukan pada (hari ke-) setelah pindah tanam 4 8 12 16 20 24 28 32 Varietas 0.10 0.18 0.29 0.72 1.51 0.85 0.79 0.80 Water level 0.22 2.49 3.20 4.00 * 2.75 0.90 2.89 3.26 Interaksi 0.87 0.69 0.81 0.55 0.88 0.71 1.11 0.85 Keterangan : * = Berbeda Nyata pada taraf 5% ** = Berbeda Sangat nyata pada taraf 1% Nilai F-hitung perlakuan varietas menunjukkan perbedaan tidak nyata antar pengamatan, perlakuan tinggi permukaan air tidak berpengaruh pada setiap pengamatan kecuali pada pengamatan hari ke 16 dan untuk interaksi antar dua perlakuan tidak ada pengaruh diantara keduanya. Laju pertambahan lebar daun sampai 32 hari setelah perlakuan untuk masing-masing varietas disajikan pada Gambar 6. 17 Universitas Sriwijaya Gambar 3. Pertumbuhan tinggi tanaman sawi manis varietas sri tanjung, tosakan, dan sesai sampai umur 32 hari setelah pindah tanam yang diberi perlakuan tinggi permukaan air 0 cm (A) 5 cm (B), dan 10 cm (C). 18 Universitas Sriwijaya Gambar 4. Pertumbuhan jumlah daun tanaman sawi manis varietas sri tanjung, tosakan, dan sesai sampai umur 32 hari setelah pindah tanam yang diberi perlakuan tinggi permukaan air 0 cm (A), 5 cm (B), dan 10 cm (C). 19 Universitas Sriwijaya Gambar 5. Pertumbuhan panjang helai daun tanaman sawi manis varietas sri tanjung, tosakan, dan sesai sampai umur 24 hari setelah pindah tanam yang diberi perlakuan tinggi permukaan air 0 cm (A) 5 cm (B), dan 10 cm (C). 20 Universitas Sriwijaya Gambar 6. Pertumbuhan lebar helai daun tanaman sawi manis varietas sri tanjung, tosakan, dan sesai sampai umur 24 hari setelah pindah tanam yang diberi perlakuan tinggi permukaan air 0 cm (A) 5 cm (B), dan 10 cm (C). 21 Universitas Sriwijaya 5. Berat Segar Tajuk Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa nilai F- Hitung berat segar tajuk, berat kering tajuk, berat kering akar, dan kandungan zat hijau daun (SPAD) adalah sebagai berikut: Tabel 5. Nilai F- hitung berat segar tajuk, berat kering tajuk, berat kering akar, dan kandungan zat hijau daun (SPAD) Perlakuan Berat segar tajuk Berat kering tajuk Berat kering akar SPAD F- Tabel 5% 1% Varietas 0.20 0.47 0.77 0.01 3.63 6.22 Water level 6.34** 5.75* 5.01* 1.91 3.63 6.22 Interaksi 0.73 0.99 0.44 0.29 3.01 4.77 Keterangan : * = Berbeda Nyata pada taraf 5% ** = Berbeda Sangat nyata pada taraf 1% Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tinggi permukaan air berbeda sangat nyata terhadap berat segar tajuk (Tabel 5). Rata-rata berat segar tajuk terberat yaitu 2,99 gram pada perlakuan tinggi permukaan air 0 cm dengan varietas sri tanjung (Gambar 7). Gambar 7. Rerata jumlah berat segar tajuk Sawi manis 22 Universitas Sriwijaya 6. Berat Kering Tajuk Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tinggi permukaan air berbeda nyata terhadap berat kering tajuk (Tabel 5). Rata-rata berat kering tajuk terberat yaitu 1,32 gram pada perlakuan tinggi permukaan air 0 cm dengan varietas tosaka (Gambar 8). Gambar 8. Rerata jumlah berat kering tajuk Sawi manis. 7. Berat Kering Akar Hasil Analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan tinggi permukaan air berbeda nyata terhadap berat kering akar (Tabel 5). Rata-rata berat kering akar terberat yaitu 1,08 gram pada perlakuan tinggi permukaan air 0 cm dengan varietas tosakan (Gambar 9). Gambar 9. Rerata jumlah berat Kering Akar Sawi manis 23 Universitas Sriwijaya 9. Analisis Klorofil Rerata kandungan klorofil Sawi manis disajikan pada Gambar 10 sebagai berikut : Gambar 10. Hasil Analisis Klorofil Sawi manis Hasil analisis klorofil menunjukkan bahwa nilai tertinggi yaitu 6,07 pada perlakuan 5 cm dengan varietas sesai, (cara analisis terdapat pada metodologi penelitian). Cara analisis klorofil ada dimetode penelitian. 4.2. Pembahasan Pada penelitian pengaruh tinggi permukaan air pada media tanam budidaya sawi manis Brassica juncea (L.) Czern. dengan sistem terapung di rawa lebak menunjukkan bahwa perlakuan tinggi permukaan air 0 cm menunjukkan hasil yang terbaik hal ini karena akar tanaman tidak terendam air sehingga pertumbuhan tanaman tidak mengalami stres. Perlakuan tinggi muka air pada media tanam tidak berbeda nyata pada tanaman yang masih kecil, yakni pada 4 dan 8 hari diberi perlakuan (Tabel 1) disebabkan karena sistem perakarannya masih dangkal sehingga belum menyentuh bagian media tanam yang jenuh air. maka perlakuan tinggi muka air tanah belum secara langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Tinggi tanaman sawi manis dalam penelitian menunjukkan adanya pertumbuhan dalam setiap pengamatan, hal ini di pengaruhi oleh faktor lingkungan, fisiologi dan genetik tanaman (Fahrudin, 2009). perlakuan tinggi muka air 0 cm merupakan perlakuan yang terbaik diantara perlakuan lainnya 24 Universitas Sriwijaya karena pada kondisi ini akar tidak mengalami kejenuhan air sehingga kebutuhan oksigen terpenuhi, untuk jenis varietas tidak ada perbedaan antar varietas yang digunakan hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung, genangan air merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Daun merupakan organ tanaman tempat mensintesis makanan untuk kebutuhan tanaman maupun sebagai cadangan makanan, daun memiliki klorofil yang berperan dalam melakukan fotosintesis, semakin banyak jumlah daun, maka tempat untuk melakukan proses fotosisntesis lebih banyak dan hasilnya lebih banyak juga jika fotosintat yang dihasilkan ditranslokasikan ke organ hasil. Pada pengamatan jumlah daun, perlakuan tinggi genangan 0 cm memberikan efek yang baik bagi tanaman namun untuk perlakuan 5 cm dan 10 cm kondisi tanaman terganggu yang dikarenakan akar tanaman menyentuh air yang dapat mengakibatkan kematian akar pada kedalaman tersebut. Kondisi tersebut diperparah dengan keadaan rakit (yang dibuat dari bahan tanaman) lambat laun mengalami pembusukan karena usia rakit umumnya hanya bertahan selama satu bulan. Panjang helai daun pada penelitian menunjukkan adanya perkembangan dalam setiap pengamatan (Tabel 3). Perlakuan tinggi permukaan air berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan sawi manis untuk semua varietas yang diteliti. Perlakuan tinggi permukaan 0 cm menunjukan pertumbuhan yang tertinggi, berbeda dengan perlakuan tinggi permukaan air 5 cm, dan 10 cm, pertumbuhannya justru dibawah perlakuan 0 cm. Hal tersebut membuktikan bahwa tanaman yang tinggi permukaan airnya 5 cm dan 10 cm mengalami hipoksia/anoksia. Menurut Pezeshki (2001) Efek utama genangan air adalah rendahnya keberadaan O2 di bagian tanaman yang terendam, karena gas O2 berdifusi 10.000 lebih cepat di udara dibandingkan di dalam air. Pada akar tanaman, O2 memiliki berbagai pengaruh pada metabolisme tanaman. Ketersediaan O2 memungkinkan terjadinya respirasi aerobik dan metabolisme normal sehingga sebagian besar ATP dihasilkan melalui fosforilasi oksidatif. Hipoksia terjadi ketika penurunan O2 yang tersedia mulai menjadi faktor pembatas untuk produksi ATP melalui 25 Universitas Sriwijaya fosforilasi oksidatif. Pada kondisi anoksia, ATP hanya dihasilkan melalui glikolisis fermentasi, karena tidak ada O2 yang tersedia lagi. kondisi anaerobik berkembang di tanah tergenang, maka ada peningkatan jumlah produk sampingan dari metabolisme fermentasi yang terakumulasi di lingkungan perakaran dan kadar CO2, metana, dan asam lemak volatile meningkat. Pertumbuhan lebar helai daun sawi manis tidak menunjukkan perbedaan nyata (Tabel 4) pada perlakuan tinggi permukaan air 0 cm, 5 cm, 10 cm, dengan varietas Sri tanjung, Tosaka, dan Sesai tidak berpengaruh nyata. Pada Gambar 6 menunjukkan pertumbuhan lebar daun dari hari ke 4 sampai hari ke 24 yang menunjukkan bahwa pertumbuhan lebar helai daun kemungkinan dipengaruhi oleh umur tanaman semakin tua umur tanaman maka semakin besar pula kondisi fisiknya. Berat segar tajuk pada penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tinggi permukaan air dapat dilihat dari (Gambar 7), rata-rata tertinggi adalah pada perlakuan tinggi permukaan air 0 cm untuk varietas sri tanjung, dan berat terendah pada perlakuan tinggi permukaan air 5 cm pada varietas tosakan. Hal ini terjadi karena kondisi rakit terapung pada perlakuan 5 cm mengalami pembusukan terlebih dahulu, selain itu pengaruh dari faktor lingkungan seperti terjadinya air pasang pada akhir-akhir pengamatan sehingga kondisi rakit semakin rusak dan mengakibatkan pengaruh terhadap hasil berat segar tajuk sawi manis, pada perlakuan 10 cm hasil yang didapat justru diatas perlakuan 5 cm karena pada penelitian banyak dipengaruhi oleh fator lingkungan sehingga hasil yang didapat terkadang tidak sesuai dengan teori yang ada. Tinggi tanaman dan jumlah daun juga berpengaruh pada berat segar tajuk tanaman, semakin besar tinggi tanaman dan semakin banyak jumlah daun, maka berat segar tajuk tanaman Sawi manis semakin meningkat. Berat kering tajuk rata-rata tertinggi terdapat pada perlakuan tinggi permukaan air 0 cm dengan varietas Tosakan. Dari hasil analisis ragam perlakuan tinggi permukaan air 0 cm, 5 cm, 10 cm berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk tanaman sawi manis. Berat kering tanaman pada umumnya digunakan sebagai petunjuk yang memberikan ciri pertumbuhan. Berat kering tanaman merupakan akumulasi hasil fotosintat yang berupa protein, karbohidrat dan lipida 26 Universitas Sriwijaya (lemak). Semakin besar berat kering suatu tanaman, maka kandungan hara dalam tanah yang terserap oleh tanaman juga besar. Berat kering tajuk merupakan akumulasi fotosintat yang berada di batang dan daun (Fahrudin, 2009) Pada saat air mengenangi tanah, ruang udara dipenuhi air, mengakibatkan terjadinya perubahan karakteristik fisiko-kimia tanah (Kirt et al., 2003). Menurut Dat et al., (2004) pada saat air memenuhi pori-pori tanah udara didesak keluar, difusi gas berkurang dan senyawa beracun terakumulasi akibat kondisi anaerobik, maka semua perubahan ini sangat mempengaruhi kemampuan tanaman untuk bertahan hidup, sebagai responnya, resistensi stomata meningkat, fotosintesis dan konduktifitas hidrolik akar menurun, dan translokasi fotoasimilat berkurang, maka terjadi priode hipoksia, yaitu ketika kadar oksigen membatasi respirasi mitokondria dan anoksia saat respirasi terhambat. Ketika respirasi menurun, aliran elektron melalui jalur respirasi berkurang, sehingga mengurangi produksi ATP. Akibatnya, bahan kimia pengoksidasi (yaitu nicotinamide adenin dinukleotida, NAD) harus dihasilkan melalui jalur alternatif yang tidak menggunakan O2 sebagai akseptor elektron terminal, ketika fosforilasi oksidatif adenosine difosfat (ADP) terbatas, maka tanaman mengubah metabolismenya dari respirasi aerobik menjadi fermentasi anaerob. Jalur fermentasi anaerob berfungsi sebagai rute metabolisme yang mencakup dua tahap yaitu karboksilasi piruvat menjadi asetaldehida (dikatalisis oleh piruvat dekarboksilase) dan berikutnya reduksi asetaldehida menjadi etanol dengan diiringi oksidasi NAD (P) H menjadi NAD (P), dikatalisis oleh alkohol dehidrogenase (ADH). Metabolisme fermentasi hanya memungkinkan sintesis 2 mol ATP dibandingkan 36 ATP per mol glukosa yang dihasilkan pada respirasi aerobik. Untuk mengimbangi defisit energi, glikolisis dipercepat, menyebabkan menipisnya cadangan karbohidrat, dan enzim yang berperan dalam jalur fermentasi diinduksi secara selektif selama stres hipoksia, sedangkan keseluruhan sintesis protein berkurang, ANPS yang diinduksi dalam kondisi hipoksia adalah enzim glikolisis, fermentasi etanol, proses yang terkait dengan metabolisme karbohidrat yang terlibat dalam pembentukan aerenchyma (Lakitan, 2007). Akar merupakan organ vegetatif utama yang memasok air, mineral dan bahan-bahan yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 27 Universitas Sriwijaya Sistem perakaran tanaman lebih dikendalikan oleh sifat genetik dari tanaman yang bersangkutan, kondisi tanah atau media tanam (Fahrudin, 2009). Pada perlakuan tinggi genagan air 0 cm menunjukan berat akar yang tertinggi. Hal ini disebabkan akar berkembang untuk menyerap air yang berada pada media tanam, berbeda dengan perlakuan tinggi permukaan air 5 cm dan 10 cm yang cenderung tergenang oleh air dan mengakibatkan akar tanaman mengalami pengenangan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tinggi permukaan air berpengaruh nyata terhadap tingkat kehijauan daun, Semakin banyak kandungan klorofil maka kemungkinan terjadinya proses fotosintesis akan berjalan lebih cepat sehingga fotosintat yang dihasilkan pun lebih tinggi. Fotosintat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman, pertumbuhan serta sebagai cadangan makanan. Universitas Sriwijaya 28 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang sudah dilakukan mengacu pada prosedur yang telah ditetapkan pada metodologi penelitian maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Perlakuan tinggi muka air pada media tanam untuk budidaya sawi manis secara terapung yang menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang terbaik adalah 0 cm. 2. Tinggi muka air 5 cm dan 10 cm pada media tanam akan menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tajuk dan akar tanaman sawi, serta kandungan khlorofil daun, namun tidak menunjukkan hasil yang konsisten. 3. Perlakuan varietas sri tanjung, tosakan, dan sesai tidak memberikan pengaruh nyata pada setiap parameter yang diamati. 5.2. SARAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka disarankan sebagai berikut: 1. Penggunaan material organik rumput Actinoscirpus sp. sebagai bahan pembuatan rakit untuk budidaya terapung tidak disarankan jika budidaya tamanannya membutuhkan waktu lebih dari satu bulan, karena bahan rakit ini akan membusuk dan rakit akan terurai setelah satu bulan. 2. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengunakan bahan rakit yang lebih awet terendam dalam air pada budidaya sistem terapung, baik berupa material organik seperti bambu maupun bahan sintetis, terutama dalam rangka daur-ulang seperti menggunakan botol plastik bekas yang dirangkai membentuk rakit terapung. Universitas Sriwijaya 29 DAFTAR PUSTAKA Abas, M.Z. 2014. Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Caisim (Brassica juncea L) Berdasarkan Jarak Tanam dan Varietas. Skripsi. Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo. Acmadi. dan Irsal, L. 2006. Inovasi Teknologi Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Lebak. Prosiding seminar nasioal balai penelitian pertanian lahan rawa. Banjar baru. 28-29 juli 2006. Alihamsyah, T. dan Ar-Riza. 2006. Potensi dan Teknologi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak untuk Pertanian. Makalah Utama Workshop Nasional Pengembangan Lahan Rawa Lebak. Kerjasama Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Pemda Kabupaten Hulu Sungai, Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan Selatan. Assaduzzaman, M. 2004. Floating Agriculture in the flood-prone or submerged areas in Bangladesh (Southern regions of Bangladesh) Bangladesh Resource Centre for Indigenous Knowledge (BARCIK). Dhaka, Bangladesh. Bernas, S.M. 2010. Potential of Floating Horticulture System on Swampland In South Sumatra. Proceeding: International Seminar On Horticulture To Support Food Security. Bandar Lampung. 22nd-23rd June 2010. Bernas, S.M., Alamsyah, P., Siti, N.A., dan Edi, K. 2012. Model Pertanian Terapung dari Bambu untuk Budidaya Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir.) di Lahan Rawa. Jurnal Lahan Suboptimal 1 (2) : 177 – 185. Cahyono, B. 2003. Teknik dan Strategi Budi Daya Sawi Hijau. Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta. Dat, J., Capelli., Folzer., Bourgeade., and Badot. (2004). Sensing and signaling during plantflooding. Plant Physiology and Biochemistry 42, 273-282. Djafar, Z.R. 1994. Potensi lahan lebak untuk pencapaian dan pelestarian swasembada pangan. Dalam Seminar nasional teknologi pemanfaatan lahan rawa lebak untuk pencapaian dan pelestarian swasembada pangan. UNSRI Palembang. Fahrudin, F. 2009. Budidaya Caisim (Brassica juncea Liin.) Menggunakan Ekstrak Teh dan Pupuk Kascing. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Fransiska, S. 2009. Respon Pertumbuhan dan Produksi (Brassica juncea L)Terhadap Penggunaan Pupuk Kascing dan Pupuk Organik Cair. Skripsi. Fakultas pertanian universitas Sumatra utara, Medan.(unpublished). 30 Universitas Sriwijaya Haryanto, ET., Suhartini., dan Rahayu. 2003. Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Jakarta. Kirk, GJD., Solivas., and Alberto,. 2003. Effects of flooding and redox conditions on solute diffusion in soil. European Journal of Soil Science 54, 617-624. Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajagrafindo Persada, Jakarta. Marlina, N. dan Syafrullah. 2014. Pemanfaatan Jenis Kompos Rumpul Rawa pada Mentimun (Cucumis sativus L.) dengan Teknologi Rakit Terapung di Lahan Lebak. Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal 2014, Palembang 26-27 September 2014. ISBN : 979-587-529-9. Noor, M. 2007. Rawa Lebak, Ekologi, Pemanfaatan, dan Pengembangannya. PT. Raja Grapindo Persada, Jakarta. 274 hal. Opena, RT., and Tay. 1994. Brassica rapa L. Group Caisim. Hal 153-157. JS. Simonsma dan K. Pileuk. Plant Recource of Sout-East Asia, Vegetable. PROSEA Foundation. Pezeshki, SR. 2001. Wetland plant responses to soil flooding. Environmental and Experimental Botany 46, hal 299-312. Rachmawati, D., dan Retnaningrum, E. 2013. Pengaruh Tinggi Dan Lama Penggenangan Terhadap Pertumbuhan Padi Kultivar Sintanur dan Dinamika Populasi Rhizobakteri Pemfiksasi Nitrogen Non Simbiosis. J. Ilmu-ilmu Hayati dan Fisik. Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 15(2) : 117 – 125. Soenaryono, H. 1989. Kunci Bercocok Tanam Sayur-sayuran Penting di Indonesia. Sinar Baru, Bandung. Sunarjono, H. 2004. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya, Jakarta. Syafrullah. 2004. Penerapan Teknologi Rakit Terapung dalam Budidaya Tanaman Pangan dan Sayuran di Lahan Lebak Tergenang. Kerjasama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Suamtera Selatan. Syafrullah. 2007. Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak yang Tergenang dengan Teknologi Rakit Terapung dari Limbah Gelas Plastik Air Mineral untuk Budidaya Tanaman Selada (Lactuce sativa L.). Universitas Muhammadiyah Palembang. Palembang. (Unpublished). Than, M.M. 2007. Community Activities Contribution To Water Environment Conservation Of Inle Lake. Union Of Myanmar Ministry Of Agriculture And Irrigation, Irrigation Department. Myanmar. 31 Universitas Sriwijaya Widjaya-Adhi., K Nugroho., dan A Syarifuddin. 1992. Sumber Daya Lahan: Potensi, Keterbatasan dan Pemanfaatan. Risalah Pertemuan Nasional Pengembangan Pertanian Lahan rawa Pasang Surut dan Lebak, Cisarua, 3 – 4 Maret 1992. hal 20 – 38. Widjaya-Adhi. 2000. Pengelolaan, pemanfaatan, dan pengembangan lahan rawa. dalam A. Adimihardjo. Sumber Daya Lahan Indoensia dan Pengelolaannya. Puslittanak, Bogor. hal. 127-164. Waluyo., dan Supartha. 1994.Verifikasi Penelitian Sistem Usaha tani di Lahan Rawa Lebak. Laporan tahunan hasil penelitian Proyek ISDP Kayu Agung Departemen Pertanian. 1994. Yulia, AEN., Murniati., dan Fatimah. 2011. Aplikasi Pupuk Organic pada Tanaman Caisim Untuk Dua Kali Pertanaman. Sagu 10(1) : 14-19. Universitas Sriwijaya 32 LAMPIRAN Lampiran 1. Bagan Penelitian Ulangan1 Ulangan 2 Ulangan 3 Keterangan : WL 0 = Tinggi permukaan air 0 cm WL 5 = Tinggi permukaan air 5 cm WL 10 = Tinggi permukaan air 10 cm S U V1 = Varietas Sri Tanjung V2 = Varietas Tosakan V3 = Varietas Sesa 33 Universitas Sriwijaya Lampiran 2. Kegiatan penelitian Persemaian benih sawi manis Benih Sawi manis Tumbuhan rawa (Brondong) untuk membuat rakit Pembuatan rakit terapung Pupuk kandang kotoran sapi Pengambilan pupuk kandang 34 Universitas Sriwijaya Media siap tanam sawi manis Pemindahan tanaman keatas rakit Pengukuran tinggi tanaman Penghitungan jumlah daun Pengukuran panjang helai daun Pengukuran lebar helai daun 35 Universitas Sriwijaya Penimbangan berat kering tanaman Berat kering akar Botol sample klorofil Analisis klorofil Kunjungan pembimbing ke lokasi Penelitian Foto bersama dengan petani Pemulutan Ulu 36 Universitas Sriwijaya Lampiran 3. Analisis klorofil Hasil Analisis Klorofil 37 Universitas Sriwijaya Lampiran 4. Perhitungan analisis ragam tinggi tanaman hari ke 4 sampai dengan 32 setelah pindah tanam. Daftar sidik ragam tinggi tanaman 4 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.41 0.20 0.31tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 7.26 0.91 1.38tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 1.75 0.87 1.33tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 0.81 0.41 0.62tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 4.70 1.17 1.78tn 3.01 4.77 GALAT 16 10.54 0.66 TOTAL 26 18.21 0.70 Keterangan KK= 14.53% tn= Tidak nyata Daftar sidik ragam tinggi tanaman 8 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 5.16 2.58 2.40tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 7.01 0.88 0.82tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 1.06 0.53 0.49tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 4.95 2.47 2.30tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 1.00 0.25 0.23tn 3.01 4.77 GALAT 16 17.18 1.07 TOTAL 26 29.35 1.13 Keterangan KK= 14.28% tn= Tidak nyata Daftar sidik ragam tinggi tanaman 12 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 6.81 3.40 3.00tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 13.17 1.65 1.45tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 1.50 0.75 0.66tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 8.49 4.25 3.74* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 3.18 0.79 0.70tn 3.01 4.77 GALAT 16 18.15 1.13 TOTAL 26 38.14 1.47 Keterangan KK= 13.46% 38 Universitas Sriwijaya Daftar sidik ragam tinggi tanaman 16 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 5.32 2.66 2.32tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 20.99 2.62 2.29tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 5.79 2.89 2.52tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 12.32 6.16 5.37* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 2.88 0.72 0.63tn 3.01 4.77 GALAT 16 18.34 1.15 TOTAL 26 44.65 1.72 Keterangan KK= 12.43% Daftar sidik ragam tinggi tanaman 20 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 4.18 2.09 2.09tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 23.01 2.88 2.88tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 7.79 3.90 3.90tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 12.83 6.42 6.43* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 2.38 0.60 0.60tn 3.01 4.77 GALAT 16 15.98 1.00 TOTAL 26 43.16 1.66 Keterangan KK= 11.14% Daftar sidik ragam tinggi tanaman 24 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 7.01 3.51 3.04tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 27.72 3.47 3.01tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 2.06 1.03 0.89tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 18.07 9.03 7.84** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 7.59 1.90 1.65tn 3.01 4.77 GALAT 16 18.44 1.15 TOTAL 26 53.17 2.05 Keterangan KK= 11.72% 39 Universitas Sriwijaya Daftar sidik ragam tinggi tanaman 28 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 6.69 3.35 1.56tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 41.52 5.19 2.42tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.23 0.11 0.05tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 33.24 16.62 7.76** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 8.04 2.01 0.94tn 3.01 4.77 GALAT 16 34.26 2.14 TOTAL 26 82.47 3.17 Keterangan KK= 17.39% Daftar sidik ragam tinggi tanaman 32 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 7.58 3.79 1.75tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 41.77 5.22 2.42tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.06 0.03 0.01tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 35.86 17.93 8.29** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 5.86 1.46 0.68tn 3.01 4.77 GALAT 16 34.59 2.16 TOTAL 26 83.94 3.23 Keterangan KK= 16.95% Lampiran 5. Perhitungan analisis ragam jumlah daun hari ke 4 sampai dengan 32 setelah pindah tanam. Daftar sidik ragam jumlah daun 4 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.23 0.11 1.52tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 2.39 0.30 4.03** 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.63 0.31 4.21* 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 1.09 0.54 7.32** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 0.68 0.17 2.29tn 3.01 4.77 GALAT 16 1.19 0.07 TOTAL 26 3.81 0.15 Keterangan KK= 6.12% 40 Universitas Sriwijaya Daftar sidik ragam jumlah daun 8 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.03 0.01 0.06tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 2.83 0.35 1.66tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 1.31 0.65 3.06tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 1.40 0.70 3.27tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 0.12 0.03 0.15tn 3.01 4.77 GALAT 16 3.41 0.21 TOTAL 26 6.27 0.24 Keterangan KK= 9.53% Daftar sidik ragam jumlah daun 12 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.63 0.31 1.49 3.63 6.22 KOMBINASI 8 3.60 0.45 2.13 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.36 0.18 0.85 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 2.76 1.38 6.53 3.63 6.22 INTERAKSI 4 0.49 0.12 0.58 3.01 4.77 GALAT 16 3.38 0.21 TOTAL 26 7.61 0.29 Keterangan KK= 9.98% Daftar sidik ragam jumlah daun 16 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.44 0.22 1.51tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 2.93 0.37 2.54tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.28 0.14 0.95tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 2.16 1.08 7.48** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 0.50 0.12 0.86tn 3.01 4.77 GALAT 16 2.31 0.14 TOTAL 26 5.68 0.22 Keterangan KK= 7.70% 41 Universitas Sriwijaya Daftar sidik ragam jumlah daun 20 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.44 0.22 1.90tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 3.92 0.49 4.28tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.25 0.12 1.09tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 2.94 1.47 12.85* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 0.73 0.18 1.59tn 3.01 4.77 GALAT 16 1.83 0.11 TOTAL 26 6.19 0.24 Keterangan KK= 6.74% Daftar sidik ragam jumlah daun 24 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.35 0.18 0.77tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 4.41 0.55 2.39tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 1.22 0.61 2.64tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 2.09 1.05 4.54* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 1.10 0.28 1.20tn 3.01 4.77 GALAT 16 3.69 0.23 TOTAL 26 8.46 0.33 Keterangan KK= 9.89% Daftar sidik ragam jumlah daun 28 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.39 0.19 0.26tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 10.66 1.33 1.78tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 1.46 0.73 0.97tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 6.95 3.48 4.64** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 2.25 0.56 0.75tn 3.01 4.77 GALAT 16 11.99 0.75 TOTAL 26 23.05 0.89 Keterangan KK= 21.69% 42 Universitas Sriwijaya Daftar sidik ragam jumlah daun 32 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.41 0.20 0.27tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 12.77 1.60 2.10tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 1.62 0.81 1.07tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 8.57 4.28 5.63* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 2.58 0.64 0.85tn 3.01 4.77 GALAT 16 12.18 0.76 TOTAL 26 25.36 0.98 Keterangan KK= 21.11% Lampiran 6. Perhitungan analisis ragam panjang helai daun hari ke 4 sampai dengan 32 setelah pindah tanam. Daftar sidik ragam panjang helai daun 4 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.44 0.22 0.48tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 2.47 0.31 0.68tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 1.09 0.54 1.19tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 0.04 0.02 0.04tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 1.35 0.34 0.74tn 3.01 4.77 GALAT 16 7.31 0.46 TOTAL 26 10.22 0.39 Keterangan KK= 29.02% Daftar sidik ragam panjang helai daun 8 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 1.29 0.64 0.84tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 2.76 0.35 0.45tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.28 0.14 0.18tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 1.89 0.94 1.24tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 0.59 0.15 0.19tn 3.01 4.77 GALAT 16 12.22 0.76 TOTAL 26 16.27 0.63 Keterangan KK= 25.08% 43 Universitas Sriwijaya Daftar sidik ragam panjang helai daun 12 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 2.94 1.47 2.54tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 7.04 0.88 1.53tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.21 0.10 0.18tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 5.31 2.65 4.60* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 1.53 0.38 0.66tn 3.01 4.77 GALAT 16 9.23 0.58 TOTAL 26 19.21 0.74 Keterangan KK= 19.72% Daftar sidik ragam panjang helai daun 16 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 2.44 1.22 2.35tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 9.43 1.18 2.27tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.29 0.14 0.28tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 7.05 3.52 6.79** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 2.10 0.52 1.01tn 3.01 4.77 GALAT 16 8.31 0.52 TOTAL 26 20.19 0.78 Keterangan KK= 16.67% Daftar sidik ragam panjang helai daun 20 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 2.21 1.10 2.27tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 11.99 1.50 3.08tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 1.12 0.56 1.16tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 8.97 4.48 9.22* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 1.90 0.48 0.98tn 3.01 4.77 GALAT 16 7.77 0.49 TOTAL 26 21.97 0.85 Keterangan KK= 15.75% 44 Universitas Sriwijaya Daftar sidik ragam panjang helai daun 24 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 1.44 0.72 1.65tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 13.20 1.65 3.78tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.01 0.01 0.01tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 9.08 4.54 10.40** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 4.10 1.03 2.35tn 3.01 4.77 GALAT 16 6.98 0.44 TOTAL 26 21.62 0.83 Keterangan KK= 14.58% Daftar sidik ragam panjang helai daun 28 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.38 0.19 0.26tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 21.03 2.63 3.64tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.56 0.28 0.39tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 15.57 7.79 10.78** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 4.89 1.22 1.69tn 3.01 4.77 GALAT 16 11.56 0.72 TOTAL 26 32.97 1.27 Keterangan KK= 22.57% Daftar sidik ragam panjang helai daun 32 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.37 0.18 0.25tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 20.49 2.56 3.49tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.27 0.13 0.18tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 14.94 7.47 10.17** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 5.28 1.32 1.80tn 3.01 4.77 GALAT 16 11.76 0.74 TOTAL 26 32.62 1.25 KK= 22.12% 45 Universitas Sriwijaya Lampiran 7. Perhitungan analisis ragam lebar helai daun hari ke 4 sampai dengan 32 setelah pindah tanam. Daftar sidik ragam lebar helai daun 4 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 1.11 0.55 3.54tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 0.65 0.08 0.52tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.03 0.02 0.10tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 0.07 0.03 0.22tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 0.54 0.14 0.87tn 3.01 4.77 GALAT 16 2.50 0.16 TOTAL 26 4.26 0.16 Keterangan KK= 26.44% Daftar sidik ragam lebar helai daun 8 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.71 0.36 1.39tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 2.09 0.26 1.01tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.09 0.05 0.18tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 1.28 0.64 2.49tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 0.71 0.18 0.69tn 3.01 4.77 GALAT 16 4.11 0.26 TOTAL 26 6.91 0.27 Keterangan KK= 23.45% Daftar sidik ragam lebar helai daun 12 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.95 0.47 1.42tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 3.41 0.43 1.28tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.19 0.10 0.29tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 2.14 1.07 3.20tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 1.07 0.27 0.81tn 3.01 4.77 GALAT 16 5.34 0.33 TOTAL 26 9.69 0.37 Keterangan KK= 24.33% 46 Universitas Sriwijaya Daftar sidik ragam lebar helai daun 16 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 1.13 0.56 2.03tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 3.25 0.41 1.46tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.40 0.20 0.72tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 2.23 1.11 4.00* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 0.62 0.15 0.55tn 3.01 4.77 GALAT 16 4.45 0.28 TOTAL 26 8.83 0.34 Keterangan KK= 19.83% Daftar sidik ragam lebar helai daun 20 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 5.98 2.99 1.76tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 20.42 2.55 1.51tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 5.13 2.57 1.51tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 9.31 4.65 2.75* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 5.98 1.50 0.88tn 3.01 4.77 GALAT 16 27.12 1.70 TOTAL 26 53.52 2.06 Keterangan KK= 11.81% Daftar sidik ragam lebar helai daun 24 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.70 0.35 0.95tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 2.34 0.29 0.79tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.63 0.31 0.85tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 0.67 0.33 0.90tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 1.05 0.26 0.71tn 3.01 4.77 GALAT 16 5.90 0.37 TOTAL 26 8.94 0.34 Keterangan KK= 20.85% 47 Universitas Sriwijaya Daftar sidik ragam lebar helai daun 28 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.65 0.32 0.74tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 5.16 0.64 1.48tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.69 0.35 0.79tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 2.53 1.26 2.89tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 1.93 0.48 1.11tn 3.01 4.77 GALAT 16 6.99 0.44 TOTAL 26 12.79 0.49 Keterangan KK= 29.44% Daftar sidik ragam lebar helai daun 32 hari setelah pindah tanam SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.51 0.25 0.51tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 5.70 0.71 1.44tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.79 0.39 0.80tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 3.23 1.61 3.26tn 3.63 6.22 INTERAKSI 4 1.69 0.42 0.85tn 3.01 4.77 GALAT 16 7.91 0.49 TOTAL 26 14.13 0.54 Keterangan KK= 30.66% Lampiran 8. Perhitungan analisis ragam Berat segar tajuk, Berat kering Tajuk, Berat kering Akar, dan Kandungan zat hijau daun (SPAD). Berat Segar Tajuk SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.24 0.12 0.10tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 20.38 2.55 2.00tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.50 0.25 0.20tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 16.17 8.09 6.34** 3.63 6.22 INTERAKSI 4 3.71 0.93 0.73tn 3.01 4.77 GALAT 16 20.39 1.27 TOTAL 26 41.02 1.58 48 Universitas Sriwijaya Berat Kering Tajuk SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.13 0.07 0.26tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 4.17 0.52 2.05tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.24 0.12 0.47tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 2.93 1.46 5.75* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 1.01 0.25 0.99tn 3.01 4.77 GALAT 16 4.07 0.25 TOTAL 26 8.38 0.32 Keterangan KK= 65.91% Berat Kering Akar SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 0.04 0.02 0.12tn 3.63 6.22 KOMBINASI 8 2.00 0.25 1.66tn 2.59 3.89 VARIETAS 2 0.23 0.12 0.77tn 3.63 6.22 WATER LEVEL 2 1.50 0.75 5.01* 3.63 6.22 INTERAKSI 4 0.26 0.07 0.44tn 3.01 4.77 GALAT 16 2.40 0.15 TOTAL 26 4.43 0.17 SPAD SK DB JK KT F HITUNG F TABEL 0.05 0.01 KELOMPOK 2 123.43 61.72 4.14 3.63* 6.22 KOMBINASI 8 74.81 9.35 0.63 2.59tn 3.89 VARIETAS 2 0.43 0.21 0.01 3.63tn 6.22 WATER LEVEL 2 56.88 28.44 1.91 3.63tn 6.22 INTERAKSI 4 17.50 4.38 0.29 3.01tn 4.77 GALAT 16 238.54 14.91 TOTAL 26 436.79 16.80 Keterangan KK= 12.95% keterangan tn = tidak nyata * = berbeda nyata ** = berbeda sangat nyata 49 Universitas Sriwijaya Lampiran 9. Deskripsi Varietas Deskripsi sawi mansi varietas Tosakan Nama lain : Caisim (Bangkok) Umur tanaman : 30 hari Bentuk tanaman : Besar, semi buka dan tegak Batang : Tumbuh memanjang Tangkai bunga : Panjang dan langsing Warna tangkai bunga : Hijau tua Bentuk daun : Lebar, panjang Warna daun : Hijau Potensi produksi : 150-200 g/ tanaman Sumber : PT. East West Seed Indonesia, Purwokerto Deskripsi sawi mansi varietas Sri Tanjung Nama lain : Caisim (Bangkok) Umur tanaman : 30 hari Batang : Tumbuh tegak Bentuk daun : Panjang Warna daun : Hijau Rasa : Manis dan tidak berserat Ketahanan : Toleran terhadap layu dan penyakit akar Keseragaman : Tinggi Potensi produksi : 150-175 g/ tanaman Sumber : PT. Prabu Agro Mandiri, Purwakarta, Jawa Barat Deskripsi sawi mansi varietas Sesae Nama lain : Caisim (Bangkok) Umur tanaman : 22-30 hari Batang : Tumbuh tegak dan lambat berbunga Bentuk daun : Panjang Warna daun : Hijau Rasa : Manis tanpa berserat Ketahanan : Toleran terhadap layu dan penyakit akar Keseragaman : Tinggi Potensi produksi : 150-175 g/ tanaman Sumber : CV. Aditya Sentana Agro, Malang

Kamis, 28 Januari 2016

Serangga Predator Aphis Gossypii di Ekosistem Tanaman Sayuran

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri                                                         Tanggal : 26 Februari 2015
NIM : 05121407020                                                               Asisten    :   1. Aji Artanto
Kelas : Palembang                                                                                    2. Anita Sari
Judul : Serangga Predator Aphis Gossypii di Ekosistem                             3. Lilian Riskie
 Tanaman Sayuran                                                                                  4. Linda Sari
                                                                                                                      5. Rezalina Indra P
                                                                                                                     6. Windy Lumban G
                                                                                                                     7. Andri Purniawan
                                                                                                                      8. Pebrianta Tarigan              
                                                                                                              Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Ekosistem alami dan ekosistem pertanian merupakan tempat hidup komunitas serangga yang terdiri dari banyak jenis serangga dan masing-masing jenis memperlihatkan sifat populasinya sendiri tidak semua jenis serangga dalam agro ekosistem merupakan serangga yang berbahaya atau merupakan hama malahan sebagian besar jenis serangga yang bukan hama dapat berupa musuh alami hama.
       Keberadaan  serangga predator pemangsa kutu daun Aphis gossypii diseuatu agrosistem pertanian layak diperhatikan, karena predator merupakan agens pengendali hayati yang keberadaanya dapat menekan populasi Aphis gossypii. untuk mempertahankan keberadaan predator tersebut diperlukan informasi mengenai spesies-spesies serangga predator yang memangsa Aphis gossypii. informasi predator atau musuh alami tersebut hendaknya dapat diterima oleh petani, sehingga petani akan mengetahuinya dan dapat mengupayakan agar keberadaanya tetap terjaga di agroekosistem pertanaman sayuran mereka.
           Peran musuh alami adalah setral dalam pengendalian hayati. Oleh karena itu sangatlah penting diketahui apakah musuh alami yang ada baik asli maupun eksotik, betul-betul efektif dalam penekanan populasi hama yang ada. Setiap spesies serangga termasuk serangga hama sebagai bagian dari komples yang dapat diserang atau menyerang organisme lain bagi serangga yang diserang organisme penyerang kemudian disebut musuh alami hampir semua kelompok organisme dapat berfungsi sebagai musuh alami serangga hama termasuk binatang vetebrata, nematoda, organisme mikro, invetebrata di luar serangga. Kelompok musuh alami yang paling penting adalah golongan serangga sendiri, dilihat dari fungsinya musuh alami dapat dikelompokan menjadi parasitoid, predator, dan pathogen.

B. Tujuan
            Praktikum pengendalian hayati hama tumbuhan tentang serangga predator Aphis gossypii diekosistem tanaman sayuran bertujuan untuk :
1. mahasiswa mampu menyebut spesies serangga predator diekosistem sayuran,
2.mahasiswa mampu mendeskripsikan cirri-ciri morfologi serangga predator diekosistem sayuran,
3.mahasiswa mampu menjelaskan keanekaragaman dan kelimpahan serangga predator.













II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
           Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul Serangga predator Aphis gossypii diekosistem tanaman sayuran dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2015 dilaboratorium Insectarium Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
               Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah Mikroskop, Kumbang koksi predator dan Kumbang koksi hama

C. Cara Kerja
                 Adapun cara kerja dari praktikum predator Aphis gossypii pada ekosistem Tanaman Sayuran  yaitu sebagai berikut :

1. Amati kumbang koksi hama dan predator
2. Tulis Karakteristik dari  kumbang koksi predator dan hama serta perbedaannya











III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
      Adapun hasil yang didapatkan setelah dilakukan pengamatan adalah sebagai berikut:

Klasifikasi Foto Keterangan
¬¬
Kingdom : Animalia
Filum           : Anthropoda
Kelas            : Insekta
Ordo            : Coleoptera
Famili : Coccinellidae
Genus : Coccinella
Spesies : Coccinella
                       Transversalis
Predator
Karakteristik :
Bersifat entomofag,
  memakan kutu daun
Betina bertelur pada
  permukaan daun
  bagian bawah
  sebanyak 20-50 butir.

Ciri-ciri:
bentuknya oval
  mendekati bulat
  dengan garis zigzag
  hitam
Antena pendek 3-6
  ruas
berwarna merah cerah dan permukaan licin
larvanya berwarna
  Hitam
¬¬
Kingdom : Animalia
Filum : Anthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Coleoptera
Famili : Coccinellidae
Genus : Henosepilachna
Spesies     : Henosepilachna
 Sparsa
Hama
Karakteristik:
Larva dan imago
  hidup di permukaan
  daun dan makan
  jaringan daun
Bersifat fitofag
  (daun sayuran)

Ciri-ciri :
bentuh tubuh oval
warna merah
  kekuningan dengan
  bintik-bintik hitam
larva berwarna
  kuning dan tubuh
  dilapisi duri-duri

B. Pembahasan
           Pada praktikum ini menggunakan dua jenis kumbang koksi yaitu pradator dan hama. Kumbang koksi adalah salah satu hewan kecil anggota ordo Coleoptera. Famili Coccinellidae Mereka mudah dikenali karena penampilannya yang bundar kecil dan punggungnya yang berwarna-warni serta pada beberapa jenis berbintik- bintik. Serangga ini dikenal sebagai sahabat petani, karena beberapa anggotanya memangsa serangga-serangga hama seperti species aphids termasuk kutu putih jeruk, citrus mealybug (Planococcus citri) dan kutu perisai, telur dan larva adalah makanan kesukaan baik dewasa maupun larva.
            Ada beberapa spesies koksi yang juga memakan daun sehingga menjadi hama tanaman, yaitu dari Sub Famili Epilachninae, hama ini pemakan daun seperti daun Terong, Semangka, Parea, labu dan waloh. Penampilan Famili Coccinellidae yang cukup khas sehingga mudah dibedakan dari serangga lainnya. Tubuhnya berbentuk nyaris bundar dengan sepasang sayap keras di punggungnya. Sayap keras di punggungnya berwarna-warni, namun umumnya berwarna mencolok ditambah dengan pola seperti totol-totol. Sayap keras yang berwarna-warni itu sebenarnya adalah sayap elitra atau sayap depannya. Sayap belakangnya berwarna transparan dan biasanya dilipat di bawah sayap depan jika sedang tidak dipakai. Saat terbang, ia mengepakkan sayap belakangnya secara cepat, sementara sayap depannya yang kaku tidak bisa mengepak dan direntangkan untuk menambah daya angkat. Sayap depannya yang keras juga bisa berfungsi seperti perisai pelindung.
       Kumbang koksi memiliki penampilan yang cukup khas sehingga mudah dibedakan dari seranggalainnya. Tubuhnya berbentuk nyaris bundar dengan sepasang sayap keras di punggungnya. Sayap keras di punggungnya berwarna-warni, namun umumnya berwarna mencolok ditambah dengan pola seperti totol-totol. Sayap keras yang berwarna-warni itu sebenarnya adalah sayap elitra atau sayap depannya. Sayap belakangnya berwarna transparan dan biasanya dilipat di bawah sayap depan jika sedang tidak dipakai. Saat terbang, ia mengepakkan sayap belakangnya secara cepat, sementara sayap depannya yang kaku tidak bisa mengepak dan direntangkan untuk menambah daya angkat. Sayap depannya yang keras juga bisa berfungsi seperti perisai pelindung.
           Kumbang koksi memiliki kaki yang pendek serta kepala yang terlihat membungkuk ke bawah. Posisi kepala seperti ini membantunya saat makan hewan-hewan kecil seperti kutu daun. Di kakinya terdapat rambut-rambut halus berukuran mikroskopis (hanya bisa dilihat dengan mikroskop) yang ujungnya seperti sendok. Rambut ini menghasilkan bahan berminyak yang lengket sehingga koksi bisa berjalan dan menempel di tempat-tempat sulit seperti di kaca atau di langit-langit.
          Mayoritas dari koksi adalah karnivora yang memakan hewan-hewan kecil penghisap tanaman semisal kutu daun (afid). Larva dan kepik dewasa dari spesies yang sama biasanya memakan makanan yang sama. Kepik makan dengan cara menghisap cairan tubuh mangsanya. Di kepalanya terdapat sepasang rahang bawah (mandibula) untuk membantunya memegang mangsa saat makan. Ia lalu menusuk tubuh mangsanya dengan tabung khusus di mulutnya untuk menyuntikkan enzim pencerna ke tubuh mangsanya, lalu menghisap jaringan tubuh mangsanya yang sudah berbentuk cair. Seekor kepik diketahui bisa menghabiskan 1.000 ekor kutu daun sepanjang hidupnya.
          Beberapa jenis kepik semisal koksi Jepang dan koksi dari spesies Epilachna admirabilis diketahui sebagai herbivora karena memakan daun. Koksi tersebut biasanya meninggalkan jejak yang khas pada daun bekas makanannya karena mereka tidak memakan urat daunnya. Seperti kebanyakan serangga dan hewan, kepik koksi di wilayah empat musim juga melakukan hibernasi (tidur panjang di musim dingin).
             Koksi biasanya berkumpul dalam jumlah besar di tempat-tempat seperti di bawah balok kayu, kulit batang, atau timbunan daun saat berhibernasi. Selama periode tidur panjang itu, mereka bertahan dengan memanfaatkan persediaan makanan di tubuhnya.
             Hewan-hewan yang memangsa koksi umumnya adalah hewan-hewan pemangsa serangga seperti burung dan laba-laba. Koksi memiliki cara unik dalam mempertahankan diri. Bila merasa terancam bahaya, ia akan berpura-pura mati dengan cara membalikkan tubuhnya dan menarik kakinya ke dalam. Sebagai mekanisme perlindungan lebih lanjut, ia akan mengeluarkan cairan berwarna kuning dari persendian kakinya. Cairan ini memiliki bau dan rasa yang tidak enak sehingga jika berhasil, pemangsanya tidak jadi memakannya karena tidak tahan dengan cairan tersebut.
            Pada koksi pemakan daun, betina yang baru bertelur di suatu tanaman akan meninggalkan pola gigitan pada daun agar tidak ada betina lain yang bertelur di tanaman yang sama. Di wilayah empat musim, jika koksi betina tidak berhasil menemukan tanaman yang cocok hingga menjelang musim dingin, maka koksi betina akan menunda pelepasan telurnya hingga musim dingin usai.
              Koksi sebagai anggota dari ordo Coleoptera (kumbang) mengalami metamorfosis sempurna: telur,larva, kepompong, dan dewasa. Telur kepik berbentuk lonjong dan berwarna kuning. Telur-telur ini biasanya menetas sekitar seminggu setelah pertama kali dikeluarkan. Larva koksi umumnya memiliki penampilan bertubuh panjang, diselubungi bulu, dan berkaki enam. Larva ini hidup dengan makan sesuai makanan induknya dan ketika mereka bertumbuh semakin besar, mereka melakukan pergantian kulit.
          Larva yang sudah sampai hingga ukuran tertentu kemudian akan berhenti makan dan memasuki fase kepompong pada usia dua minggu sejak pertama kali menetas. Kepompong ini biasanya menempel pada benda-benda seperti daun atau ranting dan berwarna kuning dan hitam. Koksi dewasa selanjutnya akan keluar dari kepompong setelah sekitar satu minggu. Sayap depan koksi yang baru keluar masih rapuh dan berwarna kuning pucat sehingga ia akan berdiam diri sejenak untuk mengeraskan sayapnya sebelum mulai berakivitas
               Koksi juga dikenal sebagai salah satu pembasmi hama ramah lingkungan. Sekitar abad ke-19, perkebunan buah di wilayah Asia dan Amerika Serikat diserang oleh hama serangga yang dikenal sebagai sisik bantal kapuk(Icerya purchasi) dan sempat menyebabkan kerugian besar. Hama itu sebenarnya adalah sejenis kutu daun yang hidup dengan menghisap sari tanaman dan membentuk semacam lapisan bersisik di sekitarnya untuk melindungi dirinya. Hewan itu terbawa tanpa sengaja dari Australia hingga sampai di wilayah perkebunan di benua lain.












IV. PENUTUP
A. Kesimpulan

1.  kumbang koksi adalah salah satu hewan kecil anggota ordo Coleoptera.
2. kumbang koksi predator memiliki Ciri-ciri: bentuknya oval, mendekati bulat dengan garis zigzag hitam, antena pendek 3-6 ruas berwarna merah cerah dan permukaan licin, dan larvanya berwarna hitam.
3. kumbang koksi predator Ciri-ciri : bentuh tubuh oval, warna merah kekuningan  dengan bintik-bintik hitam, larva berwarna kuning dan tubuh dilapisi duri-duri.
4. kumbang koksi predator adalah karnivora yang memakan hewan-hewan kecil  semisal kutu daun.
5. kumbang koksi hama merupakan pemakan daun seperti daun Terong, Semangka, Parea, labu, waloh dan lain-lain.

B. Saran
Pada praktikum serangga predator Aphis gossypii diekosistem tanaman sayuran ini  hendaknya dilaksanakan dengan teliti srta memahami terlebih dahulu perbedaan antara kumbang koksi predator dan kumbang koksi hama supaya memudahkan dalam pengamatan.

Rabu, 11 November 2015

Perbanyakan Jamur Antagonis di Media Padat (GYA)

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGENDALIAN HAYATI DAN PENGELOLAAN HABITAT

Nama : Khayatu Khoiri       Tanggal : 9 April 2015
NIM : 05121407020  Asisten    :  1. Aji Artanto
Kelas : Palembang          2. Anita Sari
Judul : Perbanyakan Jamur Antagonis di Media          3. Lilian Riskie
 Padat (GYA)            4. Linda Sari
          5. Rezalina Indra P
          6. Windy Lumban G
          7. Andri Purniawan
          8. Pebrianta Tarigan              
    Nilai  :


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanaman ada yang sehat, layu hingga menjadi mati. Ini menjadi persoalan bagi petani, matinya tanaman jelas tidak akan menghasilkan, dampaknya si petani merugi. Waktu, tenaga dan fikiran yang dicurahkan untuk kegiatan bertani habis percuma ketika tanaman mati.
Bagi petani yang mau berfikir tentang masalah itu pasti akan mencari akar permasalahan kenapa tanaman layu, hingga menjadi mati. Petani kreatif selalu bertanya kepada para ahli penyakit tanaman, bahwa tanaman yang layu salah satu penyebabnya jamur yang mematikan tanaman.
Tanah merupakan habitat berbagai mikroorganisme seperti dari golongan jamur, serangga, nematoda, bakteri, dan banyak mikroorganisme lain. Jamur termasuk golongan yang cukup dominan di dalam tanah, baik perananya sebagai patogen tanaman, dekomposer, bahkan sebagai agen pengendali hayati. Jamur di dalam tanah yang berperan sebagai agen pengendali hayati dapat diisolasi agar diperoleh isolat murni. Jamur agen hayati tular tanah dikelompokkan sebagai jamur patogen serangga (entomopatogen) dan antagonis. Penentuan sampel tanah sangat penting dalam keberhasilan mendapatkan jamur pengendali hayati. Setiap jamur agen hayati memiliki kekhasan jenis, struktur, dan komposisi tanah sebagai habitatnya.
Jamur antagonis adalah kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman. Mekanisme jamur antagonis dalam menghambat patogen tanaman dapat melalui antibiosis, lisis, kompetisi, dan parasitisme. Di samping itu, jamur antagonis mampu mencegah infeksi patogen terhadap tanaman melalui aktivitas Induce Sistemic Resistance (ISR).
Eksplorasi merupakan langkah awal untuk mendapatkan antagonis yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menentukan waktu, tempat, metode, serta penanganan sampel hasil eksplorasi. Selanjutnya, jamur antagonis hasil eksplorasi perlu diuji di laboratorium (in vitro), rumah kasa (in planta), dan di lapangan (in situ). Jamur antagonis yang terpilih sebaiknya memilki sifat: dapat menghambat pertumbuhan patogen tanaman, berkecambah dan tumbuh dengan cepat, tahan atau toleran terhadap antagonis lain, persisten dalam keadaan ekstrim, dapat diproduksi secara massal, dan tidak menyebabkan gangguan terhadap tanaman.
Beberapa jamur antagonis mampu tumbuh pada bahan tanaman yang telah lapuk, bahan tanaman sakit, bahkan dapat tumbuh pada badan buah patogen tanaman tertentu. Jamur antagonis yang paling sering tumbuh pada kondisi seperti ini adalh genus trichoderma. Antagonis ini biasanya ditandai dengan tumbuhnya koloni berwarna hijau pada media tempat tumbuhnya. Koloni jamur yang diduga sebagai antagonis ini diisolasi di laboratorium dengan menanamkannya pada media Dextrose Agar (PDA) dan diinkubasikan selama 3-5 hari. Koloni yang tumbuh diidentifikasi secara makroskopis dengan mengamati tipe dan warna koloni, dan secara mikroskopis dengan mengamati struktur hifa, bentuk dan ukuran pialid dan konidia.

B. Tujuan
Praktikum bertujuan untuk mendapatkan biakan murni jamur antagonis dimedia padat GYA.

II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pengendalian Hayati dan Pengelolaan Habitat dengan judul Perbanyakan Jamur Antagonis dimedia padat (GYA) dilaksanakan pada tanggal 09 April 2015 pukul 10:00 WIB sampai dengan selesai, dilaboratorium Fitopatologi Jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Siwijaya.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum adalah LAF, cawan petri, pinset, Bunsen, isolasi, dan baiklin, sedangkan bahan yang digunakan adalah 20 gram gula, 10 gram yearst, 1 bungkus agar, 1 liter air seteril ( Aquades).

C. Cara Kerja
1. siapkan biakan jamur antagonis
2. masukan kedalam cawan petri, setelah media padat siap lalu lakukan perbanyakan jamur antagonis.
3. perbanyakan jamur antagonis dilakukan di laminar air flow serta hidupkan Bunsen untuk menseterilisasi alat yang digunakan.
4. buka secara perlahan tutup cawan petri media padat kemudian putar-putar dibelakang Bunsen dan ambil sedikit biakan jamur antagonis dengan pinset, lalu masukan kedalam cawan petri yang berisi media padat lalu putar-putar kembali dibelakang Bunsen.
5. kemudian cawan petri diisolasi , lalu diberi label nama praktikan.




III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
GAMBAR KETERANGAN

jamur yang dibiakan adalah jamur yang bersifat antagonis
komposisi media yang digunakan adalah 20 g gula dan 10 g yeart, agar dan aquadest
perbanyakan jamur dilaksanakan dilaminar air flow
kesterilisasian adalah aspek utama dalam perbanyakan jamur antagonis ini
dari hasil yang didapatkan perbanyakan jamur tidak berhasil, karena media terkontaminasi dan di penuhi oleh air yang diakibatkan ditutup dengan plastik.







B. Pembahasan
Pada praktikum pengelolaan hayati dengan judul perbanyakan jamur antagonis dimedia padat PDA didapatkan bahwasanya perbanyakan jamur antogonis tidak berhasil hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan dari proses isolasi dan tempat penyimpanannya, yang diketahui bahwasanya setelah dilakukan pengamatan jamur ang berada di media padat tersebut dikumpulkan menjadi satu dalam sekelas, kemudian ditutup menggunakan plastic sehingga keadaan nya mengguap dan terdapat air didalam cawan petri tersebut sehingga perbanyakan jamur antagonis tidak berhasil.
Jamur antagonis merupakan kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman. Mekanisme jamur antagonis dalam menghambat patogen tanaman dapat melalui antibiosis, lisis, kompetisi, dan parasitisme. Di samping itu, jamur antagonis mampu mencegah infeksi patogen terhadap tanaman melalui aktivitas Induce Sistemic Resistance (ISR).
Eksplorasi merupakan langkah awal untuk mendapatkan antagonis yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menentukan waktu, tempat, metode, serta penanganan sampel hasil eksplorasi. Selanjutnya, jamur antagonis hasil eksplorasi perlu diuji di laboratorium. Jamur antagonis yang terpilih sebaiknya memilki sifat dapat menghambat pertumbuhan patogen tanaman, berkecambah dan tumbuh dengan cepat, tahan atau toleran terhadap antagonis lain, persisten dalam keadaan ekstrim, dapat diproduksi secara massal, dan tidak menyebabkan gangguan terhadap tanaman.
Dalam proses perbanyakan jamur antagonis dimedia padat menggunakan bahan yaitu 20 gram gula, 10 gram yearst, 1 bungkus agar, 1 liter air seteril ( Aquades), proses perbanyakan jamur antagonis dilakukan didalam Laminar air flow agar jamur yang didapatkan tidak terkontaminasi, didalam laminar air flow proses perbanyakan dibantu dengan menggunakan Bunsen yang digunakan untuk mensterilisasikan alat alat yang akan digunakan seperti cawan petri, pinset, proses pensterilisasian dilakukan dibelakang Bunsen.

IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dalam praktikum perbanyakan jamur antogonis dimedia padat adalah sebagai berikut ini :
1. Jamur antagonis merupakan kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman.
2. perbanyakan jamur dilaksanakan didalam laminar air flow.
3. kesterilisasian adalah aspek utama dalam perbanyakan jamur antagonis.
4. perbanyakan jamur antagonis dimedia padat tidak berhasil yang diakibatkan terkontaminasi
5. ciri perbanyakan jamur Antagonis yang baguas adalah berwarna coklat kehitaman.

B. Saran
Saran dalam mengikuti praktikum hendaknya dilakukan dengan teliti dan menjaga kesterilisasian alat dan bahan serta lingkungan supaya dalam proses perbanyakan jamur antagonis dimedia padat dapat berhasil.